Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Berhenti berharap


__ADS_3

Setelah balik dari ruangan Daniel, kini Nathan tengah berada diatas roftop rumah sakit. Membiarkan angin menerpah wajahnya yang tampan.


Memejamkan mata seraya memikirkan sesuatu membuat hati Nathan ingin sekali berteriak saat ini juga.


Roftop menjadi tempat kesukaannya saat dia mempunyai masalah.


Huft


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Nathan.Rasanya sangat letih sekali saat mendapatkan kabar dari Lea, jika Valen hilang.


Pikiran Nathan langsung terarah pada sosok Rifal. Dia saja bukan siapa-siapanya Valen merasakan sakit ini.


Bagaiamana dengan Rifal?


Nathan mengacak rambutnya sendiir. Dia tau, jika Rifal dan Valen sangat menunggu kelahiran anak pertama mereka.


''Valen!''


teriak Nathan tanpa terkendali. Air matanya keluar dari pelupuk mata, dia tidak bisa menahan agar air mata itu tidak turun.


''Kebahagian lo baru, di mulai, Len. Kenapa lo harus hilang!?''


Air mata Nathan yang sedari tadi tertahan keluar, jika dia bisa sesakit ini kehilangan Valen, maka Rifal jauh lebih sakit kehilangan orang yang dia cintai bersama calon anaknya.


''LO NGGAK KASIHAN SAMA RIFAL, LEN. KALAU DIA SADAR LO NGGAK ADA DI SAMPINGNYA!!!''


Teriaknya diatas roftop.


‘’Meskipun gue suka sama lo, tapi gue nggak bakalan rusak rumah tangga lo, Len. Karna gue lihat lo bahagia sama Rifal!''


Wajah Nathan merah padam, sungguh rasa sakit ini tidak ada apa-apa baginya, jika di bandingkan dengan Rifal.


Kehilangan istri sekaligus anak.


''Kembali, Len. Bahagia lo ada di Rifal, jadi lo harus kembali!''


''Kasihan suami lo!''


''Kasihan dia kehilangan lo sama anak dalam kandungan lo, Len!''


''Kembali, Len!''


Nathan memejamkan matanya, seraya mengusap air mata yang masih turun begitu saja.


''Gue sakit kehilangan lo, Len. Tapi sakit ini nggak sebanding dengan rasa sakit yang bakalan Rifal rasakan, kalau lo belum ketemu!''


''Kembali Valen, kembali dalam pelukan Rifal!''


Tenggerokanya sudah sedikit kering, Nathan mengakhiri teriaknya. Setidaknya dia sedikit legah karna mampu melampiaskan semuanya tanpa orang ketahui.

__ADS_1


''Minum dulu.''


Deg


Suara dari arah belakang membuat jantung Nathan semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Dia pikir, hanya dia saja yang di atas roftop ini. Namun ternyata dia salah karna suara seseorang dari belakang membuat Nathan tersadar, jika bukan hanya dia saja di sini.


Nathan membalikkan badanya, dia sudah tidak asing dengan wajah di hadapnya.


Dia masih menyodorkan air mineral yang dingin itu kepada Nathan, belum Nathan ambil juga.


Nathan melirik air mineral itu, lalu menatap wajah di hadapanya.


Dia cengengesan kearah Nathan.


‘’Air mineral yang dingin, cocok untuk tenggerokan dokter Nathan yang hampir kering, karna berteriak.''


Nathan lagi-lagi terdiam.


Keringan bercucuran di pelipisnya, padahal angin sedikit kencang tapi mengapa keringat bercucuran di pelipisnya?


Apa mungkin karna kecapean berteriak?


‘’Ayok ambil,'' perintah gadis itu, karna Nathan belum juga mengambil air yang dia berikan.


Nathan mengambil air itu tanpa mengalihkan pandangan matanya di hadapan gadis di depannya.


Nathan membuka tutup air yang di berikan Lea.


''Lea nggak sengaja dengar semua yang dokter Nathan ucapkan barusan.''


Nathan tidak membalas perkataan Lea, karna sedang meminum air mineral yang sanga pas untuk tenggerokanya saat ini juga.


Nathan sudah meminum air tersebut hingga tandas. Lalu kembali bertatapan dengan Lea.


Wajah Nathan masih sama, yaitu wajah lelah.


Lea tersenyum manis kepada dokter Nathan, tanpa menampakkan giginya yang putih.


‘’Ternyata cinta dokter Nathan untuk dokter Valen terlalu dalam,'' ucap gadis itu masih dengan senyuman melekat di bibirnya.


‘’Meskipun dokter Nathan udah tau, dokter Valen udah punya suami. Dokter Nathan tetap memikirkan dokter Nathan, menunggu hingga akhir.''


''Apa yang dokter Nathan lakukan, itu yang sekarang Lea rasakan.''


''Tetap menunggu dokter Nathan, meskipun Lea sangat tau, jika Lea bukan yang dokter Nathan inginkan.''


Rambut Lea di terbangkan angin diatas roftop yang sedikit kencang. Mereka berdua saling beradu mata.

__ADS_1


Lea mengusap air matanya yang keluar dari pelupuk matanya.


‘’Lea yang terlalu lancang menyukai pria dewasa seperti dokter Nathan. Sementara Lea masih gadis 19 tahun, tentu jauh dari kata tipe dokter Nathan.''


''Maafin perasaan, Lea.''


Nathan masih menatap lekat Lea, tanpa membalas perkataan gadis di depanya.


‘’Tapi Lea salut kok, karna akhirnya dokter Nathan mau berhenti untuk mencintai seseorang yang sudah memiliki pasangan. Meskipun semuanya tidak mudah.''


‘’Hal yang sama yang bakalan Lea lakuin, yaitu mundur. Kalau dokter Nathan udah punya pendamping.''


''Sebesar apapun rasa suka Lea ke dokter Nathan, tapi Lea masih punya hati untuk tidak menganggu punya orang.''


Perkataan Lea hanya untuk dirinya, namun membuat Nathan merasakan apa yang di katakan Lea. Karna selama ini, dia selalu menunggu Valen, bahkan menunggu wanita itu pisah dengan suaminya.


Kenapa kesadaran ini baru datang sekarang?


Lea mendongakkan sedikit kepalanya untuk mempertahankan tatapan dengan Nathan. Karna dia sadar, tingginya dengan dokter Nathan tidak sama.


''Lea pernah bilang, kalau Lea nggak bakalan ganggu dan ngejar cinta dokter Nathan kalau dokter Nathan udah nikah.'' Lea masih berbicara. Kali ini pembawaan gadis itu berbicara sangat dewasa, membuat telinga Nathan masih ingin menetap mendengar kelanjutan perkataan Lea.


‘’Tapi….mulai sekarang. Kata-kata itu Lea tarik kembali.''


Jleb


Entah mengapa perkataan Lea mampu membuat jantung Nathan ingin berhenti berdetak. Saat Lea mengatakan ingin menarik kata-katanya.


‘’Lea nggak mau bakalan sampai sama kayak dokter Nathan,'' ujarnya mengusap air matanya yang turun begitu saja tanpa bisa dia hentikan.


‘’Mencintai begitu dalam, sampai lupa batas jika itu milik orang, tidak sepatutnya kita tunggu.''


‘’Lea nggak mau, cinta Lea ke dokter Nathan akan membuat Lea terus berharap suatu saat meskipun dokter Nathan udah punya istri nantinya.''


‘’Hal itu sangat rugi, jika Lea berada pada posisi itu. Hal itu akan benar terjadi, kalau sampai sekarang Lea masih menginginkan hal yang sama sekali orang itu tidak inginkan.''


Pembicaraan Lea yang dewasa mampu membuat hati Nathan berkecamuk.


Mengapa ada Lea, versi dewasa?


Nathan belum mengeluarkan sepatah katapun. Matanya masih bertatapan dengan mata milik Lea.


Sosok gadis yang selalu mengejarnya sejak pertama kali Lea prkatek di rumah sakit ini.


Mulut Nathan kakuh, dia tidak tau harus membalasnya seperti apa.


''Lea tutup sampai di sini perasaan Lea untuk dokter Nathan.''


Deg

__ADS_1


''Kalau rasa sayang Lea kepada dokter Nathan, jangan di tanyakan lagi, tentu jawabanya Lea sangat sayang sama dokter Nathan. Tapi kesadaran diri membuat Lea berhenti.''


__ADS_2