
Sekitar beberapa menit, mobil milik Valen telah sampai di rumah sakit. Perawat datang membawa kursi roda. Valen membantu Rifal keluar dari mobil lalu mengarahkan pria itu untuk duduk di kursi roda.
Valen langsung mendorong kursi roda Rifal untuk segera masuk kedalam rumah sakit.
Kursi roda yang di dorong Valen langsung terhenti saat dia berpapasan dengan dokter Kiki yang mendorong kursi roda Adelia.
Mereka berpapasan, membuat Valen otomatis menghentikan langkah kakinya begitupun dengan dokter Kiki.
Deg
Jantung Valen berdetak kencang saat melihat kondisi Adelia yang sudah jauh dari kata baik-baik saja. Selama sebulan ini dia baru melihat kondisi Adelia.
Perempuan itu sudah tidak mempunyai sehelai rambut lagi. Dokter Kiki melirik Adelia, gadis itu sibuk memperhatikan wajah Rifal.
Adelia memperhatikan lekuk wajah Rifal, pria itu semakin tampan menurut Adelia. Air mata Adelia jatuh kembali. Melihat Rifal membuatnya ingin memeluk Rifal sekali saja.
“Valen, kenapa berhenti?” Heran Rifal.
Valen belum bergeming, dia masih memperhatikan Adelia yang tidak mempunyai rambut lagi.
Wajahnya sangat pucat, bahkan tubunya sangat kurus. Valen baru mengetahui kondisi Adelia separah ini.
“Del,” gumam Valen tertahan melihat kondisi Adelia seperti ini.
Rifal menyeritkan alisnya mendengar Valen menyebut nama Adelia.
“Hiks….Hiks!” Tangisan satu bulan yang lalu yang di dengar oleh Rifal kini di dengar Rifal lagi.
“Kak Rifal!” Adelia sungguh tidak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak berbicara.
Deg
Jantung Rifal berdetak lebih kencang saat mendengar suara gadis di hadapannya memanggilnya.
Rifal langsung merubah raut wajahnya menjadi datar.
“Kak Rifal. Kak Rifal nggak mau lihat Adel lagi? Kak Rifal nggak mau nanyain kabar Adel lagi,” isak gadis itu membuat Valen menitihkan air matanya, dia sangat kasihan dengan kondisi Adelia.
Tanpa sengaja, mereka berdua berpapasan di koridor rumah sakit.
“Apa Adel buat salah sama Kak Rifal?” Tanya gadis itu lagi dengan piluh membuat Valen mengusap air matanya dengan kasar.
“Adel nggak pernah buat salah sama kak Rifal. Bahkan Adel nggak pernah gangguin rumah tangga kak Rifal. Walaupun kak Rifal udah janji tapi Adel tetap sabar ngeikhlasin semuanya,” isak gadis itu lagi.
“Bahkan kak Rifal nggak pernah nanyain kondisi Adel saat ini gimana, apa baik atau nggak,” kata Adelia lagi membuat kedua dokter itu tidak bisa menahan sesak dalam dadanya.
__ADS_1
Dokter kiki mengusap air mata Adelia. “Apa kak Rifal tau…” gadis itu menggantung ucapnya sembari tersenyum pedih.
Dalam kondisi yang lemah, gadis itu masih bisa menangis dan berbicara panjang lebar.
“Hiks….Hiks. Apa kak Rifal tau. Kalau penyakit Adel udah nggak bisa di tangani lagi!” Isaknya membuat Rifal tidak bergeming.
Sementara dokter Valen dan dokter Kiki hanya diam, memberikan ruangan untuk Adelia berbicara.
“Adel kena kanker stadium akhir!”
Deg
Jantung Rifal berdetak kencang, saat Adelia mengatakan jika dia kena penyakit kanker stadium akhir.
Isakan Valen berhasil keluar, itu semua di dengar oleh Rifal suaminya.
“Rambut Adel udah nggak ada lagi Kak. Adel udah botak.”
Lagi dan lagi Rifal terkejut, dia pikir penyakit Adelia hanya lumpuh saja akibat berbaring bertahun-tahunya lamanya di rumah sakit.
Dia tidak tau!
Dia tidak tau, jika gadis itu mempunyai penyakit seserius ini. Dia mengingat di mana gadis itu meminta dirinya untuk menemaninya untuk kemo namun dia menolaknya.
Hening.
Rifal belum mengeluarkan suarany saat Adelia mengajukan permintaan padanya.
“Adel mau kak Rifal peluk Adel untuk terakhir kalinya,” kata Adelia namun belum di jawab oleh Rifal.
Tiga menit berlalu, Rifal belum juga mengiyakan atau menolak keinginan Adelia. Adelia merasakan kepalanya sangat sakit, bahkan penglihatannya sangat buram.
Dokter Kiki yang melihat Adelia langsung pamit pada dokter Valen. “Saya duluan dok, kondisi Adelia sangat buruk,” pamit Dokter Kiki lalu pergi meninggalkan dokter Valen bersama dengan Rifal yang masih berdiam diri.
Mendengar suara kecil Adelia yang tadi kesakitan membuat Rifal menjadi ibah.
“Del,” Rifal tiba-tiba memanggil nama Adel dengan rasa sesal.
“Adel udah dibawa pergi sama dokter Kiki,” kata Valen membuat Rifal di penuhi dengan rasa bersalah.
Apakah dia harus menyesal? Apakah dia harus mengunjungi Adelia?
“Kita keruangan operasi sekarang, dokter Hamka nungguin kita,” kata Valen mendorong kursi roda milik Rifal.
Di tengah-tengah mendorong kursi roda Rifal. Valen melihat dokter Nathan berjalan dengan buru- buru.
__ADS_1
ApakahAdelia sudah tidak bisa di selamatkan?
Valen hanya berbicara dalam hati saat melihat dokter Nathan berjalan dengan buru-buru.
Di depan ruangan operasi, sudah ada dokter Hamka yang menunggu kedatangan Rifal dan juga Valen.
Dokter paruh baya itu, sudah lengkap dengan pakaiannya untuk segera melakukan tindakan operasi. Apakah mata pendonor cocok untuk Rifal atau tidak.
Perawat datang membawa bansal, dokter Hamka dan Valen membantu Rifal memakai baju pasien, lepas itu Rifal di baringkan di bansal.
Valen menggenggam tangan Rifal sebelum pria itu di dorong kedalam ruangan operasi. “Semogah aja mata pendonor itu cocok untuk kamu,” kata Valen menbuat Rifal tersenyum.
Rifal tidak berharap lebih, karna sudah beberapa mata yang di periksa oleh dokter Hamka belum ada yang cocok untuknya.
Dokter Hamka saja sampai heran, baru kali ini dia menangani pasien buta tapi sangat sulit untuk mendapatkan pendonor mata yang cocok untuk Rifal.
Cup
Valen mencium kening Rifal, dia tidak peduli jika bukan hanya dia saja di sini.
“Jangan lupa berdoa,” peringat Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Bansal milik Rifal langsung di dorong masuk keruangan operasi, Valen yang melihat suaminya itu di dorong masuk keruangan operasi hanya merapalkan doa Semogah saja mata untuk Rifal kali ini cocok.
Dokter Hamka langsung melakukan pengecekan mata oleh pasien yang sudah meninggal di samping Rifal, dia memeriksa dengan teliti mata pasien yang meninggal itu.
Lalu itu dia memeriksa mata Rifal dengan teliti, dia juga kesushan. Baru kali ini dia menangani pasien yang buta sangat sulit mendapatkan pendonor mata yang cocok.
Perawat memberikan alat kepada dokter Hamka, perawat satunya melap keringat yang bercucuran di wajah dokter Hamka.
Hening.
Di dalam ruangan operasi sangat hening, bahkan dokter Hamka berkeringat memeriksa mata Rifal membandingkan apakah mata pasien yang meninggal itu cocok untuknya atau tidak.
Huft
Dokter hamka mengembuskan nafas berat. Ini pendonor mata yang kesekian kalinya namun tidak ada yang cocok.
Yah,mata untuk Rifal kali ini tidak cocok menbuat dokter Hamka berpikir mata seperti apa yang cocok untuk Rifal.
Dokter Hamka keluar dari ruangan operasi lalu Valen berdiri dari tempat duduknya, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk memeriksa saja.
“Bagaimana dok?”
“Matanya tidak cocok lagi.”
__ADS_1