
Pagi ini Nathan akan jalan-jalan sehingga dia akan mengambil shift malam bersama Lea di rumah sakit karna tidak masuk pagi ini. Sementara Lea juga begitu. Nathan ingin mengajak Lea untuk ke pantai tadinya namun gadis itu menolak keras.
Dia tidak ingin ke pantai semenjak kejadian yang menimpa Rifal dan Valen di pantai Bali.
Dan pada akhirnya, mereka berdua jalan-jalan di Mall.
Novi mengizinkan anaknya untuk pergi namun dengan satu syarat, jika Nathan harus menjaga anknya dengan baik.
''Kau mau beli apa? Biar aku yang belanjakan.''
Lea menjadi kikuk, kini Nathan mengubah kata 'Saya’ menjadi 'Aku'
''Makanan aja,'' jawab gadis itu sehingga Nathan memberhentikan langkah kakinya yang ingin menuju tempat perbelanjaan pakaian.
''Kalau makanan sudah pasti akan ku belanjakan untukmu,'' Nathan menggelengkan kepalanya. ''Maksud aku, kamu mau beli baju model seperti apa?''
Lea menggelengkan kepalanya. ''Lea nggak mau terima barang seperti baju,'' tolak Lea membuat Nathan menatap gadis itu.
''Tapi kalau cincin mau,'' gumam Nathan membuat Lea cenggengesan seperti biasanya gadis itu lakukan.
''Kata pepatah , kalau di beliin pakaian sama seseorang hubungannya nggak akan lama,'' ujar Lea.
''Dan aku akan mematahkan pepatah itu,'' ucap Nathan menggandeng tangan Lea masuk ke perbelanjaan pakaian di Mall ini.
''Tap—''
''Tidak perlu menolak!'' tegas Nathan masih menggandeng tangan Lea.
Nathan di sambut hangat oleh penjaga tokoh pakaian.
''Pilihkan dres yang cocok untuknya,'' perintah Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh penjaga tokoh pakaian tersebut.
Wanita itu langsung mengajak Lea untuk mencoba pakaian yang mereka rekomendasikan yang sangat cocok untuk tubuhnya yang kecil, pipihnya sedikit tembem dan wajahnya yang manis.
Sudah berbagai macam dres di coba oleh Lea, dia sudah capek mencoba dres mewah atas pilihan wanita yang menjaga tokoh dres di Mall ini.
''Kamu sangat cantik, memakai dres akan membuat mu terlihat dewasa,'' puji karyawan itu melihat Lea keluar menggunakan dres berwarna hitam, dres yang dia kenakan dibawah lutut jadi tidak terlihat ****.
Nathan mengatakan untuk memilihkan Lea dres yang akan membuatnya tampil memukau serta dresnya tidak boleh terlalu pendek.
Jujur saja ini pertama kalinya Lea mencoba dres semewah ini.
Sementara Nathan masih berada di kursi menunggu Lea keluar, dia sibuk mengecek ponselnya menerima pesan dari sesama rekan dokternya.
__ADS_1
Pegawai itu sudah menyuruh Lea untuk keluar, menemui Nathan. Sial sekali, penampilanya berubah 90 persen mengenakan dres seperti ini, serta dia menggunakan sepatu sedikit tinggi.
Lea menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menemui Nathan, dia melihat dari bawa sampai atas penampilanya berubah begitu saja dengan berganti pakaian saja.
Rambutnya masih dia ikat, tidak di rubah oleh pegawai tadi.
Lea mulai berjalan keluar, ''dokter Nathan,'' panggil Lea sehingga Nathan langsung melirik keasal suara.
Jleb....
Nathan melihat Lea begitu cantik meski hanya yang berubah pakain saja, tapi entah mengapa aura gadis itu berubah memakai dres.
“Dia dewasa.” Nathan hanya bisa memuji Lea dalam hati.
Penampilan Lea saat ini dewasa menurut Nathan.
Nathan membeli semua dres yang sudah di coba oleh Lea tadi, dan menyuruh karyawan tersebut untuk mengemasnya dengan cepat.
Tentu saja karyawan tersebut bahagia, karna ada sepuluh dres yang di coba Lea tadi, dan tentunya itu sangat mewah sesuai rekomendasi Nathan, dan tentunya harga dresnya tidak perlu di tanyakan lagi.
''Lea ganti baju dulu,'' ucap Lea yang sudah memutar tubuhnya untuk mengganti pakaianya.
''Tidak usah!'' kilah Nathan dengan cepat.
‘’Lea susah berjalan kalau kayak gini,'' cemberut Lea membuat Nathan tersenyum tipis.
''Tidak ada penolakan, habis dari sini kita ke salon,'' lanjut Nathan membuat Lea melotokan matanya.
''Nggak!'' tolaknya dengan cepat membuat Nathan menaikkan alisnya sebelah atas penolakan Lea.
''Bukanya cewek suka ke salon?'' ucap Nathn lagi.
''Nggak semuanya, termasuk Lea!'' ucap Lea dengan cepat membuat Nathan semakin gencar mengajak Lea untuk ke salon.
''Tidak ada penolakan!''
''Dokter Nathan kenapa sih, Lea nggak mau!'' Lea memanyunkan bibirnya karna Nathan bersikeras mengajaknya ke salon.
''Apa kau tidak sadar, rambut mu sangat lepek dan bau,'' bohong Nathan membuat Lea langsung mencium rambutnya sendiri membuat Nathan menahan tawa.
''Masih wangi, masih ada wangi shampo Sunsilk,'' ucap gadis itu membuat Nathan menggelengkan kepalanya.
''Itu menurutmu, tidak menurutku,'' lanjut Nathan lagi.
__ADS_1
Mereka berdua berdebat hingga pemenangnya adalah Nathan, sehingga Lea mau tidak mau harus ke salon.
Dia baru menyadari, jika ternyata pria yang dia sukai itu cerewet juga.
Mereka saat ini sedang menunggu makanan mereka datang. Lea sudah sangat lapar.
''Dokter Nathan,'' panggil Lea sehingga Nathan yang sedang sibuk dengan ponselnya mendongakkan kepalanya menatap Lea.
''Lea udah lapar,'' ucap gadis itu. ''Kita makan di situ aja, ya,'' pinta Rara menujuk kearah luar.
Diseberang sana ada pedagang kaki lima.
Nathan ingin mengangguk karna melihat wajah memelas Lea, namun pelayan langsung datang membawa makanan sehingga mereka berdua tidak jadi makan di tempat yang di tunjuk oleh Lea tadi.
Pelayan mulai menata makanan yang di pesan oleh Nathan. Tidak tanggung-tanggung Nathan memesan makanan begitu banyak dan tentunya sangat enak.
Lea sudah meneguk salivanya susah payah, setiap dia makan bersama Nathan pria itu selalu memesan banyak makanan untuknya.
''Banyak duit ya,'' ejek Lea.
''Tidak juga,'' balas Nathan.
''Makan yang banyak, habiskan. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan mu makan lagi kalau kita keluar,'' ancam Nathan membuat Lea bergedik ngeri.
Bagaiamana jadinya jika mereka berdua tidak makan.
''Ini kebanyakan dok, nanti Lea bungkus untuk bawa pulang. Lea nggak sanggup kalau mau habisin ini semua makanan,'' ujarnya.
‘’Makanan untuk kau bawa pulang untuk orang di rumah lain. Aku sudah memesannya.''
Lea menjadi cemberut mendengar Nathan mengagakan hal itu. Dia yakin, jika dia menjadi istri Nathan dia akan menjadi gemuk karna makan terlalu banyak.
‘’Dokter Nathan nggak makan?'' tanya Lea karna Nathan hanya sibuk dengan ponselnya.
Lea sudah makan, namun Nathan tak kunjung memakan makanan di hadapnya.
''Saya diet.'' Nathan berkata seraya menatap lekat Lea makan dengan lahap.
‘’Jadi semua makanan ini untuk Lea?'' tanya Lea memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
''Nanti Lea gendut, kalau makan ini semuanya. Sementara dokter Nathan malah diet. Ng—''
''Nggak baik mengomel di depan makanan,'' potong Nathan tanpa mengalihkan pandanganya dari Lea.
__ADS_1
Perkataan Nathan membuat Lea terdiam, dia melanjutkan makanya sementara Nathan sibuk menatap dirinya.
Senyuman hangat terukir di bibir Nathan,