Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Revan


__ADS_3

Huft


Terdengar hembusan nafas berat berulang kali Kayla keluarkan. saat ini dia sedang berada di balkon kamar seraya menatap pemandangan di hadapnya.


Setiap hari dia merindukan Elga.


''El, gue rindu.''


Air mata lolos di pelupuk mata Kayla, dia sangat merindukan suaminya itu. Dia yang mengurus ketiga anaknya, untung saja ada Rara dan juga Siska membantu dirinya mengurus ketiga anaknya.


Kurang lebih 11 tahun lagi Elga di penjara, karna sudah satu tahun lebih Elga sudah mendekam di penjara.


Sudah satu tahun pula kepergian Daniel menghadap sang pencipta, dan Agrif sudah berada di Banjarmasin satu tahun lebih.


Kayla masih setia menunggu suaminya Elga, dan mereka akan mengukir Kebahagian yang lengkap bersama ketiga anknya.


Kayla mengusap air matanya, dia tidak boleh cengeng. Semenjak memasuki usia seperti ini, Kayla selalu saja mendapatkan kabar yang tidak enak.


Terutama kabar Elga yang di penjara bertahun-tahun lamanya. Dan sahabatnya Valen yang menghilang atau bahkan sudah tidak ada lagi.


Kayla saja tidak tau jika Valen sudah ketemu.


''Valen, Elga. Gue rindu kalian.''


''Andai aja lo masih ada, Len. Mungkin anak lo sama anak gue udah seumuran.'' Valen tertawa kecil.


Dia ingat betul, jika usia kandungannya dan Valen hampir sama.


''El...Andai lo nggak di penjara lo bisa lihat anak ketiga kita. Dia cowok, gue ingat banget kalau lo mau punya anak cowok, tapi pas gue lahiran dua-duanya cewek.''


''El, Revan sangat tampan seperti dirimu.''


''Gue rindu sama lo, El!''


''El...Gue bisa kasi pengertian sama Dyra. Tapi kasi pengertian untuk Dyta sangat sulit. Dia mau ketemu sama lo, El. Gue takut bawa Dyta ke tempat lo, gue takut Dyta nggak mau pulang lagi kalau gue bawa dia!''


Setelah tiga puluh menit bermonolog seorang diri, Kayla melangkah masuk kedalam kamar mandi. Jangan sampai Rara datang dengan tiba-tiba dan melihat dirinya tengah menangis.


Kayla menatap wajahnya di cermin, lalu tersenyum simpul. ''Ingat, Kay, jangan tambahin beban Rara karna muka lo yang sedih, bukan cuman lo yang kehilangan, tapi juga, Rara.'' Kayla bermonolog dengan dirinya sendiri.


Suara tangisan Revan membuat Kayla keluar dari kamar mandi, lalu beergegas menggendong Revan.


''Anak mamah yang tampan, jangan nangis ya.''


''Sepertinya Revan masu susu,'' gumam Kayla namun mengingat jika air susunya belum terlalu lancar keluar.


Rara rutin memasakkan sayur bayam untuknya, untuk memperlancar Asinya keluar.


Kayla keluar dari kamar meggendong Revan untuk kebawa membuat susu untuk Revan. Dia tidak mau jika merepotkan Rara lagi.


''Nyonya, Kayla. Biar saya yang buatin susu Revan. Bahaya kalau Revan sampai kena cipratan air panas.'' Siska langsung menegur Kayla dengan sopan.

__ADS_1


''Makasih, Sis,'' ucap Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Siska.


Kayla berjalan menuju tempat kursi makan, seraya menangkan Revan yang tengah menangis.


''Jangan nangis anak tampan, bentar lagi susunya jadi.''


Badan Kayla sedikit kurus semenjak Revan lahir, karna anak itu selalu saja menangis setiap malam sehingga Kayla tidak bisa tidur.


Revan hanya tidur nyenyak dari pagi hingga jam 11 siang, sehingga Kayla juga tidur sampai jam seperti Revan.


Karna tengah malam ia begadang karna Revan menangis. Dia sangat rewel ketimbang Dyta dan Dyra saat kecil.


Anehnya, jika Frezan yang menggendong Revan anak itu akan diam. Mungkin saja dia berpikir jika Frezan adalah papahnya.


Kayla semakin gelagapan, bukanya tangis Revan meredah malah semakin keras, membuat Siska dengan cepat membuatkan susu untuk Revan.


Rara yang sedang memainkan ponselnya dengan Frezan selalu berbicara di sampingnya meminta maaf Rara.


''Diam dulu.'' Rara menempelkan jari telunjuk ke bibir Frezan.


Karna pria itu sedari tadi tidak berhenti berbicara hanya untuk mendapatkan maaf dari Rara.


Frezan tersenyum tipis melihat tingkah Rara.


''Revan nangis.''


Rara langsung berdiri dari kursi sofa yang ia duduki di dalam kamar. Dia langsung turun karna suara Revan terdengar sampai di sini.


Mulutnya tidak akan diam sampai Rara benar-benar mau memaafkan dirinya.


''Revan nangis lagi?'' Rara langsung menghampiri Rara yang berusaha memberikan susu dot untuk Revan, namun anak itu tidak mau dan terus menerus menangis.


Rara mengambil Revan dari Kayla, lalu berusaha menenangkan anak itu. ''Cup...Cup...Cup.''


''Revan jangan nangis, nanti di gigit sama om Eza, loh.'' Rara berusaha memberikan susu dot untuk Revan namun anak itu semakin menangis.


Rara menyimpan dot berisi susu itu diatas meja.


Kayla menarik nafasnya dalam.


''Ra, coba minta Eza buat gendong Revan. Siapa tau aja Revan diam seperti kemarin-kemarin. Kamu ingat, kan, waktu Eza gendong Revan dia langsung diam.'' Kayla mengingatkan Rara.


Dimana saat itu juga Revan menangis seperti ini, dan Frezan yang menggendong Revan membuat anak itu diam.


Kayla tidak tau, jika Rara dan Frezan sedang berantem kecil.


''Ra...''


Kayla memanggil Rara, Kayla tau jika Frezan tidak ke kantor dari Siska.


''Kamu ambil Revan dulu, aku naik panggil kak Eza.''

__ADS_1


Kayla mengangguk mengambil tubuh kecil Revan dari Rara.


Rara membuka knop pintu dan melihat Frezan sedang sibuk dengan laptopnya, Frezan tersenyum kearah Rara.


''Ud—''


''Bantuin Rara.'' Rara langsung memotong ucapan Frezan membuat pria itu menaikkan alisnya sebelah, lalu kemudian dia tersenyum penuh Arti.


''Aku bisa bantu kamu nenangin, Revan. Asal kamu mau maafkan aku, jangan ngambek sama aku lagi, jangan cuekin aku lag, gimana?''


Frezan menutup laptopnya menunggu jawaban dari Rara, tambah berpikir panjang wanita itu langsung mengangguk karna tidak tega mendengar tangisan Revan.


Cup


Frezan langsung mencium kening Rara.


''Ayok kita ke bawa.'' Frezan langsung menggandeng tangan Rara untuk ke bawa.


Mereka sudah sampai di tempat Kayla.


Frezan memberikan kode kepada Kayla untuk memberikan Revan kepadanya.


Kayla langsung memberikan Revan kepada Frezan.


Damn!!!


Tangis anak kecil itu berangsur pelan membuat Rara dan Kayla bernafas legah.


*


Lea dan Nathan sudah sampai di butik untuk mencoba baju yang ia pesan untuk Lea.


''Muka kamu pucat?'' Nathan panik melihat wajah Lea menjadi pucat.


Nathan belum keluar dari mobil, sebagai seorang dokter dia mengetahui kondisi seperti ini.


Nathan memegang dahi Lea, nampak panas.


''Minum obat ini dulu.'' Nathan langsung membuka air mineral.


Untung saja dia selalu menyediakan obat di dalam mobilnya.


''Lea nggak ap—''


''Minum Lea.''


Suara dingin Nathan membuat Lea mengangguk lalu mengambil obat itu lalu meminumnya.


''Kenapa mobilnya di balik?'' tanya Lea melihat Nathan membalikkan mobilnya meninggalkan butik.


''Kita cari tempat makan dekat

__ADS_1


__ADS_2