Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Dia yang membutuhkan mu


__ADS_3

Rifal melirik Valen. “Valen, apa maksud semua ini?” Tanya Rifal kepada Valen sembari menatap wajah milik Valen.


“Maafkan aku,” kata Valen merasa bersalah pada Rifal, karna telah membohongi pria itu.


Rifal tersenyum sinis sembari menggelengkan, kepalanya. “Ini semua demi Adelia,” kata Valen sembari mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh di pipihhnya. “Adelia butuh kamu,” lanjutnya sembari tersenyum


kepada Rifal.


Sementar dokter Kiki seperti sedang menonton sinetron, di mana alurnya telah dipersiapkan dengan sangat matang, tapi ini kisah nyata tanpa ada campur tangan.


“Kamu kan tau, aku sudah tidak ingin berhubungan dengan wanita lain, termasuk Adelia!” Rifal berkata sembari menunjuk kearah bansal milik Adelia tanpa melihat kearah sana, karna dia sedang menatap Valen.


Air mata milik Adelia semakin jatuh di kalau Rifal mengatakan kata dia, tanpa ingin menyebut namanya, sejijik itukah dirinya untuk Rifal?


Rasa sakit Adelia bertambah, bahkan dia lebih memilih untuk mati saat ini daripada harus menerima kenyataan sepahit ini setelah dia sadar dari komanya selama bertahun-tahun lamanya.


Kenapa aku nggak mati aja setelah menyelamatkan Valen dari kecelakaan itu? Kenapa Tuhan? Kenapa engkau membangunkan ku, kenapa kamu tidak cabut saja nyawaku, aku tidak sembuh, melainkan tambah sakit hidup di dunia ini. Kalah itu aku ingin hidup karna aku mencintai seseorang, tapi dia sudah tidak menginginkan aku lagi, lantas apa aku hidup sampai sekarang, Tuhan?


Adelia hanya mampu membatin sembari mencengkam dengan kasar selimut yang dia pakai untuk menyalurkan rasa sakitnya. Rasa sakitnya saatnya tidak ada apa-apa baginya ketimbang menghadapi kenyataan sakit yang diberikan oleh Rifal.


Air matanya tidak perlu menutupi semuanya, semua orang tau jika dia merasakan sakit yang luar biasa buka.


“Fal.” Valen berusaha meredahkan emosi yang di pendam oleh suaminya saat ini. “Temani dia,” pintah Valen dengan penuh harap kepada suaminya.


“Dia butuh kamu,” kata Valen lagi.


“Aku bukan dokter,” ketus Rifal pada Valen.


“Kesembuhan sepenuhnya buka tentang obat, tapi kesembuhan juga berasal dari orang yang kita cintai,” kata Valen.


Rifal terdiam.


“Kamu mau kan temani dia untuk kemoterapi pagi ini?” Tanya Valen memastikan.


Rifal melirik Valen lalu tersenyum sinis, senyuman yang sudah lama tidak dilihat oleh Valen, kini terlihat kembali.


“Bagaimana jika aku kembali mencintainya?”


Deg


Jantung milik Valen berdetak lebih kencang, apa maksud perkataan Rifal? Apakah dia ingin kembali pada Adelia?

__ADS_1


Bahkan dokter Kiki dan juga Nathan saling bertatapan, meski dokter Kiki tidak tau namun dia jiga tentunya tau apa maksud perkataan Rifal saat ini.


Rifal kembali tersenyum sinis lalu merubah raut wajahnya menjadi datar.


“Aku hanya bercanda, tapi raut wajah mu sudah pucat begitu, bagaimana jika yang aku katakan benar-benar terjadi?”


“Fal.”


“Makanya jangan nyuruh aku buat menemani dia, bagaimana jika hal itu terjadi?”


“Stop Fal!” Suara milik Valen naik satu oktaf dengan suara yang bergetar.


Sungguh, dia tidak ingin itu semua terjadi.


“Kenapa?” Tanya Rifal dengan santai, semua yang dia katakan tadi hanya untuk memancing Valen, agar dia tidak memaksa dirinya untuk menemani sosok Adelia.


Dia tidak mau, jika Adelia semakin berharapa kepada dirinya. Sementara dia sudah sangat mencintai sosok Valen.


“Apa kamu masih nekad untuk menyuruh aku untuk menemaninya?”


Valen diam, dia pusing, dia tidak tau harus melakukan seperti apa. Sebagai seorang dokter dia akan melakukan apapun itu untuk kesembuhan pasienya, meski harus menyuruh suaminya sendiri untuk menyuruh menemani mantan kekasihnya untuk berobat.


Valen menarik nafasnya panjang. “Aku percaya .”


Diam


Rifal terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Valen, dia menunggu Valen meneruskan perkataannya.


“Aku percaya jika kamu tidak akan berpaling dari aku,” kata Valen dengan senyuman. Meski hatinya setengah percaya, namun dia berusaha berpikir positif, dia yakin jika hati Rifal tidak akan goyah hanya karna ini.


“Bagaimana dengan Adelia? Bagaiamna jika aku menemaninya dia semakin berharap untuk kembali padaku,” kata Rifal dengan datar, karna sungguh dia tidak tau dengan apa yang dipikirkan oleh Valen saat ini.


Dia sendiri yang menyuruh dirinya untuk menjauhi dan melupakan Adelia, dan dia sendiri pula yang mendekatkan dirinya kembali.


“Bukanka Adelia memang masih berharap dengan mu, Fal?”


Rifal terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Valen, memang benar jika dia tau kalau Adelia masih berharap padanya.


“Lantas apa yang kamu khawatirkan?”


Valen mengambil tangan Rifal lalu menggenggam tanganya, sementara Rifal memalingkan wajanyaa.

__ADS_1


“Kecuali kamu yang tergoda baru bahaya, tapi aku yakin kamu tidak akan sepeti itu,” kata Valen sembari tersenyum hangat kepada Rifal yang masih menunjukkan taut wajah datar.


“Aku tidak mau!” kata Rifal dengan sedikit kasar lalu melepaskan tangan Valen.


“Aku tidak ingin melukai hati istri aku sendiri.” Lanjut Rifal.


Valen menggelengkan kepalanya kuat.” Aku tidak terluka, Fal.”


“Kamu barbong!”


Valen mengusap air matanya, karna apa yang dikatakan oleh Rifal memang benar, namun dia berusaha tegar karna ini hanya sementara.


“Ini permintaan aku. Aku tidak akan terluka dengan permintaan aku sendiri,” kata Valen lagi agar Rifal ingin memenuhi permintaannya.


“Kalau aku bilang tidak mau yah tidak mau, Valen.”


“Kali ini aja, Fal.”


“Stop!” Suara Rifal naik beberapa oktaf membuat Valen kembali kaget dan juga dokter Nathan dan Kiki.


Ini pertama kalinya lagi Valen mendengar Rifal membentak dirinya.


“Maaf,” kata Rifal karna merasa bersalah telah membentak Valen.


Sementar Adelia yang sedari tadi mendengar perdebatan Rifal dan juga Valen merasakan dadanya sesak di tolak mentah-mentah oleh Rifal.


“Aku pamit, banyak pekerjaan di kantor. Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu untuk kali ini,” kata Rifal melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan Adelia.


Dia tidak mau berdebat dengan Valen akan membuat hati orang yang dia cintai terluka, di tambah lagi dia cepat emosi.


Sesak, itu yang dirasakan oleh Adelia melihat punggung Rifal. Bahkan untuk meliriknya Rifal enggan membuat hati Adelia semakin terenyah.


“Rifal,” panggil suara Adelia dengan suara lemah lembutnya, suaranya begitu kecil namun mampu di dengarkan oleh orang di ruangan itu.


Termasuk Rifal menghentikan langkah kakinya mendengar suara lemah itu memanggil namanya, dia memejamkan matanya.


Dia memang tegah, namun jika dia melakukan ini hati Adelia akan semakin sulit untuk menerima jika dirinya sudah mencintai Valen.


Dia tidak ingin memberikan lukah tambahan untuk Adelia.


Rifal belum membalikkan badanya, sungguh dia tidak tegah jika melihat wajah pucat milik Adelia menahan sakitnya, dia hanya menunggu gadis itu melanjutkan perkatanya tanpa harus membalikkan badanya.

__ADS_1


__ADS_2