
Ceklek
Valen langsung membuka ruangan yang sudah ada dua dokter senior dan dokter kepercayaan dirumah sakit ini, yang tak lain dan tak bukan adalah Dokter Nathan. Dan tak lupa dua perawat.
Seluruh tatapan mata yang berada diruangan itu terarah pada sosok Valen yang masih berada diambang pintu.
Matanya tertuju pada sosok Nathan yang sedang menatapnya juga.
"Adelia sadar."
Deg
Hening
Bahkan Valen merasakan dunianya sedang berputar saat ini juga. Apa kata Nathan? Adelia sadar? Apakah dia tidak salah dengar?
Matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang masih menatap langit-langit ruangan kamar miliknya dengan dua dokter mengecek kondisi Adelia.
"Ini suatu keajaiban," ucap dokter yang paling tua diantara mereka, dengan umurnya sekitar 50 tahun.
"Pasien sadar, di saat kita semua sudah menyerah," sambungnya membuat Valen masih mencernah keadaan apa sebenarnya ini?
Apakah dia mimpi? Apakah semuanya berubah dengan kembalinya sosok Adelia yang sudah koma begitu lama?
"Dokter Valen," panggil salah satu dokter yang umurnya berkisar 40 tahun. Karna diruangan Valen saat ini ada tiga dokter dan dua perawat, dan ditambah Valen.
Dia memanggil Valen yang berada diambang pintu karna melihat Valen nampak tidak baik-baik saja. Terlihat dari raut wajah gadis itu dan jangan lupa wajahnya yang sedikit pucat.
Ada apa dengan Valen?
Sementara Nathan tak pernah menatap hal lain, dia hanya menatap wajah milik Valen. Nathan sudah tau apa yang difikirkan oleh Valen saat ini. Yah, tentu saja Nathan tau akan hal itu.
Sementara dokter yang usinya 50 tahun itu sibuk mengecek kondisi Adelia saat ini.
"Pasien lumpuh," kata dokter membuat seluruh tatapan mata diruangan Adelia menatap kearah dokter tersebut.
"Kemungkinan besar pasien lumpuh seumur hidup," sambungnya membuat Valen masih menunggu kelanjutan ucapan dari sang dokter," karna kelamaan berbaring."
Kita saja yang satu hari berbaring selama satu hari tanpa bergerak akan membuat tubuh seperti kakuh, apa lagi Adelia yang sudah tidur sepuluh tahun lamanya. Tentu saja kata lumpuh menghampiri dirinya.
Langkah kaki Valen membawanya ke bansal milik Adelia saat ini. Dia melihat Adelia yang sedang menatap langit-langit kamar rumah sakit tempatnya.
"Pasien belum mengucapakan sepatah katapun."
Valen langsung melirik dokter yang berumur 40 tahun itu, lalu kemudian mengangguk mengiyakan perkataan sang dokter.
__ADS_1
Mata Nathan masih fokus mengamati lekuk wajah Valen saat ini, terlihat wajah gadis itu pucat pasih.
Apa Valen sakit?
"Rifal."
Tatapan mata langsung saja terarah ke asal suara tersebut, yang memangil nama Rifal dengan suara kecil nan serak, suaranya nampak samar namun jelas.
Kedua dokter itu langsung bertatapan melalui tatapan matanya. Seakan-akan berkomunikasi siapa Rifal?
Valen merasakan dunianya hancur saat ini, dokter itu bilang saat bangun Adelia belum mengucapakan sepatah katapun. Dan sekarang? Adelia memangil nama Rifal? Itu berarti kata-kata yang keluar dari mulut Adelia adalah nama Rifal?
Dokter berusia 50 tahun ini itu langsung menghampiri bansal milik Adelia.
"Siapa Rifal?" tanya sang dokter kepada mereka didalam ruangan.
Sementara Nathan masih diam, menunggu apakah Valen yang akan menjawab siapa Rifal.
"Siapa Rifal?" tanya dokter lagi.
"Apa kita bisa memanggil Rifal? Sepertinya kehadiran Rifal akan membuat pasien lebih banyak bicara lagi tanpa harus diam seperti ini," kata dokter yang berusia 40 tahun itu dan dibalas anggukan setuju oleh dokter 50 tahun itu.
Valen memejamkan matanya berusaha agar air matanya tidak turun disini.
Gadis yang ditunggu oleh Rifal selama ini, selama bertahun-tahun lamanya.
"Rifal suami saya."
Hening
Didalam ruangan milik Adelia saat ini menjadi hening, saat Valen mengatakan jika Rifal adalah suaminya. Bahkan kedua dokter itu saling bertatapan. Apakah dia tidak salah dengar?
Tiba-tiba saja Valen memegang bibirnya, rasanya perutnya sangat menggeliat untuk segera dikeluarkan.
"Dokter Valen."
Salah satu dokter itu memangil nama Valen karna dia langsung berlari dengan wajah yang pucat pasih.
Valen langsung pergi meninggalkan bansal milik Adelia, dia berlari masuk kedalam kamar mandi sehingga tatapan terarah padanya.
Valen langsung memuntahkan sesuatu dari mulutnya, rasanya sangat menggeliat saat ini. Perutnya mendorongnya untuk segera memuntahkan sesuatu dalam perutnya.
"Apa dokter Valen sakit?" tanya dokter itu kepada Nathan. Karena dia sedikit tau jika Valen dan Nathan dekat.
"Saya juga kurang tau," tanya Nathan lalu berjalan ke kamar mandi untuk menyusul Valen.
__ADS_1
Kepalanya pusing saat ini, bahkan Valen masih ingin muntah namun hanya cairan putih yang keluar, membuatnya tersiksa.
Valen menatap dirinya di cermin, tiba-tiba saja ingatannya kembali dimana dia terakhir kali berhubungan dengan Rifal saat di Apartemen milik Rifal.
Valen mengingat jika sudah satu Minggu ini dia tidak halangan, dan baru sekarang dia menyadari jika dia pernah berhubungan badan dengan sosok Rifal.
Kepalanya tambah pusing mengingat kejadian itu. Valen menggelengkan kepalanya air matanya begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Apa mungkin gue hamil?" lirihnya memegang perutnya yang datar dengan air mata membasahi kedua pipinya.
Air mata Valen semakin deras didalam kamar mandi, hari ini Adelia sadar. Bagaimana jika benar dia hamil?
Bruk
Valen langsung jatuh pingsan karna sudah tidak bisa menahan pusing yang dia rasakan, tapi untung saja tangan kekar sigap menangkap tubuh Valen sehingga tidak jatuh dilantai kamar mandi. Siapa lagi jika bukan sosok Nathan.
Nathan langsung mengangkat tubuh milik Valen yang sudah pingsan dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi air mata gadis itu masih basah dipipihnya membuat Nathan semakin yakin jika yang difikirkan oleh Valen saat ini adalah Adelia, yang telah bangun dari tidurnya yang panjang.
***
Mata Valen terbuka dengan perlahan-lahan, hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar. Dia melirik disampingnya dan sudah melihat selang infus melekat ditangannya.
Valen baru ingat jika dia pingsan didalam kamar mandi, dan saat bangun dia sudah berada dibansal.
Ceklek
Valen melirik kearah pintu yang dibuka oleh salah satu dokter kandungan di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Dokter itu tersenyum ke arah Valen membuat Valen semakin bingung, pasalnya senyum yang diberikan dokter itu seperti senyum kebahagiaan, seperti ingin memberikan kabar bahagia kepadanya saat ini.
"Selamat yah dokter, Valen," kata dokter dengan senyuman melekat diwajahnya membuat Valen semakin takut menunggu kelanjutan perkataan dokter dihadapannya.
"Anda hamil, sudah tiga Minggu."
Deg
Perkataan dokter itu membuat dunia Valen seketika berhenti, rasanya dia sangat Dejavu dan jangan lupa jantunganya berdetak lebih kencang.
"Saya hamil," menolognya seakan-akan tak percaya.
"Iya, dokter valen hamil."
Valen tidak tau, seperti apa takdirnya kedepan. Dia mengetahui dirinya hamil bertepatan dengan kesadaran Adelia.
Entahlah, ini berita bahagia atau sebaliknya
__ADS_1