Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Sosweet


__ADS_3

"Kok gelap sih? Mati lampu yah?" kata Lea membuat Nando tersenyum masam masih setia menutup kedua mata Lea.


"Tentu saja gelap, karna saya menutup mata kamu dengan tangan saya," kata Nando kepada Lea.


"Kok ditutup sih!" kesal Lea kepada Nando.


"Ada macan yang mau menerkam," bisik Nando ditelinga Lea agar gadis itu tidak banyak tanya. "kamu mau diterkam juga?" tanya Nando membuat Lea menggelengkan kepalanya kuat.


"Nah, maka dari itu kamu diam saja," perintah Nando dan dibalas anggukan kepala oleh Lea membuat Nando tertawa kecil melihat tingkah Lea yang menurut kepadanya.


"Tapi dokter Valen sama om Rifal gimana?" tanya Lea kepada Nando dengan khawatir.


"Kamu nggak usah mikirin dia, Rifal kan jago, lagian macanya adalah Rifal sendiri."


Aelah lama bener, udah capek gue tutup mata Lea. Lalot amat sih Rifal. Nando mengumpat dalam hati karna Rifal belum melanjutkan niatnya kepada Valen.


Mata Valen dan Rifal beradu malam ini dengan jaraknya yang sangat dekat, serta bibir mereka masih setia saling bertaut.


Rifal mulai mencium bibir Valen membuat Valen memejamkan matanya dengan Nando langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah Lea yang tengah dia tutup mata gadis itu.


Bisa-bisa dia menjadi ileran jika menyaksikan antara Rifal dan juga Valen yang sedang berciuman panas.


Seperti mendapatkan izin dari Valen, Rifal memperdalam ciumannya mengakses seluruh apa yang dia jangkau.


Rifal memegang tengkuk kepala Valen agar lebih mudah mencium Valen. Rifal melepaskan ciumannya karna Valen sedang mengambil nafas, ciuman Rifal mampu membuat Valen hampir kehabisan oksigen karna pria didepannya.


Rifal membersihkan ujung bibir Valen menggunakan ibu jarinya.


"Kita makan dulu," kata Rifal santai sementara jantung milik Valen berdetak kencang. Dia takut jika ada seseorang yang melihat berciuman panas dengan Rifal tadi.


Rifal yang sudah tau pikiran Valen langsung angkat bicara. "Tidak ada yang melihat kita, semuanya sudah pulang," kata Rifal dengan santainya membuat jantung milik Valen kembali berdetak kencang. Bisa-bisanya Rifal tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kamu nggak makan nasi goreng?" tanya Rifal karna melihat Valen hanya mengambil kue saja padahal dia sudah susah-susah menyiapkan nasi goreng untuk Valen.

__ADS_1


Bahkan dia menyuruh tukang nasi goreng pinggir jalan tersebut menggoreng nasi goreng nasinya direstoran. Bahkan dia rela membayar mahal tukang nasi goreng pinggir jalan tersebut demi nasi goreng.


"Emang boleh?" tanya Valen. Setahunya, Rifal sangat melarang dirinya untuk makan-makanan pinggir jalan, termasuk nasi goreng.


Rifal mengangguk mengiyakan ucapan Valen. "Boleh, kan aku udah diatas meja, itu berarti boleh dimakan," kata Rifal mampu menciptakan senyuman diwajah milik Valen.


"Aku kira kamu larang aku makan, makanan pinggir jalan," kata Valen sembari memasukkan nasi goreng tersebut kedalam mulutnya. Meski ada sedikit berbeda dari nasi goreng biasanya yang dia makan saat itu bersama dengan Nathan, tapi rasanya tidak beda jauh.


"Kamu tenang aja, tukang nasi goreng pinggir jalannya aku sewa buatin kamu nasi goreng di restoran. Jadi semuanya aman," kata Rifal santai memasukkan salak kedalam mulutnya.


Membuat Valen tersenyum kecut Pantas aja agak berbeda dikit.


Benar-benar Rifal.


Sementara Nando langsung melepaskan tangannya yang menutupi kedua mata Lea. Sehingga Lea mengucek matanya saking lamanya Nando menutup matanya dengan tangan kekar pria itu.


"Macanya mana?" tanya Lea setelah dia berhasil menetralkan matanya akibat ditutup oleh tangan kekar milik Nando.


"Udah pergi," jawab Nando santai. Setelah dilihat cukup aman dia melepaskan tangannya yang menutupi mata Lea.


"Sini aku suap," kata Rifal mengambil nasi goreng tersebut untuk menyuapi Valen.


"Buka mulutnya," perintah Rifal sehingga Valen membuka mulutnya lalu Rifal menyuapinya nasi goreng tersebut.


Rifal tersenyum saat makanan yang dia suapkan untuk Valen telah berhasil dimakan oleh Valen.


Tangan Valen bergerak mengambil garpu lalu menyuapi Rifal dengan daging sapi tersebut.


Rifal diam sejenak menatap Valen membuat Valen ingin segera pergi dari sini. Bagaimana jika Rifal menolak suapannya? Dia pastikan dia akan malu sendiri.


Rifal membuka mulutnya lalu Valen menyuapinya, Valen bernafas legah karna pikirnya tidak terjadi.


"Sosweet," kata Lea yang melihat pemandangan didepannya yang dimana Rifal dan Valen sedang suap-suapan.

__ADS_1


"Aura jomblo Lea meronta-ronta," kata Lea lagi membuat Nando hanya menggelengkan kepalanya.


Suap-suapan dia bilang sosweet? Dia belum tau romantis itu seperti apa, romantis itu bercinta dengan orang yang kita cintai.


"Baby R pasti bahagia," kata Lea membuat Nando melirik Lea.


"Baby, R?" menolog Nando membuat Lea menatap Nando juga.


"Nama calon anak bosnya aja kak Nando nggak tau," sungut Lea lalu kembali melihat kearah depan dengan pemandangan yang sama.


"Masalahnya Rifal nggak pernah bilang nama calon untuk anaknya," balas Nando. Seingatnya, Rifal tidak pernah membahas nama untuk anaknya kelak.


"Baby R itu apa?" tanya Nando lagi.


"Entar Lea beri tau, kalau kita udah tau anak dokter Valen cewek apa cowok," kata Lea membuat Nando manggut-manggut.


"Rifal sama Valen setuju nggak sama nama yanh yang kamu kasi?" kata Nando membuat Lea mengangguk yakin. Lea yakin, jika Rifal tidak akan menolak nama pemberian dari Lea untuk anaknya. Asal namanya memang baik dan enak untuk didengar.


Lea melirik Nando yang ternyata lebih dulu meliriknya, sehingga mereka berdua kembali bertatapan diatas kasebo.


"Jangan lihat-lihat Lea kayak gitu," kata Lea karna melihat tatapan dari Nando tidak seperti tadi. "Lea nggak mau yah tanggung jawab kalau kak Nando tiba-tiba nyaman sama Lea," lanjutnya dengan PD membuat Nando tertawa keras, untung saja ada music didekat Rifal dan Valen sehingga dia tidak mendengar tawa milik Nando.


Lea mengerucutkan bibirnya, pasalnya tidak ada yang lucu tetapi pria disampingnya tertawa dengan apa yang dia katakan.


"Kamu, mau buat saya nyaman?" kata Nando masih dengan sisa tawanya. "Nggak bisa saya!" lanjutnya dengan yakin.


"Jangan bilang kayak gitu, nanti beneran nyaman Lea langsung ninggalin kak Nando," balas Lea yang membuat Nando kembali tertawa keras.


"Jangan terlalu kepedean, mana mungkin pria dewasa seperti saya ini nyaman sama bocah ingusan!" sungut Nando masih dengan tawanya.


Lea seperti ingin mencakar wajah tampan disampingnya ini, Lea tau jika pria ini sedang mengejek dirinya.


"Kak Nando sendiri 'kan yang bilang, bukan tentang fisik tapi tentang kenyamanan," kata Lea menekan setiap perkataannya. Dia masih mengingat dengan jelas perkataan Nando tadi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu buat saya nyaman, kalau muka kamu aja nggak nyaman buat dipandang!" tawa milik Nando langsung keras saat mengucapakan kata seperti itu kepada Lea.


__ADS_2