
Valen menggeliat dari tidurnya, sudah tiga puluh menit dia tertidur. Dia merasakan tangannya seperti digenggam oleh seseorang.
Deg
Jantung Valen berdetak kencang saat melihat tangannya sedang digenggam oleh pria yang selama ini tinggal bersamanya.
"Rifal," menolog Valen melihat Rifal Tengah tertidur sembari memegang tangannya.
Rifal tengah duduk dikursi, kepalanya dia simpan diatas bansal, lebih tepatnya dekat tangan Valen sehingga dia menggenggam tangan Valen sembari tertidur.
Valen tidak tau, sejak kapan Rifal ada disini. Apa lagi pria itu tengah tertidur didekatnya.
Tangan Valen bergerak mengusap rambut hitam milik Rifal. Dia tersenyum saat tangannya sudah berhasil mengusap rambut Rifal yang selama ini ingin dia lakukan. Hanya saja dia malu, takut, dan kecewa saat Rifal menolak semuanya.
Valen tersenyum simpul. "Andaikan seterusnya seperti ini."
"Kalau itu mau mu, aku bakalan nurutin."
Deg
Valen langsung melepaskan tangannya dari rambut Rifal yang tengah dia usap. Dia tidak tau jika pria itu sudah bangun dan mendengarkan apa yang baru saja dia katakan.
Dan membuat Valen terkejut lagi, Rifal mengatakan kata 'kamu' ada apa dengan Rifal. Apakah sifatnya tadi pagi kini kembali lagi memasuki tubuh Rifal?
Rifal menaikkan alisnya sebelah melihat wajah terkejut Valen. "Kenapa?"
"Ha?"
Valen seperti orang bodoh, bagaimana tidak jika dia bangun tidur langsung disuguhkan seperti ini.
Apa kesadarannya dan juga Rifal belum terkumpul? Karna mereka berdua sama-sama baru bangun tidur.
Valen menyandarkan kepalanya disandaran bansal, guna memperbaiki pikiranya saat ini. Sedangkan Rifal sedang masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Rupanya hari sudah gelap, ingatan Valen langsung terarah pada Lea. Dia baru mengingat gadis itu jika kerumah sakit tadi dia bersamanya.
"Lea sudah pulang," ucap Rifal keluar dari kamar mandi menggunakan baju kaos berwarna hitam serta celana sampai lutut yang dibawakan oleh tangan kanannya tadi.
Rupanya pria itu sedang mandi, karna terlihat rambutnya yang basah serta air diatas rambutnya turun diwajahnya membuatnya semakin tampan.
Dia tau, jika Valen tengah mencari Lea.
"Sejak kapan Lea pulang?" tanya Valen.
"Sejak gue disini.... Maksud gue. Ahk!" Rifal belum terbiasa mengatakan aku kamu kepada Valen sehingga dia seperti orang bodoh yang baru ingin belajar.
"Lea pulang saat aku disini," Valen bergedik ngeri sendiri mendengar penuturan Rifal membuat Rifal menatap Valen dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Rifal sembari mendekati Valen membuat Valen langsung menggelengkan kepalanya. Pasalnya Rifal semakin mendekatinya.
__ADS_1
Valen meneguk salivanya saat hembusan nafas milik Rifal dapat dia rasakan saking dekatnya dia dengan Rifal.
"Sampai kapan?" pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Rifal. Tidak lupa pula wajahnya yang sangat serius menatap intens wajah Valen yang sangat dekat.
Valen meneguk salivanya. Dia tidak tau, maksud Rifal mengatakan sampai kapan.
"Maksudnya....." Valen berkata dengan pelan. Satu kali dia bergerak, dia yakin bibirnya dan bibir milik Rifal akan bersentuhan.
"Jujur sama aku."
Valen menatap Rifal yang tengah menatapnya dengan serius. Jarak yang Rifal ciptakan sangatlah dekat sehingga membuat Valen tidak bisa bergerak bebas.
"Mak_"
Ceklek....
Belum sempat Valen menyelesaikan perkataannya, pintu kamar yang dia tempati dibuka oleh dokter yang tadi menanganinya.
Dokter yang melihat jarak Rifal dan Valen yang sangat dekat membuatnya kikuk sendiri.
Sepertinya saya datang kurang tepat.
Rifal langsung menjaga jaraknya dengan Valen lalu berjalan kearah sofa. Karna dokter tersebut akan memeriksa Valen.
"Sepertinya saya datang kurang tepat," canda dokter itu membuat Valen tersenyum canggung.
Dokter tersebut mulai memeriksa keadaan Valen. "Dokter Valen udah bisa pulang," kata dokter tersebut yang bernama Imel.
Maafkan saya dokter Valen. Tanpa berbisik-bisikpun suami dokter Valen sudah tau.
"Kondisinya juga baik-baik," jawab dokter Imel membuat Valen bernafas legah.
Sementara Rifal yang sedari tadi memperhatikan Valen hanya tersenyum jenaka.
Hal besar kayak gini nggak bakalan bisa tersimpan dengan lama, Va.
"Kalau begitu saya pamit undur diri," kata dokter Imel dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
Rifal menatap dokter membuat dokter muda itu menjadi seperti seorang tersangka.
"Kapan Valen boleh pulang?" tanya Rifal kepada dokter Imel.
"Dokter Valen udah bisa pulang," kata dokter Imel dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Valen mencabut sendiri selang infus yang melekat ditangannya. Membuat Rifal yang melihat Valen bergedik ngeri sendiri. Apa dokter memang seperti itu?
"Kamu yakin nggak menyembunyikan sesuatu dari aku?" tanya Rifal yang tengah menunggu Valen sembari menyilangkan kakinya diatas sofa.
Pergerakan tangan Valen yang memperbaiki kamarnya terhenti. Entah mengapa pertanyaanya Rifal sangat tepat untuk dirinya yang menyembunyikan sesuatu yang besar.
__ADS_1
Valen terdiam membuat Rifal tersenyum jenaka.
Gue mau lihat. Sampai mana lo bisa nyembunyiin ini semua dari gue, Va.
"Kenapa diam?" tanya Rifal lagi. Seakan-akan dia belum tau semuanya.
Valen melihat kearah Rifal yang sedang menyilangkan kakinya. "Aku nggak nyembunyiin apa-apa," jawab Valen lalu kembali merapikan tempat tidurnya dengan jantung yang tidak tinggal diam.
Rifal beranjak dari sofa yang dia duduki lalu menghampiri Valen.
Valen langsung terlonjak kaget saat Rifal menyandarkan tubuhnya didinding rumah sakit, jangan lupa telapak tangan Rifal dia sandarkan didinding sehingga kepala Valen tidak tersentuh dinding, hanya menyentuh tangan Rifal yang dia tempelkan didinding untuk menyanggah kepala Valen agar kepalanya tidak bersentuhan dengan dinding.
"Fal." Valen berbicara dengan mulut kakuh, bagaimana tidak jika tatapan Rifal saat ini sangat berbeda dari biasanya.
"Kenapa?" Dengan posisi masih seperti tadi, dengan jarak mereka yang sangat dekat.
Bahkan hidung milik Rifal bersentuhan dengan hidung milik Valen. Sehingga nafas mereka berdua beradu.
"Apanya yang kenapa?" tanya balik Valen membuat Rifal menatap Valen dengan intens.
"Sampai kapan kamu nyembunyiin kalau kamu sedang mengandung anak aku!"
Deg
Jantung Valen berdetak kencang saat Rifal mengatakan seperti itu. Rifal sudah tau jika dirinya hamil?
"Ak_"
"Walaupun aku nggak cinta sama kamu, hal sebesar ini nggak patut kamu sembunyikan. Ini hal besar, bagaimanapun anak yang kamu kandung adalah anak aku!"
Deg
Valen diam mematung mendegerkan apa yang dikatakan oleh Rifal. Perkataan Rifal mampu membuat hati Valen teriris dengan perkataan pria tampan dihadapannya.
Valen membuang wajahnya kearah samping, Rifal memegang dagu Valen dengan lembut lalu mereka kembali bertatapan.
Air mata Valen jatuh begitu saja, perkataan Rifal tadi sukses membuatnya terluka dan sakit hati. Kata-kata meskipun dia tidak mencintainya seharusnya Valen mengatakan ini semua kepadanya.
Sangat sakit bukan!
Siapa yang tidak sakit jika diperlakukan seperti ini! Diberikan kenyataan yang pahit secara langsung.
Rifal mengusap air mata Valen dengan lembut. "Jangan nangis, Va."
****
Author cuman minta dukungan kalian 🥺🥺🙏 Agar Author rajin update dan ngehalu semakin lancar. Dengan berikan jempol kalian disetiap episode dan berikan author semangat melalui komentar kalian🥺🙏 Nulis butuh pikiran yang jernih supaya hasilnya memuaskan 🙏🥺
Jangan lupa like dan komentar kalian yah🥺😘
__ADS_1
Oh iya, jangan lupa follow ig Author
@ananda.putri815