Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ke mall


__ADS_3

Rina menunggu Rifal dan Valen turun untuk segera ke Mall.


Valen belum bisa melupakan kejadian tadi yang menbuatnya sangat malu.


“Kamu kenapa?” tanya Rifal dengan enteng.


Saat ini, mereka berdua sedang menuruni anak tangga.


“Santai banget sih kamu, Fal,” kesal Valen.


Suaminya itu kelewat santai padahal kejadian dikamar mandi membuat Valen lebih baik sakit untuk hari ini daripada bertemu dengan mertuanya yang akan membuatnya semakin malu mengenai perihal tadi.


“Hehehe,” Rifal hanya terkekeh seraya menuruni anak tangga karna Rina sudah menunggu dirinya di bawah untuk mengantar mertua dan istrinya ke Mall.


Sebenarnya Rifal malas mengantar mereka untuk ke Mall, karna dia sudah tau jika perempuan berbelanja sangat lama yang membuat waktunya tersita banyak.


Valen merasa canggung saat ini bertemu dengan mertuanya.


“Mom, gimana kalau supir aja antar Mommy sama Valen ke Mall?“ Tawar Rifal karna dia akan merasa letih nanti jika mengikut kedua wanita ini keliling berbelanja.


Kalian tau sendirikan, jika wanita belanja banyak sekali waktu yang dia ambil untuk keliling.


“Emangnya supir mau lihatin baju untuk anak kamu?” papar Rina membuat Rifal memutar bola matanya malas.


“Nggak gitu juga Mom. Kan ada Valen,” ucap Rifal lagi.


“Yang punya anak kamu berdua, bukan cuman Valen saja,” terang Rina kepada putranya itu.


Rifal memutar bola matanya malas, jika berdebat dengan sang Mommy akan membuatnya akan kalah.


“Jangan banyak alasan, Ayok kita pergi,” final Rina lebih dulu pergi untuk segera ke mobil.


Sementara Valen hanya diam saja, melihat perdebatan singkat antara anak dan mamah itu.


Huft


Rifal menghembuskan nafas kasar. “Usia kandungan kamu baru 4 bulan, tapi Mommy sudah repot seperti usia kandungan kamu udah 9 bulan saja. Padahal perlengkapan anak bisa dibeli setelah kandungan kamu 9 bulan. Nah ini, masih ada beberapa bulan,” terus terang Rifal.


“Kenapa ngomong sama aku? Ngomong langsung dong sama Mommy biar proh,” usul Valen membuat Rifal menatapnya dengan tatapan datar membuat Valen tertawa kecil.


“Kan aku cuman ngikut Mommy doang,” kata Valen.

__ADS_1


“Tapi kamu iyakan kemauan Mommy,” kesal Rifal.


“Yah, karna aku nggak mau jadi menantu kuwalat,” kata Valen.


“Maaf pak, nyonya Rina memanggil bapak untuk segera ke mobil,” ucap salah satu satpam.


“Saya akan kesana,” tutur Rifal.


“Baik, pak,” lepas itu satpam langsung pergi.


“Ayok ke mobil, Mommy udah nungguin kita,” ajak Valen langsung menggandeng tangan Rifal.


Rifal langsung keluar dari pintu utama untuk segera ke mobil membawa kedua wanita yang dia cintai untuk ke Mall.


Dari lantai atas, Aska melihat perilaku antara anak dan menantunya itu. Sekarang dia baru percaya omongan Rifal jika saat ini dia sudah benar-benar mencintai Valen dengan tulus.


Rina sudah berada didalam mobil, melihat Rifal dengan wajah lesuh membuat Rina tersenyum simpul. Dia kembali mengingat putra keduanya, yaitu Tegar.


Saat Tegar masih hidup, dia yang selalu menemani dirinya ke Mall karna Rifal tidak ingin pergi karna sibuk nongkrong sana sini bersama Elga.


Rifal langsung masuk kedalam mobil.


“Mom,” panggil Valen yang masih berada diluar belum masuk ke dalam mobil.


“Mommy duduk didepan sama Rifal, biar Valen duduk di belakang,” papar Valen yang merasa tidak enak karna mertuanya duduk di belakang.


“Tidak apa-apa. Kamu duduk didepan saja,” terang Rina.


“Tap-“


“Jadi pergi nggak sih!”


Valen langsung memanyunkan bibirnya kearah Rifal. Dengan cemberut Valen langsung masuk kedalam mobil duduk di samping Rifal.


“Ngomong yang lembut, Fal. Kamu nggak tau yah kalau istri kamu sedang hamil,” oceh Rina.


“Apa kamu tidak tau, wanita itu hatinya sensitif apa jika dia hamil itu hatinya sangat sensitif. Mommy bisa merasakan itu karna Mommy sudah mengalaminya dua kali.” Lanjutnya dengan ocehan.


Rifal hanya diam saja seraya menjalankan mobilnya untuk mengantar kedua perempuan ini ke Mall.


Valen menundukkan kepalanya memainkan ponselnya, dia sama sekali tidak ingin mendongakkan kepalanya karna perkataan kasar Rifal tadi mampu membuatnya menitihkan air mata tanpa Rifal ketahui.

__ADS_1


Benar kata Rina, hati perempuan itu sangat sensitif apa lagi sedang hamil.


Rifal hanya fokus membawa mobil, tanpa melirik kearah Valen. Sementara Rina sedang sibuk membaca buku panduan hamil.


Meski dia sudah melewatinya namun dia tetap membacanya untuk memberikan pengetahuan kepada menantunya yang akan melahirkan cucu pertamanya.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suaranya.


Rifal langsung memasuki parkiran salah satu Mall terbesar di Jakarta, ini Mall terbaik di Jakarta sehingga dia membawa Rina dan Valen untuk kesini.


“Sudah sampai.”


“Iya, Mom,” jawab Rifal.


Rina melirik kearah Valen, sedari tadi dia melihat menantunya itu menundukkan kepala tanya mengeluarkan sepetah katapun sepanjang perjalanan yang memakan waktu setengah jam lamanya.


“Mommy masuk duluan,” kata Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal. “Jaga istri kamu, jangan tinggalan dia saat kamu masuk kedalam,” lanjutnya seraya mengancam Rifal.


Rifal memutar bola matanya malas. “Iya Mom, mana tega Rifal ninggalin istri Rifal Disini,” kata Rifal.


“Mana tau kamu bosan,” ucap Rina lalu melenggang keluar dari mobil untuk segera masuk.


——


“Apa sakit, Ra?” Saat ini Frezan tengah duduk diatas ranjang bersama dengan Rara, dia sibuk memperhatikan luka Rara yang sudah diberikan perban.


Rara menggelengkan kepalanya. “Ini nggak sakit, lebih sakit pas kak Eza pergi tanpa pamit sama aku,” kata Rara seraya menitihkan air matanya.


Frezan langsung membawa Rara kedalam dekapanya.”maaf sayang, aku buru-buru,” sesal Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


“Sekarang kamu cerita, gimana ceritanya tangan kamu bisa di perban kayak gini,” ucap Frezan.


“Tadi Rara buat air panas, aku lihat kamu buru-buru turun tangga nggak tau mau keamana. Aku tungguin kamu pamit ke aku ternyata nggak, aku kira kamu marah karna aku minta soal keringanan bang Elga,” kata Rara.” Jadinya gini,” lanjutnya seraya melihat tanganya di perban.


“Maaf, sayang,” ucap Frezan.


“Sekarang kamu siap-siap, kita ke Mall sama anak-anak,” Frezan memberikan penawaran sebagai bentuk permintaan maafnya kepada Rara.


Rara mendongakkan kepalanya sehingga matanya dengan mata Frezan bertemu. “Kita ajak Dyra sama Dyta yah, aku kasihan lihat mereka terutama Dyta yang selalu manggil Abang El,” kata Rara dengan manja.


“Iya sayang, terserah kamu aja,” ucap Frezan dengan lembut seraya tersenyum hangat kearah Rara dengan menoel hidung milik Rara.

__ADS_1


Rara langsung turun dari ranjangnya untuk segera siap-siap. Terlebih dahulu dia mengirimkan pesan kepada Kayla untuk menyuruh kembar siap-siap ke Mall.


Rara akan membelikan barang yang disukai keponakannya nanti di mall.


__ADS_2