Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Misi untuk, Lea


__ADS_3

Lea sedari tadi menunggu Valen diparkiran rumah sakit. Dia ingin menjemput Valen karna Valen sendiri yang meminta ingin dijemput oleh Lea menggunakan motor gadis berusia 19 tahun itu.


Sementara Valen sedang berjalan dikoridor rumah sakit untuk segera menemui Lea diparkiran rumah sakit. Valen meminta jika Lea sudah pulang kampus, dia menyuruh Lea untuk singgah di rumah sakit. Karna jika Lea pulang kampus otomatis dia akan melewati rumah sakit tempat Valen bekerja.


"Valen!" Seketika langkah kaki Valen terhenti dikoridor rumah sakit saat suara yang tidak asing memangil namanya.


"Pulang sama siapa?" Tanya Nathan menghampiri Valen.


"Gue pulang sama Lea," jawab Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan. "Emangnya kenapa?" lanjutnya kepada Nathan.


"Gue mau ajak lo pulang bareng. Tapi lo udah sama Lea," kata Nathan tertawa kecil sehingga perawat yang lalu-lalang semakin terpesona melihat ketampanan Nathan saat pria itu tertawa kecil. Meskipun tidak ada yang lucu.


"Kalau gitu kita jalan bareng ke parkiran. Gue juga udah mau pulang," kata Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


Valen dan Nathan berjalan berdua dikoridor rumah sakit sembari bercerita tentang pasien yang mereka tangani dirumah sakit.


"Dokter Valen!" Lea melambaikan tangannya agar Valen melihat dirinya.


Suara cempreng Lea membuat Valen menggelengkan kepalanya, sementara Nathan melihat Lea yang sudah tidak asing lagi baginya.


Gadis yang pernah praktek dirumah sakit ini juga. Yang pernah menyuruhnya untuk memanjat pohon kelapa.


Valen dan Nathan langsung menghampiri Lea yang sedang meminum sesuatu, lebih tepatnya gadis itu sedang meminum Boba membuat Nathan bergedik ngeri. Pasalnya, gadis itu belepotan meminum Boba sehingga dipipihnya yang lumayan cabi ada cipratan minuman Boba.


"Udah lama nunggunya?" tanya Valen dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.


"Nggak kok Dok. Baru satu jam aja Lea nungguin dokter Valen," kata gadis itu membuat Nathan yang sedang menatapnya serius ingin memecahkan tawanya. Dia berbicara begitu santai seakan-akan satu jam itu tidak lama saat menunggu.


Sementara Valen tersenyum kecut mendenger penuturan tetangganya itu. Dia sudah merepotkan gadis manis dihadapanya ini. Dia ingin sekali naik motor menikmati angin pada sore hari ini, sehingga dia ingin naik motor bersama dengan Lea.


Senyum di wajah Nathan surut saat dia melihat Lea sedang menatapnya dengan tatapan centilnya.


"Kenapa?" tanya Lea membuat Valen menyeritkan alisnya. Sehingga Valen melihat kearah pandang Lea jika gadis itu sedang berbicara dengan Nathan membuatnya menggelengkan kepalanya.


Valen tidak tau, apakah gadis manis itu menyukai Nathan dengan cinta atau hanya iseng-iseng saja. Secara umurnya dengan Nathan beda 8 tahunan.


Tapi 'kan perasaan dan rasa suka kepada seseorang tidak memandang umur!

__ADS_1


"Lea tau kok kalau Lea cantik. Nggak cantik banget sih tapi bisa dibilang Lea itu manis," dengan pdnya gadis itu berkat kepada Nathan.


"Sampai-sampai Dokter Nathan senyum-senyum Lihat, Lea," lanjutnya sembari menyibakkan anak rambutanya membuat Valen ingin memecahkan tawanya sekarang juga melihat tetangganya melawak diparkiran rumah sakit.


"Karna apa? Yah....Karna Lea manis. Iyakan?" kata Lea lagi mengedipkan sebelah matanya kearah Nathan membuat Nathan dan juga Valen bergedik ngeri.


"Karna minuman yang kamu minum ada dipipih kamu," kata Nathan. Tentu saja dia berbicara dengan sopan bagaimanapun Lea itu masih seperti anak kecil apa lagi dirinya sudah dewasa.


Reflek saja Lea langsung mengambil tisu didalam tasnya. Rasanya sangat malu saat Nathan mengatakan kata seperti itu.


"Neng.... Minumannya belum dibayar." Bapak-bapak yang menjual es Boba menghampiri Lea membuat gadis itu menepuk jidatnya karna lupa membayar Boba tersebut.


"Maaf pak. Saya lupa," kata Lea dengan suara kecilnya disertai giginya tertatah rapi karna Cengengesan kearah penjual tersebut.


Lea mengambil dompetnya lalu membayar Boba tersebut dengan uang dua puluh ribu rupiah.


"Lebihnya bapak ambil aja, yah," kata gadis membuat Valen ingin sekali mengejek gadis itu.


"Makasih," kata Lea kepada Nathan membuat Nathan tidak tau untuk apa gadis gesrek itu mengucapakan kata terimakasih kepadanya.


"Buat?"


"Yaudah kita balik. Lama-lama disini buat kamu jadi tambah gesrek," kata Valen yang melihat tingkah Lea.


"Nona cantik jualan jamu. Jamu diminum terasa mengkudu. Meski kita jarang ketemu. Cintaku hanyalah untuk dokter Nathan!"


Valen membulatkan matanya saat mendengar pantun yang keluar dari mulut Lea sembari mengedipkan matanya sebelah kearah Nathan.


Valen menggelengkan kepalanya, melihat Lea memberikan pantun untuk Nathan membuatnya teringat masa SMA-nya yang selalu memberikan pantun cinta nan receh kepada Tegar saat masa SMA mereka.


Lea sama persis seperti dirinya, sangat genit kepada seseorang yang disukai. Sama seperti dirinya saat masa SMA sangat genit kepada Tegar sampai-sampai pak Bambang dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


Pertanyaannya, sejak kapan Lea pandai buat pantun? Apakah Lea sama seperti dirinya saat SMA melihat pantun dari goegle. Ternyata bukan cuman Valen saja mempunyai tingkah seperti itu, ternyata ada Lea.


Mengingat masa SMA-Nya membuat Valen tersenyum simpul.


Sementara Nathan hanya menggelengkan kepalanya, ternyata Lea lebih gesrek dari yang diabayangkan.

__ADS_1


"Yah..... Pantun Lea nggak asik yah," keluh gadis itu bersamaan dengan handponenya yang bergetar menandakan adanya pesan masuk.


Ting.....


Lea langsung mengambil handponenya untuk melihat siapa yang mengirimkannya pesan.


"Lo masih ingatkan tugas yang harus lo jalanin buat dapat motor baru."


Membaca pesan dari Rifal membuat Lea melihat kearah Valen membuat Valen bertanya-tanya. Lepas membaca pesan Lea langsung melihatnya.


Lalu tatapan Lea terarah kepada motornya, yang sudah lama ingin dia ganti.


Tangannya bergerak untuk membalas pesan dari Rifal.


"Kenapa?" tanya Valen penasaran.


"Misi buat Lea," kata Lea membuat Valen menggelengkan kepalanya.


"Yaudah kita pulang," ajak Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


"Dokter Nathan hati-hati yah." Lepas mengucapakan kata hati-hati kepada Nathan Lea langsung memasang helmnya.


"Gue duluan," kata Valen dan dibalas anggukan kepala beserta senyuman dari Nathan.


"Hati-hati, Va."


Sementara Rifal menatap kearah jendela kamar yang ditempati oleh Adelia. Dia masih penasaran kepada Valen saat itu.


Sehingga dia mengingatkan kepada Lea agar tidak melupakan tuga gadis itu.


Nathan menutup gorden kamar yang ditempati oleh Adelia. Tak dipungkiri kamar yang Adelia tempati sangat mewah.


Ceklek.....


Pintu kamar Adelia dibuka oleh Amora.


"Lo yang jaga Adel. Gue mau balik," kata Rifal datar kepada Amora.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu. Kita berdua yang harus jaga Adel. Kalau Adel bangun dia nyariin lo bukan gue."


__ADS_2