
Rifal sudah berbaring diatas tempat tidurnya, kedua perawat yang mengantar Rifal tadi sudah kembali di antar oleh supir.
''Istirahatlah,'' ucap Aska kepada Rina. ''Baring di samping Rifal,'' lanjut Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Rina.
Rina beranjak dari sofa yang dia duduki lalu berjalan menuju tempat tidur Rifal. Dia berbaring di samping Rifal seraya memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
Rina mengusap rambut anaknya dengan lembut, tanpa sadar air matanya turun begitu saja melihat wajah anaknya yang sangat tampan.
Dari kursi, Aska tau jika istrinya itu sedang menangis. Aska tidak menegurnya, rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh istrinya.
Aska menatap kamar Rifal dan juga Valen, kamar yang sangat rapih. Di meja rias, Aska melihat banyak peralatan make up milik Valen.
Di dinding kamar mereka, ada foto pernikahan mereka yang entah sejak kapan mereka pasang. Dimana saat itu Rifal dan Valen menikah saat masa SMA.
Ada foto Rifal dan Valen berpelukan begitu mesrah.
Di meja kerja Rifal, Aska melihat banyaknya tumpukan dokumen kantor. Diatas meja Kerja Rifal terdapat foto Valen yang mengenakan jas dokternya dan mengalungkan stetoskop di lehernya.
Huft
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Aska, bagaimana hidup anaknya nanti tanpa istrinya?
Mata Aska terpejam, karna sudah beberapa hari ini dia kurang tidur karna memikirkan ini semua, dia tidur diatas sofa empuk di kamar Rifal dan Rina tidur di samping Rifal memeluknya dengan erat.
Bagaiamana kabar Valen sekarang?
Aska sudah tertidur diatas sofa, begitupun dengan Rina yang sudah ikut berbaring di atas tempat tidur Rifal. Dia juga tidur, karna dia juga letih.
***
Pagi haripun tiba, dimana hari ini adalah hari dimana Agrif akan ke Banjarmasin. Pak Asegaf yang merupakan pengacara Daniel sudah sampai di rumah Daniel sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Barang-barang keperluan Agrif, seperti baju, permainan, sudah di masukkan kedalam tas kemarin sore.
Sehingga pagi ini dia tidak perlu repot lagi untuk menyiapkan barangnya.
Kabar satpam yang tidak sengaja di celakai oleh Agrif dengan pistol, karna peluru pistol itu langsung meleset dan menyambar lengan pak satpam.
Agrif tentunya tidak sengaja, pak satpam itu juga hadir untuk melihat kepergian Agrif untuk ke Banjarmasin entah berapa lama, atau bahkan anak itu tidak akan kembali.
Entahlah, Agrif saat dewasa akan mengatur dirinya sendiri.
__ADS_1
“Baik-baik, ya, di Banjarmasin.” Bi Minah tak sanggup menahan air matanya.
Dia menundukkan tubuhnya untu mensejajarkan tingginya dengan Agrif yang sudah rapih mengenakan Baju kaos mahalnya, dan celana panjang yang dia kenakan.
Tak lupa pula, dia meggendong tas kecilnya dengan tatapan yang sangat sulit di jelaskan.
Bi Minah mengusap air matanya lalu memeluk Agrif. Bagaimanapun, dia yang merawat Agrif sejak mamahnya meninggalnya saat sudah melahirkan.
Apa lagi Daniel jarang tinggal di rumah karna urusan kantor. Tapi Daniel selalu menyempatkan waktunya untuk Agrif, pergi ke Mall, tempat permainan dan taman, tempat terakhirnya bersama dengan Daniel.
Agrif membalas pelukan Bi Minah, membuat Bi Minah seakan-akan tidak ingin melepaskan anak dalam pelukanya saat ini.
Agrif kecil akan pergi ke Banjarmasin, dan akan meninggalkan mereka semua yang ada di rumah ini.
Satpam dan Art juga sedih dan menitihkan air mata melihat Bi Minah dan Agrif. Bagaimanapun, pekerja yang paling lama di antara mereka adalah Bi Minah, dan Bi Minah pula yang paling dekat dengan Agrif.
“Agrif!”
Suara yang tidak asing bagi mereka memasuki gendang telinga orang yang berada di ruangan tamu.
Lea berlari dan memeluk Agrif dengan erat, dia masih mengenakan baju perawat, pagi ini dia rela terlambat ke rumah sakit hanya untuk melihat Agrif pergi.
“Maafin kakak cantik, ya,” lirih Lea masih memeluk Agrif.
Sementara Bi Minah sudah berdiri dan membiarkan Lea memeluk Agrif.
“Agrif nggak benci kakak, kan?” tanya Lea karna Agrif tak kunjung membalas pelukanya.
“Meskipun kakak gagal jadi mama sambung sesuai permintaan kamu, tapi kakak nggak gagal, kan, jadi kakak untuk kamu?” lirih Lea masih dengan air mata yang menetes di pipihnya.
Agrif menggeleng lalu membalas pelukan Lea.
“Kakak cantik!”
Lea semakin terisak, ini pertama kalinya lagi Agrif memanggilnya dengan sebutan kakak cantik semenjak kejadian waktu itu.
Jujur saja, Lea merindukan panggilan itu keluar dari mulut mungil Agrif. Detik-detik perpisahan anak itu memanggilnya dengan sebutan kakak cantik.
Lea tau, jika anak ini tidak ingin bicara padanya, karna Lea sudah sibuk dengan tugas perkuliahannya sehingga dia jarang bertemu dengan Agrif.
“Maafin kakak cantik, ya,” gumam Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.
__ADS_1
“Kakak cantik, Agrif bakalan pergi. Dan nggak bakalan ketemu sama kakak cantik lagi,” senduh anak itu.
Tatapannya kini berubah menjadi kasihan. Lea menyelipkan anak rambut Agrif di telinganya lalu berkata. “Kamu bakalan kembali, kok,” tawa Lea. “Kalau kamu mau,” lanjutnya membuat Agrif langsung memeluk Lea dengan erat.
Seharusnya dia tidak marah kepada kakak cantiknya, karna waktu Lea bukan hanya untuk dirinya.
“Kata om, Banjarmasin ke Jakarta jauh,” aduh anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
“Emang jauh, tapi kalau naik pesawat dekat, kok,” jawab Lea tersenyum kearah Agrif.
“Kami di Jakarta bakalan nunggu kamu untuk kesini, meskipun itu masih lamaaaaaaa!”
Agrif mengangguk.
“Agrif,” panggil pak Asegaf.
“Ayok, pesawat sudah tidak lama lagi berangkat,” Asegaf berbicara dengan kata yang akan di pahami oleh Agrif.
Mereka semua mengantar Agrif sampai luar gerbang, mereka tidak bisa mengantar Agrif sampai bandara.
Saat keluar dari pintu rumah, Agrif melihat pria yang sudah bertemu denganya di taman menggendong anak kecil.
“Om, Turunin, Dyta,” ucap Dyta sehingga Frezan menurunkan Dyta dengan bola basket yang dia bawa.
Anak itu berjalan menuju Agrif yang tanganya di gandeng oleh pak Asegaf.
“Hadiah terakhir dari Dyta, sebelum kak Agrif pergi.” Dyta memberikan bola basket yang pernah dia mainkan bersama Agrif di sekolah.
Di bola basket itu tertulis nama Dyta dan juga nama Agrif. “Makasi, Ta,” ucap Agrif mengambil bola basket yang di berikan oleh Dyta.
“Sama-sama, jangan lupain Dyta, ya, kalau udah jauh.”
Agrif hanya menganguk.
“Baik-baik di sana,” Frezan datang mengusap rambut Agrif.
Frezan dan Asegaf bersalaman, tentu saja Asegaf kenal siapa orang di hadapanya ini.
“Tolong jaga Agrif, sampai tujuan, jangan sampai dia kenapa-napa.”
“Baik pak.”
__ADS_1