Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Setuju


__ADS_3

Sudah dua batang rokok yang berhasil di hisap oleh Rifal, dengan matanya memandang keluar jendela.


Pikiranya di penuhi dengan nama Elgara, bagaiamana jadinya jika sahabtnya itu benar-benar di penjara selama 13 tahun lamanya.


Huft


Lagi dan lagi Rifal hanya bisa mengembuskan nafasnya berat, jika dia ingin berlawanan dengan Frezan, sudah yakin dirinya akan kalah.


Jalan satu-satunya hanya dengan kesadaran Daniel, jika pria itu sadar maka hukuman yang diberikan pada Elgara akan berkurang.


Tidak terasa, rokok yang dia hisap telah habis, dia kembali melangkahkan kakinya menuju kursi tempatnya kerja.


Rifal kembali menyandarkan kepalanya di kursi, seraya memejamkan matanya, ketukan pintu berhasil membuatnya membuka matanya.


Tok…Tok…Tok


“Tuan, ada Lea dibawa. Dia mencari tuan,” ucap bibi dari balik pintu.


Ngapain tuh anak nyariin gue.


“Suruh tunggu sebentar,” sahut Rifal.


“Baik tuan.” Lepas itu, bibi langsung pergi dari balik pintu tempat kerja Rifal.


Rifal berdiri dari tempat duduknya, lalu keluar dari ruangan kerjanya, dia juga penasaran dengan kedatangan Lea.


Rifal sudah melihat Lea, duduk di ruangan tamu seraya menunggu kedatanganya.


“Hmmm,” Rifal berdehem sehingga Lea langsung cengengesan kearah Rifal.


“Om Rifal,” panggil Lea.


“Sudah lama yah, tidak kesini,” ejek Rifal. Sudah beberapa minggu Lea sudah tidak datang di rumah Rifal. Saking sibuknya dengan kuliahnya, terutama menjaga Daniel dan memperhatikan Agrif.


“Apa aja kesibukanya,” lanjut Rifal.


“Akhir-akhir ini Lea sibuk,” kata gadis itu. “Lea kesini, cuman mau minta tolong sama om Rifal,” lanjut gadis itu.


“Mau minta tolong apa?” Tanya Rifal yang sudah memiliki firasat yang tidak enak.


“Gini…”

__ADS_1


“Gini apa?”


“Ini soal kampus,” kata gadis itu.


“Apa urusannya saya sama kampus kamu Lea,” Rifal memutar bola matanya malas kearah Lea.


Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Sebenarnya, Lea mau ketemu sama dokter Valen. Tapi dari tadi Lea hubungi dokter Valen nggak di angkat. Jadi, Lea ngomongin ini aja sama om Rifal.” Rifal masih di buat bingung dengan gadis di hadapnya ini.


“Langsung ke intinya aja. Kamu kalau bicara kayak bocah 12 tahun,” ucap Rifal. Membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.


“Sabar kali om,” kata Lea membuat Rifal memutar bola matanya malas.


“Yasudah bilang.”


“Sebenarnya, Lea kesini mau ketemu sama dokter Valen. Karna dokter Valen, nomornya sibuk, jadi Lea ngomong ini sama om Rifal. Lalu, om Rifal yang nyampaian sama dokter Valen.” Lea mulai menjelaskan niatnya kepada


Rifal membuat pria itu menunggu kelanjutan perktaan Lea.


“Lea mau nyuruh dokter Valen ke kampus, kalau turun praktek nanti Lea di tetapkan di rumah sakit tempat dokter Valen bekerja. Soalnya, Lea jagain keluarga Lea di sana, kalau Lea di tempatkan di rumah sakit lain, siapa yang akan merawatnya,” bohongnya, tidak memungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya.


“Kamu praktek kapan?” Tanya Rifal dengan serius.


“Itu cuman bonusnya om,” kata gadis itu tanpa beban.


“Besok udah mulai pembagian, di rumah sakit mana mahasiswa di tetapkan. Lea maunya di rumah sakit tempat dokter Valen bekerja. Karna alasan Lea yang tadi,” serius gadis itu membuat Rifal memicingkan matanya kearah Lea.


Pikiran Rifal hanya satu, jika ini hanya alasan Lea saja ingin satu rumah sakit dengan Valen, agar dia bisa melihat setiap saat dokter Nathan.


Rifal tersenyum simpul, bagus jika Lea berada di rumah sakit tempat Rifal dan Nathan bekerja, biar gadis itu bisa mengawasi Valen agar tidak berdekatan dengan Nathan.


“Berapa lama kamu prkatek?” Tanya Rifal.


“Sekitar satu bulanan,” jawabnya.


“Kalau soal permintaan kamu tadi, itu sangat gampang,” kata Rifal dengan santai membuat Lea menjadi legah. Setidaknya, dia bisa memberikan waktunya pada Agrif dan melihat keadaan Daniel di saat jam istirahat. Jika dia praktek di rumah sakit tempat Valen bekerja, karna Daniel tengah di rawat di sana.


“Serius om?” Lea memastikan perkataan Rifal, dan dibalas anggukan kepala oleh pria itu.


“Tapi ada syaratnya,” ucap Rifal dengan santai membuat Lea mengerucutkan bibirnya, dia sudah menebak persyaratan apa yang akan diberikan Rifal kepada dirinya.

__ADS_1


“Syaratnya apa?”


“Kamu cukup mantau Valen, agar tidak dekat dengan Nathan, kamu tidak mau kan jika orang yang kamu sukai dekat dengan orang lain,” kata Rifal dan dibalas anggukan setuju oleh Lea.


“Ok, Lea setuju,” ucap Lea.


Lepas bercakap-cakap dengan Rifal, gadis itu pamit pulang karna ingin menyelesaikan tugasnya, karna malam minggu nanti dia akan bermalam di rumah sakit sesuai dengan janjinya kepada Agrif tadi.


Rifal di ruang tamu nampak berpikir, dia pikir ada yang tidak beres dengan apa yang barusan dia katakan. Beberapa detik kemudian, dia menepuk jidatnya. Dia lupa, jika Valen tengah mengambil cuti selama dia hamil sampai melahirkan.


Rifal beranjak dari kursi yang dia duduki, karna dia ingin kembali ke kamarnya, dia sudah memikirkan mengenai permintaan Valen yang ingin liburan ke Bali.


Rifal menaiki anak tangga, dan melihat Aska juga sedang menuruni anak tangga, sehingga anak dan bapak itu berpapasan di tangga.


“Kenapa? Pusing yah?” Ejek Aska membuat Rifal menatap kesal kearah Aska.


“Urusan perempuan lebih melelahkan,” kata Rifal dengan raut wajah pasrah membuat Aska tertawa kecil.


“Sekarang kamu percaya kan, dengan perkataan Mommy kamu,” kata Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Aska menepuk pundak Rifal. “Sabarnya di besarkan lagi,” kata Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Rifal kembali melanjutkan langkah kakinya, untuk segera ke kamar.


Ceklek


Pintu kamar dibuka oleh Rifal, dia melihat Valen tengah tertidur di meja tempatnya tadi. Rifal menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Lepas itu, dia menghampiri Valen.


Rifal tersenyum hangat melihat Valen tengah tertidur lelap, dia menyingkirkan anak rambut Valen yang menghalangi wajahnya yang cantik.


“Len,” panggil Rifal dengan lembut.


Hanya satu kali Rifal memanggil nama Valen dengan lembut, mampu membuat wanita itu langsung bangun, dia mengerjapkan matanya dan langsung di suguhkan wajah tampan milik suaminya.


Rifal tersneyum hangat kearah Valen, “besok kita ke Bali.”


Kata-kata Rifal mampu membuat Valen langsung memperbaiki duduknya. Dia menghadap Rifal, dia tidak menyangka jika Rifal akan mengiyakan permintaannya ini.


“Serius?” Valen memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


“Aku serius, ini demi kamu dan anak kita,” ucap Rifal membuat Valen langsung memeluk Rifal.

__ADS_1


“Jangan ngambek lagi,” kata Rifal membalas pelukan Valen.


“Ini karna kamu pulang subuh, aku capek nungguin kamu.”


__ADS_2