
Melihat kekesalan istrinya membuat Rifal menyungkirkan senyuman tipisnya. Tadi dirinya yang kesal karna ulah Valen, sekarang dia akan balas dendam kepada Valen.
Giliran dia yang akan membuat Valen kesal.
“Kita menetap di Villa,” kata Rifal santai seraya menyesap secangkir coffe miliknya. “Uang saya menipis,” bohong Rifal membuat Valen melotokan matanya kearah Rifal.
Dia tidak percaya jika suaminya akan berkata uangnya sudah menipis. Setahunya, harta milik suaminya itu biasa membiayai seribu kartu keluarga beberapa tahun.
Itu hanya sebagian kecil yang dia tau, “kalau mau bohong yang masuk akal!” beber Valen membuat Rifal mengangkat kedua bahunya acuh.
“Kamu tidak tau saja, selama Nando bekerja di perusahaan uang kantor menipis,” drama Rifal dengan raut wajah sedih, namun dia langsung teringat pada asistennya itu.
Yah, Rifal Akui jika asistennya itu sudah mengambil 5 persen kekayaannya.
“Aku tetap nggak percaya!”
Rifal mendongakkan kepalanya, sehingga matanya dengan mata Valen bertemu. “Kamu mana tau urusan kantor,” ucap Rifal.
“Kalaupun uang kamu banyak di ambil sama Nando, itu nggak bakalan sampai lima persen,” gerutu Valen. “Sejak kapan sih kamu jatuh miskin!”
Rifal ingin tertawa, namun dia berusaha menahan tawanya. Bagaiamana jika dia benaran jatuh miskin? Apakah istrinya masih bertahan? Pasti masa depan anaknya akan suram, kekurangan uang untuk hidup.
“Intinya aku tidak bisa,” kata Rifal final berdiri dari kursi yang dia duduki.
“Fal!” Valen mengekori Rifal yang berjalan keluar dari kamar.
“Kamu tega banget sih sama aku!” Valen masih bisa mempertahankan suaranya agar tidak bergetar.
“Kamu ngajak aku kesini liburan, bukan mengurungkan diri dalam Villa,” oceh Valen masih setia mengekori suaminya itu dari belakang.
Rifal berhenti berjalan tepat didepan jendela, dia langsung di suguhkan pemandangan yang sangat indah. Tidak sia-sia dia mengajak Valen untuk tinggal di Villa ini.
''Fal,'' panggil Valen sehingga Rifal langsung membalikkan tubunya melihat Valen yang tampil cantik malam ini.
''Ayok keluar,'' ajak Valen dengan lembut agar suaminya itu mau keluar denganya.
Huft
Dengan sengaja Rifal menghembuskan nafas berat agar terlihat lebih stres dan banyak pikiran.
''Aku tidak bisa.''
__ADS_1
Jawaban dari Rifal membuat mata Valen jadi berkaca-kaca. Namun Rifal tidak melihat itu karna dia kembali membalikkan tubunya melihat pemandangan dari luar melalui jendela.
Valen tidak menyangka, jika Rifal beneran tidak ingin keluar. Padahal dia sudah dandan cantik untuk keluar makan malam di resaturan yang ingin sekali dia kunjungi jika dirinya ke Bali.
Valen mengusap air matanya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Rifal yang masih setia melihat pemendangan diluar.
Air mata Valen tumpah, sedari tadi dia ingin menangis namun dia berusaha menahannya.
''Kam-'' ucapan Rifal menggantung saat dia membalikkan tubuhnya sudah tidak melihat istrinya lagi.
''Len,'' panggil Rifal. Dengan cepat Rifal berjalan menuju kamar untuk mencari keberadaan Valen.
''Sayang!” Rifal mengutuk pintu kamar, karna saat dia ingin membuka handel kamar tidak bisa, itu berarti kamar dikunci dari dalam.
''Sayang, aku minta maaf. Aku cuman sengaja. Aku nggak jatuh miskin beneran sayang. Aku masih kaya, tenang saja anak kita tidak akan kekurangan apapun!'' ucap Rifal seraya mengedor-menggedor pintu kamar.
Hiks…..Hiks….Hikssss
Rifal bisa mendengar suara tangisan dari dalam, membuatnya semakin panik.
''Aku bakalan pergi, hiksssss hiksss!” teriak Valen dari dalam seraya menangis begitu kencang.
Perkataan Valen mampu membuat Rifal dari luar kelimpungan. Mau kemana Valen?
“Kalau sampai kamu kenapa-napa sama calon anak kita….Aku bakalan pergi dan nggak bakalan kamu lihat lagi!” ancam Rifal membuat Valen semakin terisak.
“Kamu nggak peka, aku cuman minta makan malam diluar tapi kamu nggak mau!'' balas Valen dari dalam kamar disertai dengan isakan.
Rifal mengacak rambutnya sendiri. ''Kamu nggak bakalan tau, Len!” teriak Rifal. ''Makanya buka pintu kamar!” Lanjut Rifal namun tidak membuat Valen bergerak dari tempat tidurnya.
Rifal berjalan menuju meja yang tidak jauh dari pintu kamar mereka. Dia yakin pasti ada kunci cadangan kamar yang mereka tempati.
Rifal membuka satu persatu laci, dan mendapatkan kunci yang dia cari.
“Dapat,'' gumamnya memegang kunci tersebut lalu berjalan dengan cepat menuju kamar.
Dia mulai membuka pintu kamar menggunakan kunci cadangan, sementara Valen belum sadar jika suaminya sudah berhasil masuk kedalam kamar menggunakan kunci cadangan.
Dia terlalu meresapi setiap tangisnya, sehingga suara tangisnya tidak mengizinkan sesuatu terdengar.
Rifal menghembuskan nafas berat melihat Valen berada diatas tempat tidur menyelimuti tubunya, hanya terlihat rambut cantiknya saja.
__ADS_1
“Len,” panggil Rifal.
Nampak samar namun jelas, namun Valen pikir jika suara Rifal itu berasal dari luar.
''Aku minta maaf,'' sesal Rifal.
Valen menyungkirkan selimutnya sehingga dia bisa melihat suaminya berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.
Lewat mana Rifal masuk? Itu yang dipikir oleh Valen, namun dia kembali tersadar jika tempat semewah ini pasti ada kunci cadangan.
Melihat kondisi Valen yang berantakan, jauh dari kata rapih membuat Rifal langsung memeluk istrinya.
Hiksss hiksss hiks
Valen kembali menangis saat mendapatkan pelukan hangat nyaman dari suaminya, '' aku tidak miskin, Len. Aku masih menjadi Suami kamu yang kaya raya!” Valen kembali menangis mendengarkan Rifal.
Sungguh dia tidak percaya jika suaminya itu akan mengalami krisis uang, dia cuman percaya jika suaminya itu tidak ingin mengajaknya keluar dari sini.
‘’Sampai kapan pun, aku nggak bakalan percaya kalau kamu bakalan jatuh miskin,'' tangis Valen.
‘’Terus kenapa kamu menangis?'' Tanya Rifal membuat Valen mencubit perut Rifal yang masih berada dalam dekapanya.
Rifal berusaha menahan rasa sakit di perutnya karna di cubit oleh Valen begitu kuat penuh dengan kekesalan.
“Sakit, sayang,'' ringis Rifal membuat Valen memberhentikan aksinya.
''Aku tau, kamu nggak mau ajak aku keluar dari sini. Kamu cuman terpaksa ke Bali karna ego aku.''
Rifal langsung menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Valen.
''Aku cuman sengaja, Len. Nggak mungkin permintaan kecil kamu itu aku nggak tururti,'' tutur Rifal.
''Terus kenapa kamu nggak mau? Apa karna aku banyak maunya? Ini bukan aku yang min-''
“Dede bayi dalam kandungan kamu yang minta kan sayang,'' Rifal melanjutkan perktaan Valen seraya berusaha tersenyum manis. Dia sudah tau kelanjutan perktaan Valen.
''Kamu udah tau kenapa kamu nggak mau,'' beber Valen.
''Kamu nggak bakalan ngerti,'' jawab Rifal.
''Aku selalu ngertiin kamu, kamu aja yang nggak mau.''
__ADS_1
Rifal ingin menjelskan kekesalannya juga pada Valen, namun dia mengurungkan niatnya.