Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kekesalan Valen


__ADS_3

Ting….


Ponsel Nathan bunyi, menandakan adanya pesan masuk.


''Siapa?'' tanya Lea seraya memakan snack yang sempat di beli oleh Nathna tadi saat mereka habis dari restoran.


''Abang Eza.''


“Nath. Kau langsung kesini nanti. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu.”


Nathan membaca pesan yang di kirim oleh saudaranya, Frezan.


''Lea, kita tunda dulu buat ke butik. Eza nungguin aku di rumahnya. Mungkin ada hal penting yang ingin Eza katakan.''


Lea mengangguk dengan apa yang Nathan ucapkan. ''Nggak apa-apa, lamaranya juga masih ada dua mingguan.''


Yah, acara pelamaran sisa dua minggu lagi. Nathan akan melamar Lea, lepas itu menentukan tanggal pernikahan mereka.


Ini yang kedua kalinya mereka gagal ke butik, padahal Rossa pemilik butik sudah menunggu mereka dari kemarin-kemarin untuk mencoba gaun yang dia buat terkhusus untuk acara Nathan.


Nathan mengirimkan pesan kepada Rossa jika pagi ini mereka tidak datang lagi. Padahal mereka sudah sampai di depan butik Rossa tadi, namun kondisi Lea yang sedikit membaik membuat Nathan meninggalkan butik.


Nathan menjalankan mobilnya untuk mengantar Lea kerumahnya lalu ke rumah Frezan.


Nathan sudah membeli snack yang banyak untuk kedua adik Lea dan kebutuhan bumbu dapur yang praktis untuk Novi.


Setelah mengantar Lea pulang, Nathan langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Frezan.


Entah apa yang ingin Frezan katakan padanya.


Rara membuka pintu dan muncullah sosok Nathan.


''Kak Eza udah nungguin kak Nathan di ruangan kerjanya.''


''Terimaksih.''


Rara mengangguk lalu kembali menutup pintu, Nathan sudah masuk kedalam ruangan kerja Frezan yang di penuhi dengan buku-buku, entah buku apa saja di atas rak ruangan kerja Frezan.


Nathan sudah melihat Frezan duduk di meja kerjanya seraya menatap fokus laptopnya, selama Daniel tidak ada, Frezan yang selalu menghandel pekerjaan seorang diri.


Padahal saat Daniel kerja padanya, pria itu selalu mengerjakan tugas kantor hingga tuntas, sehingga Frezan tidak terlalu memikirkan hal ini.


Namun sekarang Daniel sudah tidak ada, Frezan juga belum mencari pengganti untuk Daniel. Mencari tangan kanan yang jujur tidaklah muda.


Nathan menutup pintu lalu duduk di depan Frezan.


''Mau nikah sama siapa kau?'' pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh Frezan tanpa mengalihkan pandanganya dari laptop.


Dan jangan lupa, nada suaranya yang sangat dingi, membuat Nathan bergedik ngeri.


''Adikmu ini lambat menberitahukan padamu.'' Nathan membalas seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


Padahal niatnya akan mengatakn hal ini esok, namun Frezan sudah lebih dulu mengetahuinya, entah dari siapa.


''Kau lambat atau kau tidak ingin aku datang ke pernikahan mu?'' tandas Frezan menutup laptopnya lalu menatap tajam Nathan.


''Seharusnya berita ini kau beritahu aku lebih awal, Nath. Aku yang paling tua diantara kita bertiga. Hal sepenting ini kau remehkan dan tidak memberitahukan padaku.'' Suara Frezan pelan namun penuh dengan penekanan.


''Bukan begitu,'' tandas Nathan.


''Kedua orang tua kita sudah tidak ada, kau dan Farel masih menjadi tanggung jawabku sampai kalian menikah.''


Nathan mengembuskan nafas berat.


''Aku mau menikahi Lea.''


Hening


Didalam ruangan Frezan langsung berubah menjadi keheningan, yang tadinya nampak menyeramkan karna aura Frezan langsung berubah karna tawa hangat dari saudaranya.


''Apa kau tidak salah? Kau masih ingat bukan apa yang pernah kau katakan satu tahun yang lalu di ruangan ini?'' Frezan belum menghentikan tawanya.


Ahk, sungguh dia tidak percaya jika adiknya itu memakan omongannya sendiri.


''Aku merestuimu dengan gadis itu. Dia juga baik dan aku pastikan dia pasti bisa merawat dirimu di rumah dan Farel.''


''Lea akan menjadi ipar, Farel. Sekaligus sebagai ibunya.''


***


Dia masih mengantuk, sehingga matanya belum terbuka.


Dengan mata yang sedikit tertutup, Valen melihat jam di ponselnya.


''Jam 11,'' gumam Valen dengan santai ingin melanjutkan tidurnya, beberapa detik kemudian matanya terbuka sempurna membuat wanita itu langsung menyibakkan selimutnya turun dari tempat tidur.


Dia lupa, jika dia mempunyai anak, tidak seharusnya dia bangun jam begini.


Cup


Sebelum meninggalkan Rifal, Valen lebih dulu mencium pipih suaminya lalu berlalu pergi.


Ceklek.


Valen membuka kamar yang di tempati Kianna, dia sempat terkejut melihat Nando baring di tempat tidur.


Valen langsung menghampiri Anna di tempat tidur anak itu yang terbuat dari kayu yang di hias secantik mungkin.


Valen mengusap pipih Kianna, masih ada jejak air mata di pipih anaknya itu.


''Itu berarti Anna menangis? Gue sampai nggak dengar.'' Valen merasa bersalah. ''Maafkan mamah, ya.''


Lalu Valen melirik Nando yang tertidur nyenyak, dia menebak jika Nando yang bangun menenangkan Kianna sehingga pria itu ada di sini.

__ADS_1


Padahal semalam Nando di sofa bawah.


Anaknya itu tidur dengan nyenyak membuat Valen berinistiaf membuatkan Nando makanan karna sudah menjaga Kianna di saat dirinya tidur dan tidak mendengar tangisan Anna.


Valen mencium pipih Anna dengan gemes, lalu berlalu pergi dari kamar yang di tempati Nando tertidur.


Valen membuka kulkas, tidak ada stok makanan didalam kulkas untuk dia masak.


Di kulkas hanya ada telur saja.


''Apa gue belanja di minimarket aja?'' menolog Valen dengan ragu-ragu.


Namun ia juga takut, karna Rifal mengingatkan dirinya untuk tidak kemana-mana dulu sebelum Rifal mengizinkannya.


Dia ingin membangunkan Rifal, namun Rifal tidur nyenyak.


''Gue harus gimana?'' gumamnya dengan bingung.


Jika ia keluar, besar kemungkin orang yang mengenal dirinya akan melihat dirinya berkeliaran di sini.


Sementara Rifal masih tidak ingin orang-orang tau jika ia masih ada di sini, dan masih menghirup udara.


Valen juga merindukan kedua sahabatnya yaitu Kayla dan Rara.


''Rifal marah nggak yah kalau gue keluar.''


''Mau kemana?''


Deg


Valen langsung di kejutkan suara Rifal, laki-laki itu hantu tiba-tiba muncul.


Valen membalikkan tubuhnya dan melihat Rifal menatapnya dengan mata yang masih menahan kantuk.


''Kebiasaan banget sih, Len. Ninggalin suami pas lagi tidur.'' Suara Rifal sedikit kesal.


Bagaiamana tidak jika ia bangun tidur, namun Valen sudah tidak ada di sampingnya, dia mencari di kamar Anna yang dia dapatkan hanya Nando yang mendengkur sangat keras membuat Rifal berpikir sejak kapan Nando naik keatas kamar.


''Aku mau masak, jadi aku bangun ninggalin kamu.''


''Kita bisa pesan online.''


''Tapi aku pengen masak sendiri, Fal.''


''Waktu untuk kamu masak akan terbuang, lebih temenin aku di dalam kamar.''


Valen nampak kesal, Rifal tidak tau saja jika anak mereka tadi menagis tidak terdengar oleh telinganya.


Ia ingin memasak untuk menebus kesalahannya pada Nando.


''Aku masak buat, Nando.''

__ADS_1


__ADS_2