
Lea langsung menghempaskan tubuhnya diatas sprimbed sederhana miliknya. Jam sepuluh pagi ini dia kerumahnya, dan sudah tidak melihat mamah dan juga kedua adiknya.
Mungkin saja mamah Lea masih berada di pasar, dan kedua adiknya sudah ke sekolah.
Novi turun dari motor tukang ojek membawa keranjang belanjanya dari pasar.
Dia melirik depan pintu, dan melihat sandal Lea ada di depan pintu. Itu menandakan gadis itu sudah pulang.
Novi langsung membayar tukang ojek tersebut lalu masuk kedalam rumahnya.
"Lea," panggil Novi.
Baru saja Lea ingin memejamkan matanya, suara Novi sudah memasuki gendang telinganya.
"Iya, Mah!"
Novi yang mendapat balasan dari Lea, langsung meletakkan keranjangnya diatas meja.
Novi langsung membuka kamar Lea.
"Pulang kuliah, bukanya pulang kerumah dulu!" omel Novi.
"Itu mata kamu juga kenapa, Lea? Kamu habis nangis lagi? Seharusnya perbanyak doa untuk Rifal dan Valen. Bukan hanya asik menangis saja!" lanjutnya masih mengomel.
"Lea habis dari pemakaman, Daniel."
Deg
Tentu saja nama Daniel sudah tidak asing bagi telinga Novi, dia mengingat pria itu pernah mengantar Lea ke kampus dan juga kedua adik Lea, yaitu Raka dan Riki.
"Lea..."
Huft
"Lea juga nggak tau mah, gimana nasib anaknya." Lea belum menceritakan, jika selama ini Lea yang menjaga Daniel di rumah sakit.
"Kasihan sekali, padahal anaknya masih kecil semua."
Lea melirik Novi.
“Anak itu tinggal sama siapa, Lea?” tanya Novi. “Pasti papahnya sudah menyiapkan banyak hal untuk masa depan anaknya,” gumam Novi dan dibalas anggukan setuju oleh Lea.
“Kamu kenapa nggak hubungi, mamah? Mamah kan bisa sempatkan untuk kesana,” ucap Novi masih memikirkan anak sekecil Agrif yang sudah tidak mempunyai kedua orang tua.
“Ponsel Lea mati, mah.”
“Kebiasaan.”
“Lea juga udah nggak akan sesibuk dulu.”
“Maksud kamu apa? Kamu mau berhenti kerja tugas? Dan berhenti kuliah, iya, gitu?” Novi berkacak pinggang berdiri dari tempat tidur Lea yang dia duduki.
“Nggak, mah. Kemarin itu tugas Lea udah kelar. Kedepanya lagi, tugasnya nggak bakalan banyak kayak beberapa bulan lalu.” Lea menjelskan membuat Novi menganguk mengerti.
“Yasudah.”
__ADS_1
“Bagaimana kabar Rifal? Katanya dia sudah ketemu.”
“Belum ada info dari Kak Nando,” jawab Lea.
“Kalau Valen, gimana? Udah ketemu?” tanya Novi lagi.
“Belum ada info juga, Mah. Tapi Semogah aja ada kabar baik dari Kak Nando,” harap Lea.
“Amin.”
“Lea tidur dulu, Mah. Soalnya ngantuk!” kata Lea seraya menguap.
“Iya. Nanti kalau udah waktunya makan siang, mamah bangunin.” Sudah itu, Novi melenggang pergi meninggalkan Lea.
Lea membaringkan tubuhnya senyaman mungkin, beberapa menit kemudian dia tertidur karna kecapean.
Badan gadis itu semakin kurus. Bagaiamana tidak, jika selama Daniel di rawat gadis itu selalu begadang.
Bahkan berat badanya turun 6 kilo karna beberapa bulan ini Lea begadang.
Pukul 12 siang, waktunya makan siang.
Novi melangkahkan kakinya menuju kamar Lea, guna membangunkan anaknya itu untuk makan siang.
Sementara kedua adiknya sudah berada di meja makan, menunggu sang kakak baru mereka makan.
Tok…Tok…Tok
Novi mulai mengetuk pintu kamar Lea, namun belum ada respon dari dalam.
“Lea bangun makan, udah siang!”
Ceklek
Dengan mata masih terpejam, Lea membuka pintu kamarnya. Novil menggelengkan kepalanya melihat Lea.
“Buruan cuci muka, Raka sama Riki udah nungguin di meja makan.” Novi langsung pergi setelah memberitahukan kepada anaknya itu.
“Iya, mah,” jawabnya dengan lesuh lalu menutup pintu kamarnya.
Padahal, dia merasakan baru-baru saja tidur dan sudah di bangunkan oleh ketukan pintu dan teriakan dari mamahnya.
Tidak butuh waktu lama, Lea bergabung di meja makan bersama adik-adiknya.
Di atas meja sudah terhidang berbagai macam lauk. Setiap hari Jumat Novi ke pasar, jika dia pulang dari pasar maka dia akan berbelanja beberapa jenis sayuran dan juga ikan serta ayan potong.
Sehingga, hidangan di meja makan saat ini lumayan banyak.
Lea menggeser kursi lalu duduk berhadapan dengan kedua adiknya.
Raka dan Riki makan dengan lahap, begitupun dengan Lea. Lea tersenyum melihat kedua adiknya makan dengan lahap.
Namun senyuman di bibirnya langsung luntur saat nama Agrif langsung masuk kedalam pikiranya.
Apa Agrif udah makan, yah? Lea hanya bisa membatin.
__ADS_1
Tiba-tiba saja makanan dalam mulutnya terasa hambar, karna pikirnya di penuhi dengan nama Agrif.
Novi melirik Lea, karna berhenti mengunyah dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Lea. Kok makananya nggak di makan?” tanya Novi sehingga Raka dan Riki langsung melihat sang kakak.
“Padahal makananya enak loh.” ucap Raka, sementara Riki hanya menganguk.
Riki tidak suka bicara jika dia sedang makan. Baginya, jika orang makan sambil mengobrol itu tidak sangat sopan.
Maka dari itu, Riki selalu diam saat di meja makan, berbeda dengan Raka yang biasa mengobrol di meja makan.
Masih kecil, namun Riki sudah tau mana baik dan buruk. Membuat Lea bangga kepada adiknya itu.
Dia bangga dengan kedua adiknya, bukan hanya kepada Riki saja. Karna kedua adiknya itu mempunyai karakteristik masing-masing.
“Tiba-tiba Lea nggak nafsu makan,” ucapnya dengan suara lesuh.
“Nggak baik pasang muka lesuh, di depan makanan,” celetuk Riki membuat ketiga manusia itu menatap Riki.
Novi tersenyum kearah Riki sementara Lea tersenyum kecut saja.
“Dengar tuh, kata kak Riki…”
Riki tidak membalas perkataan Raka lagi. Padahal, yang kakak adalah Raka, sementara Riki hanya adik.
Tapi begitulah Raka, dia menganggap dirinya itu adik dan menganggap Riki adalah kakaknya.
Dia merasa jika yang pantas jadi kakak adalah Riki, bukan dirinya.
“Makan dulu, nanti cerita sama mamah,” cakap Novi.
Lea menganguk, lalu mereka kembali makan dengan khidmat.
Lea juga makan, namun merasa jika makanan yang masuk dalam mulutnya sangat hambar, tidak berasa sama sekali.
Apa Agrif sudah makan?
Apa Agrif sedang menagis sekarang?
Apa Agrif sedang memanggilnya?
Apa Agrif sedang menangis dan meminta Daniel Untuk datang memeluknya?
Apa Agrif akan menerima ini semuanya?
Itu semua ada dalam pikiran Lea.
Anak sekecil Agrif, harus menyandang status sebagai anak yatim piatu yang kaya. Yang di mana usianya masih memerlukan perang orang tua.
Namun takdir berkata lain, karna kedua orang tuanya menghadap sang khalik di usinya yang masih kecil.
Ahk, memikirkan itu membuat Lea ingin berada di dekat Agrif setiap saat. Dia ingin berperan sebagai kakak Agrif. Seperti Raka dan Riki.
Usinya masih kecil, perjalananya masih panjang. Di usia ini, hidupnya sudah sepenuhnya indah.
__ADS_1
Sementara Agrif? Kedua orang tua saja dia tidak punya, bagaiamana bisa hidupnya berwarna seperti orang lain.