Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Bersaing dengan Kianna


__ADS_3

Ucapan Nathan barusan membuat semburat merah di pipi Lea. Lagi-lagi gadis itu salting dengan ucapan Nathan barusan.


Nathan mengambil cincin berlian itu lalu menggandeng tangan Lea keluar dari toko tersebut.


''Habis ini kita mau kemana?'' tanya Lea saat Nathan membukakan pintu mobil untuk Lea.


''Rahasia.''


Lea mencabikkan bibirnya, saat Nathan mengatakan kata rahasia. Nathan menjalankan mobilnya meninggalkan toko perhiasan.


Lea menyandarkan kepalanya di sandaran mobil lalu melirik Nathan yang tengah fokus menyetir mobil. ''Dokter Nathan laper,'' ucap Lea dengan lemes membuat Nathan terkekeh.


''Maaf, aku lupa,'' jawab Nathan seraya membelokkan mobilnya masuk kedalam cafe untuk mengesi perut Lea yang sedang lapar.


Lea ingin membuka pintu mobil namun langsung di cekat oleh Nathan. ''Biar aku yang buka,'' ucap Nathan keluar dari mobil.


Ucapan manis Nathan barusan membuat Lea kembali menjadi salting dan merasa dunia milik berdua.


Dia masih seperti mimpi bisa memiliki dokter Nathan, dan mereka akan segera menikah.


Padahal, seingatnya dulu dia mengejar dokter Nathan namun pria itu tidak meliriknya sama sekali.


Dan sekarang mereka menjalin hubungan serius yang akan menuju jenjang pernikahan. Tidak lama lagi Nathan akan melepaskan masa lajangnya, memang seharusnya begitu karna teman sebaya Nathan sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak.


Dan Lea akan melepaskan masa mudanya untuk menikah dengan dokter Nathan. Dia yakin dokter Nathan akan memaklumi setiap sikapnya yang akan membuat siapapun menjerit.


''Lea.''


''Iya dok.''


''Kamu mikirin apa? Sedari tadi aku manggil kamu tapi kamu cuman senyum-senyum begitu.''


Lea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya turun dari mobil. ''Lea nggak mikirin apa apa,'' jawabnya dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


Mereka berdua berjalan menuju masuk kedalam cafe. Nathan menggeser kursi untuk di duduki oleh Lea.


''Mau makan apa?'' tanya Nathan seraya melihat menu-menu di cafe ini.


''Apa aja, Lea suka semua makanan kok,'' ucapnya seraya tertawa kecil membuat Nathan tersenyum.


''Aku pesan 15 menu makanan di sini,'' ujar Nathan memberikan catatan makanan yang dia pesan kepada pelayan di cafe.

__ADS_1


''Itu kebanyakan,'' protes Lea.


''Biar kamu kenyang, biar pulang kerumah nggak kelaparan kayak orang pacaran di luar sana. Yang cuman jalan makan angin doang.''


Lea tertawa dengan apa yang barusan dokter Nathan ucapkan.


Pelayan datang menambah satu meja di tempat Lea duduk, karna memesan 15 jenis makanan satu meja saja tidak cukup.


''Nanti kalau kita udah nikah, kamu nggak usah masak,'' celetuk Nathan dengan santai membuat Lea menaikkan alisnya lucu.


''Terus kita makan apa di rumah?''


''Tinggal pesan makanan di hp, kalau aku cepat pulang kerja aku bawa kamu makan di luar.'' ucap Nathan. ''Jadi istri aku nggak usah ribet, cukup ganas di ranjang udah cukup buat aku.'' Nathan tersenyum devil membuat Lea takut menatap wajah Nathan saat ini.


Tanganya menjadi gemetar, selama ini Nathan tidak pernah berucap vulgar seperti ini. Di depan Lea dia tidak seperti melihat dokter Nathan yang biasanya.


''Tangan kamu kenapa gemetar? Sebagai anak kesehatan tentu kamu tau soal itu.''


Jleb...


Lagi dan lagi Lea terdiam.


''Apa lagi saya sudah dewasa, sudah pasti jika....'' Nathan menggantung ucapannya mendekatkan wajahnya dengan Lea membuat Lea memundurkan wajahnya, takut melihat Nathan di depanya.


Lea bernafas legah saat Nathan sudah menjauhi wajahnya dari dirinya.


''Dokter Nathan jangan macam-macam.''


Nathan tertawa sehingga semua pasang mata tertuju padanya. ''Nanti kalau kita udah nikah, kita bakalan ambil gaya berbagai macam di atas kamar.''


Sungguh Nathan kurang ajar!


****


Sedari tadi Rifal menggeluyuti Valen dari kamar hingga ke dapur. Pria itu tidak ingin lepas dari Valen membuat Valen sering kali menghembuskan nafas berat.


''Fal, udah dulu dong. Aku mau buatin Anna bubur.'' Lama-lama Valen akan kesal jika Rifal seperti ini.


Dia seperti ulat bulu ingin selalu menempel pada Valen. ''Nggak bisa, Len. Aku masih rindu sama kamu. Kamu pikir waktu satu tahun itu singkat untuk aku?''


Rifal semakin mengeratkan pelukanya dari belakang. Rifal sudah meliburkan seluruh pekerja di rumahnya agar tidak ada yang menganggu dirinya di rumah.

__ADS_1


Belum ada yang mengetahui kembalinya Valen, Rifal belum ingin menyebar mengenai Valen. Hanya dia dan Nando saja yang mengetahui jika Valen masih hidup dan sudah di temukan.


Valen tidak membalas ucapan Rifal lagi, percuma saja jawabanya akan tetap sama, soal rindu Rifal kepada dirinya.


Valen membuatkan bubur untuk anaknya. ''Len, nanti aku cari baby sister untuk jagain Anna.''


Valen membalikkan tubuhnya tidak terima dengan ucapan Rifal barusan. ''Nggak!'' protes Valen.


''Aku mau urus Kianna sepenuhnya, tanpa bantuan baby sister. Aku ibunya jadi aku harus bertanggung jawab sama anak aku sendiri.''


''Aku mau jadi ibu rumah tangga seutuhnya, mengurus kamu dan Anna tanpa bantuan orang lain.''


''Jelas kamu urus aku tanpa bantuan orang lain, Len. Memangnya kamu mau orang lain pasangin aku dasi kalau mau ke kantor?''


Valen menggeleng.


''Kamu nggak mau, kan?''


''Iya,'' jawab Valen dengan kikuk.


Rifal mengusap rambut Valen. ''Biarin Anna di urus sama babi sister. Kamu fokus urus aku.''


Valen langsung mencubit perut Rifal.


''Sakit, Len! Awkh!''


Valen menatap Rifal tak habis pikir. ''Suka banget sih ngomong kayak gitu. Aku udah bilang, kan, kalau aku yang bakalan ngurus kaku dan Anna. Tanpa campur tangan orang lain terutama baby sister yang mau jagain Anna. Aku nggak mau anak aku di jagain baby sister selama aku masih ada.''


''Pasti kamu lebih fokus ngurusin, Anna,'' ucap Rifal dengan lemes.


''Anna masih kecil, jadi banyak yang harus aku siapkan untuk anak aku,'' ucap Valen membalikkan tubuhnya untuk mengaduk bubur Kianna.


''Anak aku juga, Len.''


''Kamu udah tau kalau Anna anak kamu, tapi kamu masih kekeh saingan sama anak sendiir,'' cibir Valen membuat Rifal tidak membalas ucapan Valen lagi.


''Kianna nangis!'' Nando membuka pintu kamar lalu berteriak ke arah bawa agar Valen dan Rifal sadar jika mereka mempuanyai Kianna.


''Nando!'' geram Rifal melihat Valen sudah berlalu pergi membawa nampan berisi bubur untuk anaknya.


Sebenarnya Nando sudah ingin pulang, namun keberadaannya di tahan oleh Rifal. Jika Nando pulang otomatis Valen yang akan menjaga Kianna dan mengabaikan dirinya.

__ADS_1


''Gue bakalan bersaing sama anak gue sendiri.'' Rifal menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan dapur untuk menyusul Valen.


''Bapak macam apa kau, Fal! Saingan sama anak sendiri,'' kesal Nando yang hanya di acuhkan oleh Rifal lalu masuk kedalam kamar Kianna.


__ADS_2