Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Agrif


__ADS_3

Lea tersenyum seraya mengusap rambut legam milik Agrif, setelah anak itu telah menghabiskan makananya.


“Kamu tidur, yah.” ucap Lea. “Biar kakak yang jagain papah kamu,” lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.


Anak itu membaringkan tubunya diatas sofa yang empuk, dengan menggunakan bantal kesayangan miliknya.


Perlahan-lahan Agrif menutup matanya untuk segera tidur. Lea yang melihat wajah damai Agrif mengembuskan nafas berat. Dia tidak tau, bagaiamana kedepanya jika Daniel pergi. Bagaiamna dengan Agrif? Apa lagi dia tidak mempunyai keluarga lain lagi.


Dan membuat Lea semakin takut. Dia takut menjadi mama dadakan untuk Agrif di usinya yang sangat mudah.


Lea menggelengkan kepalanya, guna menghilangkan pikiranya yang kotor itu. “Lo nggak boleh mikir sampai kesana, Lea,” menolognya pada dirinya sendiri.


Dia berdiri dari kursi sofa yang dia duduki, lalu berjalan menuju bansal milik Daniel yang masih setia menutup matanya.


“Hmmm,” Lea berdehem di dekat bansal milik Daniel. Dia sebelumnya belum pernah mengobrol dengan Daniel. Sehingga dia bingung harus menggunakan kata seperti apa untuk mengobrol dengan pria yang masih setia memenjamkan matanya.


“Lebih baik om ganteng cepat bangun.” Lea mulai berbicara, meski dia tau jika Daniel tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan.


“Apa om nggak kasihan lihat anak om? Cuman om yang dia miliki,” menolog Lea seraya duduk di kursi. “Jika om pergi, dengan siapa om menitipkan putra tampan om itu? Sementara om tidak punya keluarga Disini,” lanjut Lea.


“Apa Om mau lihat Agrif tumbuh dewasa tanpa orang tua? Cukup mamahnya yang pergi ninggalin dia, jangan sampai om juga ikutan ninggalin Agrif.”


“Om nggak mau lihat dia tumbuh menjadi lelaki tampan? Dan menjadi bahan rebutan di sekolah karna ketampananya?” Lea berkata seraya tertawa kecil dengan apa yang barusan dia katakan.


Dia sudah berpikir kedepan mengenai Agrif. Jika anak itu akan tumbuh menjadi cowok yang tampan.


“Nggak mungkin juga ‘kan kalau om nitipin Agrif ke Lea?”


“Om cuman tau. Kalau Lea itu pendiam. Padahal aslinya tidak seperti itu. Aku harap om secepatnya sadar. Jangan percayakan anak Om kepada Lea,” menolog gadis itu.


Tanpa sadar dia menggenggam tangan milik Daniel. Tangan pria itu sedikit dingin. “Lea yakin, jika papahnya Agrif yang tampan ini mampu melewati semuanya.”


Cup

__ADS_1


Lea tertawa dengan tingkahnya sendiri. Mencium tangan milik Daniel. Lea berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju sofa untuk istirahat.


Tanpa sadar Lea ketahui. Jika seluruh perkataan yang keluar dari mulutnya di dengar oleh seksama Daniel. Sampai-sampai pelupuk matanya mengeluarkan air mata, dia ingin sekali bicara, namun dia tidak bisa melakukan hal tersebut.


Tentu saja Daniel menagis dengan apa yang dikatakan oleh Lea. Dia tau, jika dia tidak mempunyai keluarga yang bisa dia titipkan Agrif jika dia pergi.


Ingin rasanya Daniel bertahan demi anaknya, namun dia tidak tau apakah sang pencipta masih memberikanya kesempatan untuk hidup.


***


Pagi ini, Rifal dan Valen akan berangkat ke Bali untuk liburan kurang lebih satu minggu lamanya. Mereka berdua berada didalam mobil diantar oleh supir untuk menuju bandara.


Tidak perlu menunggu waktu lama, akhirnya mereka telah sampai di bandara dan berjalan menuju pesawat yang menunggu kedatangya.


Valen duduk di sebelah kursi Rifal, sedari tadi dia menggenggam tangan Rifal saking senangnya.


Pesawat yang di tumpangi oleh Rifal dan juga sudah lepas landas.


“Iya.”


Valen langsung tertidur di pundak milik Rifal, perjalanan mereka menuju Bali hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit.


Hampir dua jam perjalanan, pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bali. Rifal sudah melihat dua orang berbadan tegak tengah menunggu kedatanganya.


Orang itu langsung mengambil barang dan koper milik Rifal untuk mereka bawa kedalam mobil. Rifal menggendong Valen turun dari pesawat untuk segera menuju mobil.


Mereka berdua akan menuju fila, tempat mereka berdua akan tinggal dan menikmati liburan ke Bali ini.


Rifal telah memesan Vila terbaik di Bali ini untuk Liburanya bersama dengan Valen. Rifal menyewa Vila di Gino Feruci Villa Ubud.


Villa-villa di Gino Feruci Villa Ubud memang semi terbuka, tapi privasi mereka berdua akan tetap terjaga. Ukuran villanya luas, nyaman, dan lengkap dengan perabotan modern yang bakal membuat masa menginap mereka berdua akan menyenangkan. Mereka berdua akan menikmati asyiknya berenang di kolam pribadi dan fasilitas lainnya di Gino Feruci Villa Ubud yang asri ini dengan harga fantastis.


Mobil mereka telah sampai di Villa Gino Feruci Villa Ubud. Kedua pria yang membantu Rifal tadi mengangkat barang Rifal masuk kedalam Villa.

__ADS_1


Sementara Valen belum juga bangun dari tidurnya. Tanpa membangunkan Valen, Rifal langsung menggendong sang istri masuk kedalam Villa.


Rifal langsung membaringkan Valen di tempat tidur yang diatasnya di hiasi bunga bunga cantik. Seperti mereka akan bulan madu saja.


“Terimaksih telah membantu saya,” kata Rifal kepada kedua pria yang membantunya tadi.


“Sama-sama pak. Jika ada yang bapak perlukan langsung Telfon saya,” ucapnya.


Rifal mengangguk. “Baik.”


“Kalau begitu. Saya pamit. Semogah liburan bapak dan ibu menyenangkan,” lepas itu mereka berdua langsung pergi meninggalkan Villa.


Rifal menelusuri Villa yang mereka tempati. Sangat luas, dan fasilitas di dalam Villa ini sangat lengkap. Di mulai dari kolam pribadi, dan langsung di suguhkan pemandangan pantai.


Rifal yakin, jika Valen bangun dia akan bahagia melihat tempat ini. Pantas saja, wanita itu ingin berlibur ke Bali.


Rifal berjalan menuju dapur, dia melihat beberap coffe tersimpan diatas meja dengan alat yang sudah lengkap.


Rifal menyeduh coffe itu dengan pandangnya kedepan, karna dapur Villa itu langsung di hadapkan dengan pemandangan yang sangat indah.


“Pantas aja Rara pengen banget liburan ke Bali. Ternyata tempatnya seindah ini,” menolognya. “Meskipun rencananya sampai sekarang belum tercapai, Semogah aja Frezan bisa bawa Rara ke tempat sini.”


Valen mengerjapkan matany, dan langsung di suguhkan pemandangan bunga yang sangat indah, dan jangan lupa air pancur diluar membuatnya terperangah, tempat ini sangat indah.


Dia melihat air pancur di tengah-tengah Villa, dan dibawanya ada beberapa bunga air.


“Fal,” panggil Valen tanpa mengalihkan pandanganya.


Rifal yang mendengar teriakan Valen langsung berjalan cepat menuju kamar.


“Apa kamu suka Villa ini?” Tanya Rifal di dekat pintu. Melihat istrinya fokus kedepan.


Valen melirik Rifal. “Aku suka banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dia seperti mimpi sedang berada di Bali.

__ADS_1


__ADS_2