
Nando mengantar Lea sampai depan pintu kamarnya, kamar yang Nathan pesan berhadapan dengan kamar milik Lea.
''Kamu mandi, baru istirahat,'' ucap Nathan mengacak rambut Lea. ‘’Langsung mandi, ya, jangan tidur dulu. Nggak baik langsung tidur, dari kuburan.''
''Iya, dokter Nathan,'' jawab Lea.
Lea berjalan menuju kamarnya, sementara Lea sudah menutup pintu kamarnya, ia takut jika Nathan akan khilaf, meskipun mereka sudah tidak lama lagi menikah.
Tetap saja mereka harus menjaga jarak. Ingat, ada setan yang selalu siap membisik telinganya dan juga telinga Nathan.
Lea langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, terlebih dahulu ia membaringkan tubuhnya sejenak lalu masuk ke kamar mandi.
Lea memegang rambutnya dengan senyuman seperti orang gila, ia ingat bagaimana Nathan mengacak rambutnya dengan gemas dan penuh cinta.
''Dokter Nathan bisa aja bikin Lea baper,'' ucap gadis itu dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Lea memegang tanganya, ia mengingat bagaimana sosweetnya Nathan mencium punggung tanganya di hadapan makam papihnya.
''Dokter Nathan!'' Lea mengguling-gulingkan tubuhnya diatas sprimbed lembut ini.
''Lea nggak nyangka, akan nikah sama cowok yang Lea suka dari pertama praktek di rumah sakit,'' decak gadis itu tidak menyangka akan menikah dengan Nathan.
Ia mengingat bibirnya seraya tengkurap, ia belum beranjak dari tempat tidur. Padahal Nathan sudha mengatakan padanya untuk segera mandi, bukan baring.
Drt…
Ponsel Lea berdering menandakan adanya seseorang menelfon membuat dirinya terkejut, dia sedang mengingat momenya dengan Nathan tadi, namun suara deringan ponsel membuatnya terhenti membayangkan momenn tadi.
Ia mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas kecilnya. Rupanya yang melakukan panggilan video call adalah Novi.
''Halo, Mah!'' sapa Lea setelah menggeser ikon hijau untuk menjawab video call dari Novi.
“Kamu sendirikan di kamar?”
Novi bertanya dengan penuh selidik kepada putrinya, ia tau jika sekarang Lea sudah berada di kamar hotel, terlihat dari sambungan video call yang ia lakukan.
Novi bisa melihat, anknya sedang mengerucutkan bibirnya.
''Lea sendiri kok, Mah. Lea masih tau kok batasan Lea. Dokter Nathan juga nggak akan masuk ke kamar yang Lea tempati.'' Lea menjelaskan.
''Lea kasi bukti, ya,'' lanjut Lea menekan kamera belakang.
Lea melihatkan seluruh penjuru kamar yang ia tempati, jika di dalam sini tidak ada Nathan. Hanya ada dirinya seorang diri. Lea menjelaskan jika ia dan Nathan memesan kamar yang berbeda.
__ADS_1
Lea kembali menekan kameranya, sehingga yang kembali terlihat adalah wajahnya. ''Mamah udah percaya, kan?'' tanya gadis itu.
Lea bisa melihat mamahnya mengangguk.
“Ingat pesan mamah ya, Lea. Kamu tidak tau semuanya, karna kamu masih remaja. Sementara dokter Nathan sudah mapan.”
Lea mengangguk, meskipun ia tidak tau maksud mamahnya barusan.
Yang ia tangkap jika mamahnya mengatakan jiki dirinya masihlah gadis remaja, sementara Nathan adalah seorang pria dewasa.
Lea tau itu, makanya Lea menyukai Nathan dan mencintainya.
Mamah dan anak itu mengobrol, entah hal apa saja yang mereka bahas.
“Yaudah mamah matiin telfonya dulu. Kamu jangan lupa mandi.”
''Iya, Mah.''
“Kak Lea!”
Suara kedua adiknya dari seberang Telfon membuat Lea mengembangkan senyuman, sehingga Novi tidak jadi mematikan sambungan video call nya.
“Lea, Raka dan Riki mau bicara sama kamu. Ponselnya mamah tinggal untuk Raka sama Riki. Mamah mau ke dapur memasak dulu.”
Lea mengangguk, lalu melihat kedua wajah adiknya di layar ponsel.
Lea memberikan pertanyaan kepada kedua adiknya.
“Nggak Rindu, lagian kak Lea baru pergi tadi. Jadi belum rindu!”
Suara itu adalah milik Raka, adik pertama Lea. Lea tersenyum malas mendengar penuturan dari adiknya itu.
''Kalau Riki kangen nggak sama, Lea?''
“Kangen, Kak. Riki kangen lihat Kaka di omelin sama mamah!”
Raka langsung tertawa mendengar ucapan Riki. Lea juga ikutan tertawa dengan ucapan adiknya itu.
Dari arah dapur, Novi tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Tak terasa air matanya jatuh, karna tidak lama lagi anaknya akan menikah dan akan menjalankan bahtera rumah tangga.
“Kak Lea jangan lupa bawa oleh-oleh dari Bandung!” Ucap Riki.
“Suruh calon suami kakak yang beli, karna Kak Lea nggak punya duit.” Raka menyambungkan ucapan Riki barusan membuat Lea juga tertawa.
__ADS_1
Lea sudah mematikan video call ya, setelah membuat lelucon dengan kedua adiknya.
Lea masuk kedalam kamar mandi, untung saja gadis itu tidak kampungan masuk kamar mandi mewah. Meski di rumahnya tidak semewah kamar mandi di sini, namun ia sudah melihat beginian sebelumnya di rumah Valen dna Rifal juga rumah Daniel.
Lea mengisi air ke dalam bathub, lalu memasukkan sabun cair kedalamnya. Lepas itu ia masuk kedalam menikmati air dingin menyentuh tubuhnya, dan wangi sabun yang menenangkan pikiran.
***
Rara dan Frezan sudah berada di minimarket, ia membeli buah-buahan yang stoknya sudah habis di kulkas.
Terlebih dahulu, Rara mengambil buah mangga untuk Hasya dan untuk yang lainya.
''Udah?'' tanya Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Frezan membawa barang belanjaan Rara menuju mobil, mereka akan segera pulang karna Hasya akan mencari dirinya.
Rara meninggalkan Hasya karna anak itu tidur, sehingga Rara hanya pergi bersama dengan Frezan.
Frezan melajukan mobilnya untuk segera pulang, tidak ada yang mengeluarkan suara hingga Frezan angkat suara membuat Rara terkejut sekaligus bahagia.
''Kita ke Bali setelah pernikahan Lea dan Nathan slesai.''
Rara bahagia! Sudah berulang kali mereka berencana namun mereka selalu saja gagal pergi karna suatu halangan.
''Aku udah pesan dua tiket pesawa untuk kita ke Bali. Kamu tenang saja, kali ini nggak akan ada halangan. aku akan ajak kamu ke Bali, tempat yang kamu idamkan dari dulu.''
Rara menggenggam tangan Frezan, matanya memerah menahan tangis.
''Ini semua untuk aku?'' tanya Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
''Makasih.'' Rara memeluk suaminya membuat Frezan mengusap punggung Rara.
''Aku mau minta maaf sama kamu, karna aku selalu gagal mengajak kamu ke Bali. Selalu ada halangan. Tapi aku janji kali ini kita akan benar-benar ke Bali. Setelah pernikahan Nathan dan Lea kita akan pergi.''
Lea mengangguk.
Rara melapskan pelukanya, membiarkan suaminya foku menyetir mobil.
Frezan kembali menarik Rara kedalam pelukanya.
Gila!
Frezan ******* bibir Rara dengan mata fokus menyetir, mulutnya sibuk mencium bibir Rara dengan lahap membuat Rara terkejut, ini akan bahaya untuk mereka, karna Frezan sedang menyetir.
__ADS_1
Rara ingin menghentikan Frezan, namun ia menikmati ciuman yang di berikan Frezan. Rara memejamkan matanya seraya membalas ciuman Frezan.
Sementara Frezan matanya terbuka karna seraya menyetir mobil, untung saja jalan tidak begitu macet.