
Hari ini adalah hari di mana penerimaan rapor di sekolah dasar di salah satu Jakarta.
Frezan datang ke sekolah Hasya dan juga Tegar. Karna hari ini mereka menerima rapor penaikan kelas.
Anak-anak berpakaian Putih merah sibuk bergandengan tangan dengan orang tuanya menuju aula.
Acara penerimaan rapor akan di laksanakan di aula sekolah.
Kayla juga hadir untuk mengambil rapor Dyta dan juga Dyra.
Frezan duduk di kursi depan bersama dengan kedua anknya, yaitu Hasya dan Tegar. Sementara di kursi belakang ada Kayla dan kedua anaknya Dyta dan juga Dyra.
Aula pagi ini sudah cukup ramai dengan murid-murid yang membawa orang tuanya.
"Ayah, kalau nilai Tegar jelek, gimana? Apa ayah akan marah padaku?" tanya Tegar sehingga Frezan melirik anaknya itu.
"Apa kamu sudah berusaha?" tanya Frezan balik.
Tegar menganguk mengiyakan ucapan Frezan. "Usaha tidak akan mengkhianati hasil," ujar Nathan mengusap rambut Tagar.
"Kalau nilai Hasya bagus, apa ayah akan memberikan Hasya boneka baru dan permainan baru?" tanya Hasya yang membawa boneka masuk ke dalam aula.
Frezan melirik putrinya. "Kalau nilai Hasya lebih tinggi dari nilai Dyra, ayah akan memberikan seluruh permainan yang Hasya mau."
Dyra yang di kursi belakang mendengar namanya di sebut langsung menyahut dari belakang. "Kalau nilai Dyra lebih tinggi dari Hasya, apa om juga memberikan permainan untuk Hasya?" tanya anak itu dengan suara cadelnya.
Anak-anak menggemaskan itu sudah pandai berbicara.
Frezan mengangguk membuat Hasya dan Dyra bertepuk tangan di dalam aula. Untung saja aula sudah ramai dengan suara ibu-ibu, bapak-bapak dan juga anak mereka.
Sehingga mereka tidak mendengar tepuk tangan Hasya dan Dyra yang begitu heboh.
Sementara Tegar hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak meminta sesuatu seperti Hasya dan Dyra?" tanya Frezan kepada Tegar yang tidak meminta sesuatu jika nilainya bagus.
Anak itu nampak berpikir lalu kemudian menatap wajah sang ayah dengan serius. "Tegar punya permintaan, tapi sepertinya ayah tidak akan memenuhi permintaan aneh Tegar," lesuh anak itu membuat kening Frezan berkerut.
"Kamu minta apa? Coba bilang, siapa tau saja ayah bisa membantu kamu untuk mewujudkan keinginan kamu itu." Frezan menatap Tegar dengan intens.
"Tegar pengen kalau SMA nanti, Tegar mau mandiri. Tinggal sendiri untuk menikmati masa SMA, bunda bilang, masa SMA harus di nikmati jika Tegar udah masuk SMA."
Frezan terkejut, dia tidak menyangka jika anaknya yang sekecil ini sudah berpikir sampai ke sana. Padahal dia masih SD.
__ADS_1
Dyta yang sedari tadi diam menguping pembicaraan Tegar yang sangat menarik untuk anak itu.
Dia ingin pergi jauh....
Seharusnya anak seumur Tegar masih sibuk dengan permainan, namun anaknya ini sudah mempleningkan masa depanya kelak.
"Kamu mau sekolah tinggal di apartemen?" tanya Frezan.
Anak itu menganguk mengiyakan perkataan Frezan.
"Kenapa kamu nggak mau sekolah di sini?"
"Tegar nggak mau sekolah di sekolah yang pernah bunda dan ayah tempati."
"Kenapa?" tanya Frezan penasaran.
"Karna Tegar akan menciptakan suasana baru di sekolah yang tidak sama," jawabnya dengan lugas membuat Frezan tersenyum tipis hingga nyaris tak terlihat.
"Kamu mau sekolah di luar Jakarta?" tanya Frezan.
"Nggak ayah."
"Tegar mau sekolah di Jakarta kok. Tapi jaraknya dari rumah harus dua atau tiga jam perjalanan ke sekolah Tegar Nanti. Sehingga Tegar punya alasan untuk mandiri, tinggal sendiri." Tegar menjelaskan kepada Frezan membuatnya menganguk mengerti.
"Ayah akan membantu kamu untuk mewujudkan keinginan kamu itu," ucap Frezan dengan senyuman menawan di wajahnya. Tegar tentu saja terkejut karna ayahnya ingin membantu dirinya untuk mewujudkan keinginannya itu. "Tapi...dengan satu syarat," lanjut Frezan memberikan syarat kepada anak yang masih menggunakan baju merah putih tersebut.
"Syaratnya apa, Ayah?" tanya Tegar penasaran.
"Kalau kamu mampu masuk tiga besar selama SMP nanti, ayah akan menyekolahkan kamu di tempat yang kamu inginkan."
"Bagaimana?"
"Deal, ayah."
Mereka berdua berjabat tangan membuat mata yang melihat anak dan bapak itu yang tampan tersenyum.
"Ayah ngomong apa sama kak Tegar?" celutuk Hasya.
"Tidak ada." Jawaban Frezan dan Tegar kompak, dan bersamaan.
Kepala sekolah mulai membuka acara sambutan pagi ini di dalam aula.
__ADS_1
Sementara Agrif duduk di kursi paling belakang bersama dengan Bi Minah yang mewakilinya untuk mengambilkan rapor sekolah miliknya.
Hanya Bi Minah yang mewakili untuk mengambilkan rapor Agrif di sekolah pagi ini. Mata anak itu menelusuri aula sekolah yang sangat ramai.
Mereka sekali-kali bercanda riah dengan kedua orang tuanya. Kanan kirnya di kelilingi dengan anak-anak yang sangat beruntung tidak seperti dirinya.
Kedua ornag tuanya sudah tidak ada, sehingga dia hanya di temani oleh bibi pengasuhnya.
Air matanya turun lalu dengan cepat anak itu mengusap air matanya.
“Siapapun yang buat Agrif nangis, dia orang tertentu Papah. Karna mulai sekarang, Agrif nggak mau nangis seberat apapun masalah Agrif,” lirih anak itu mengusap air matanya.
“Agrif, kamu kenapa?” tanya Bi Minah karna mendengar jika Agrif tadi berbicara. Hanya saja, suaranya tidak terlalu jelas membuatnya tidak tau, apa yang barusan anak itu katakan.
Agrif menggelengkan kepalanya lalu menatap ke depan melihat kepala sekolah memberikan wejangan pagi ini kepada murid dan orang tua murid yang datang.
Sekitar satu jam guru memberikan wejangan, akhirnya satu-satu murid di suruh naik bersama kedua orang tuanya untuk pengambil rapor.
“Agrif Pratama!”
Kini giliran nama Agrif yang di sebut, Bi Minah langsung menggandeng Agrif untuk naik ke atas aula mengambil rapor anak itu.
Seharusnya hari ini dia di temani dengan Daniel. Karna setiap anak itu penerimaan rapor, Daniel selalu ada untuk anaknya itu.
“Selamat, ya, Agrif. Meski kamu satu minggu ini tidak ke sekolah. Tapi nilai kamu paling bagus di sekolah. Kamu anak pintar, tetap semangat yah nak.”
Setelah bersalaman dengan kepala sekolah, dia keluar dari aula bersama dengan Bi Minah.
“Kalian ke mobil duluan,” ucap Frezan kepada Kayla.
Kayla menganguk paham lalu membawa Dyra, Dyta, Tegar dan juga Hasya masuk kedalam mobil.
“Kenapa nggak masuk, Ta? Kita nungguin om Eza di dalam mobil,” ucap Kayla.
“Dyta mau ketemu sama Kak Agrif, sebelum dia pergi, Mah,” ucap anak itu membuat Kayla bertanya-tanya.
“Agrif mau kemana?” tanya Kayla penasaran.
“Agrif bakalan ke Banjarmasin di panti sentosa untuk tinggal, Mah. Makanya Dyta mau kesana ucapin selamat tinggal dan sampai jumpa,” ucap Dyta membuat Kayla terdiam.
Karna ank itu tidak mempunyai orang tua lagi, sehingga dia akan ke Banjarmasin di panti asuhan sentosa atas amanah yang di berikan Daniel kepada pak Asegaf.
__ADS_1