Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Satu nama


__ADS_3

Rifal terdiam sejenak, mencernah apa yang baru saja dia dengarkan dari mulut, Valen. Apakah dia tidak salah dengar?


Valen melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga, dia mengigit bibirnya, dia tidak tau mengapa dia mengucapkan kata-kata yang sangat lancang. Padahal dia sadar diri, jika dirinya hanya menumpang disini.


Valen melihat kearah bawa, rupanya Rifal masih setia menatapnya dari lantai bawah.


"Mulai besok...." Dari lantai atas, Valen mengucapakan kata-katanya. Dia menggantung perkataannya kepada Rifal. "Lo nggak boleh kerja, lo harus tetap dirumah," sambungnya lalu masuk kedalam kamar.


Dari lantai bawah, Rifal menggelengkan kepalanya berusaha merefreshkan otaknya sore-sore begini.


Dia baru saja mendengarkan, jika Valen melarangnya untuk bekerja besok sebagai hukumannya. Tapi, apakah Rifal akan menuruti perkataan Valen?


Rifal berjalan kearah dapur, untuk mengisi tenggerokanya dengan air minum. Dia melihat Lea sedang membuat es kelapa terlihat gadis itu sedang mengambil es batu dari kulkas serta gula merah.


"Valen kenapa?" tanya Rifal sembari mengambil air didalam kulkas.


Lea yang sedang mengaduk es kelapanya, agar gula merahnya merata menatap Rifal sejenak yang sedang meneguk air.


"Lea juga nggak tau, om," kata gadis itu lalu kembali mengaduk es kelapanya yang tidak lama lagi siap.


"Tapi akhir-akhir ini, dokter Valen sering nyuruh Lea beli jajan dipinggir jalan," sambungnya membuat Rifal berhenti meneguk air mineralnya.


Lea berjalan ke kulkas tempat buah, dia memasukkan es kelapanya kedalam kulkas yang telah siap untuk disantap.


"Awas yah om! Kalau om Rifal makan es kelapa Dokter Valen lagi," ancam Lea dengan menyipitkan matanya kearah Rifal yang hanya mengedikkan bahunya.


Lea berjalan keluar dari dapur dikuti oleh Rifal. Lea berhenti berjalan sehingga Rifal juga ikut berhenti membuat Lea melihat kearah belakang.


"Kenapa om Rifal ngikutin Lea? Apa om Rifal mau kasi apresiasi ke Lea yang bisa nurutin keinginan istri Om Rifal?" songong gadis itu sembari bersedekap dada membuat Rifal memutar bola matanya malas kepada gadis dihadapannya.


"Kalau mau apresiasi hasil kerja keras Lea, lebih baik om Rifal kasi Lea duit jajan," sambungnya sembari menjulurkan tangannya seperti sedang meminta, lebih tepatnya memang begitu.


"Mau duit jajan?" pancing Rifal dan dibalas anggukan cepat oleh Lea.


Dasar anak kecil, biasanya manfaatin gue.


"Hmm," Rifal berdehem membuat Lea menunggu kelanjutan perkataan Rifal.


"Kalau Lea mau, om bisa kasi Lea motor baru," tawar Rifal membuat bola mata Lea membulat hebat.

__ADS_1


Sudah lama dia menginginkan motor baru, sampai sekarang belum tercapai. Katakan jika perkataan Rifal tadi mampu membuat Lea tergiur.


"Mau!" jawab gadis Lea antusias membuat Rifal tersenyum geli melihat tingkah tetangganya ini.


"Kalau gitu, kamu harus cari tau Valen kenapa," kata Rifal dengan santainya.


Rifal tidak tau, mengapa dia ingin mencari tahu akan hal ini. Hatinya menyuruhnya untuk mencari tahu, namun otaknya menolak.


"Caranya gimana?" tanya Lea membuat Rifal melirik gadis berusia 19 tahun dihadapannya.


"Itu urusan kamu. 'Kan kamu yang mau motor baru." Setelah mengucapkan kata itu, Rifal pergi meninggalkan Lea.


Sementara Lea menghentakkan kakinya, bagaimana caranya dia mencari tau tentang Valen? Sementara dia juga sedang kuliah?


Jika ingin motor baru, Lea harus berpikir layaknya seorang pengusaha yang berada dititik terendah.


"Kamu pasti bisa, Lea!" Lea memberikan semangat untuk dirinya sendiri lalau melenggang pergi meninggalkan rumah Valen.


***


Pukul tujuh malam, Valen menuruni anak tangga untuk menuju kedapur. Dia membuka kulkas buah dan mencari sesuatu.


Dia membuka Tupperware tersebut, dan melihat es kelapa yang sedari tadi dia bayangkan.


Valen mengambil sendok lalu mencicipi es kelapa buatan Lea, tetangganya.


"Enak juga," menolognya masih memakan es kelapanya.


Sementara Rifal sedang bersedekap dada memperhatikan sosok Valen yang sedang menikmati es kelapanya. Rifal sempat berpikir, sejak kapan Valen menyukai es kelapa? Semenjak mereka bersama, Rifal tidak pernah melihat Valen makan es kelapa. Dan, sekarang gadis itu sedang menikmati es kelapa.


Rifal masih setia menantap Valen sedang menyantap es Kelapanya, hingga suara deringan handponenya membuat pandangannya dia alihkan.


Untung saja nada dering handphonya tidak terlalu keras, sehingga Valen tidak mengetahui jika sedari tadi Rifal memperhatikan dirinya.


Rifal melihat nama yang terterah dilayar handponenya, tertuliskan nama dokter yang dia tugaskan menjaga Adelia.


"Halo." Rifal membuka bicara menyapa dokter yang menelfonnya.


Rifal mendengerkan dengan seksama dokter berbicara diseberang telfon.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan kesana." Lepas itu, Rifal mematikan handphonya. Dia membalikkan badannya dan masih melihat Valen sedang memakan es Kelapanya.


Antara ingin pergi dan tidak, melihat Valen makan seperti ini membuat Rifal enggan untuk pergi. Wajah ceria Valen yang menyantap es kelapa membuat Rifal enggan memalingkan penglihatannya dari objek tersebut.


Rifal melirik jam dipergelangan tangannya, dia harus pergi karna ada yang lebih membutuhkan dirinnya.


Dia mengambil kunci mobilnya lalu melenggang pergi. Dia tidak berpamitan kepada Valen jika dia ingin keluar.


Hatinya menyuruhnya untuk pamit dengan Valen, namun egonya menghalangi itu semuanya.


Valen berjalan meninggalkan dapur saat mendengar suara mesin mobil meninggalkan pekarangan rumah. Dia membuka pintu utama dia melihat mobil Rifal telah melenggang pergi.


Rifal mau kemana? Apa Rifal tidak pamit kepadanya?


Apa gue kurang berharga, sehingga lo nggak pamit sama gue, Fal.


Valen menutup pintu, dia tinggal sendiri lagi dirumah yang begitu besar. Semenjak Adelia sadar, Rifal sangat jarang tinggal dirumahnya lagi lebih tepatnya lagi tidak pernah.


Tanpa terasa air matanya jatuh dipipihnya, sejak dia hamil dia selalu cengeng dengan hal yang menyangkut Rifal.


Dia menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Jangan cengeng, Valen. Lo nggak butuh Rifal," menolognya pada dirinya sendiri namun air matanya semakin deras.


"Gue bohong, pada kenyataannya gue butuh Rifal," sambungnya dengan air mata semakin deras.


"Gue yakin, bukan gue yang inginkan Rifal saat ini juga. Tapi, anak dalam kandungan gue," ucapya pada dirinya sendiri jika apa yang dia katakan memang benar.


"Kenapa nggak ngidam Nathan aja, kenapa harus Rifal!" ocehnya tanpa sadar sembari berjalan dengan lesuh.


Baru saja dia menikmati es kelapa, sekarang dia merasakan lapar lagi. Siapa yang akan dia suruh untuk membelikannya makanan? Apa Lea? Tapi, Valen yakin jam begini gadis itu sedang belajar.


"Mana lapar lagi!" keluh Valen sembari menaiki anak tangga. Dia melirik jam dipergelangan tangannya masih jam 7 lewat. Bisa mati kelaparan dirinya jika dia langsung tidur.


Sedangkan Art dirumahnya sedang pergi, dia malas memasak.


Terbesit satu nama dalam fikiran Valen. Yaitu Nathan.


Valen yakin, jika Nathan saat ini sedang berada dirumah sakit, tapi tidak jadi masalah besar jika Nathan ingin membawakannya makanan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2