
Dua hari sejak peninjauan kesehatan Adelia yang dilakukan oleh Nathan dan juga Valen. Dan dua hari itu pula mereka tidak mendapatkan perubahan dalam diri Adelia.
Sudah dua hari pula Farel berada di Jakarta, dia tinggal bersama dengan Nathan di apartemen, jika pagi hari dia akan kerumah Frezan sampai sore untuk bermain dengan Tegar dan juga Hasya.
Seperti sekarang ini Frezan dan Nathan sedang berada di salah satu cafe yang terkenal di Jakarta. Mereka berdua memesan makanan.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka berdua mengobrol ringan. Hingga suara handpone Nathan berbunyi membuatnya berhenti berbicara.
Nathan melirik handponenya melihat nama dilayar handpone, tertuliskan nama bibi yang merupakan ART di rumah papahnya.
"Halo, Bi." sapa Nathan diseberang telfon setelah menggeser tombol hijau.
Nathan terdiam sejenak, saat mendapatkan balasan dari salah satu art di rumah papahnya.
Nathan langsung mematikan handponenya, dengan wajah sedikit panik setelah mendapatkan telfon dari art.
"Kenapa?" tanya Frezan karna melihat raut wajah Nathan yang berubah.
"Kita Ke Bandung," ucap Nathan kepada Frezan," Papah drop," sambungnya membuat Frezan terdiam juga.
Mereka berdua keluar dari cafe dengan buru-buru karna mereka akan ke Bandung sekarang juga. Salah satu karyawan yang melihat kepergian Frezan dan Nathan yang membawa nampan berisi makanan dan cofe pesanan mereka.
Pelayan cafe itu melirik meja tempat Nathan dan Frezan. Ternyata mereka meninggalkan uang karna tidak jadi makan dan meminum cofe padahal pesanan mereka sudah siap.
Rara hanya membawa tas kecil berisi ATM dan juga handponenya, karna mereka buru-buru untuk segera ke Bandung saat mendapatkan telfon jika Alex drop.
Baju Hasya dan juga Tegar telah di siapkan oleh salah satu art yang akan ikut juga ke Bandung, tidak mungkinkan jika Rara bisa mengurus tiga anak kecil didalam mobil.
Sementara Nathan dan juga Frezan sedang sibuk di lantai bawah menunggu Rara. Nathan masih setia menelfon orang di Bandung menanyakan keadaan Alex.
Rara turun dari tangga dengan buru-buru membuat Frezan refleks menegur Rara.
"Jangan buru-buru, Ra!" tegas Frezan kepada istrinya itu. Bagaimana jika Rara jatuh? Itu akan membuat Frezan lebih kelimpungan lagi.
Mereka ke Bandung dengan Nathan mengendarai mobil. Disamping Nathan ada Frezan dan dibelakang ada Rara, Farel, art Rara yang menjaga Tegar dan juga Hasya di mobil.
"Papah kenapa?"
Sedari tadi Farel bertanya mengenai keadaan papahnya.
__ADS_1
"Papah nggak apa-apa," ucap Nathan dengan matanya fokus menyetir mobil.
Anak berusia 9 tahun itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nathan, meski dalam fikiranya heran karna mereka pulang mendadak.
Nathan tidak membawa mobil terlalu laju, karna dia tau dia membawa tiga anak kecil. Yaitu Farel, Tegar dan juga Hasya.
"Hasya, jangan nangis yah sayang," kata Rara kepada anak bungsunya yang tiba-tiba saja menangis membuat Rara jadi kelimpungan.
Tidak biasanya anak itu menangis.
Art itu menyerahkan Hasya kepada Rara untuk di diamkan, karna tiba-tiba saja dia menangis padahal mereka sedang perjalanan untuk ke Bandung.
Frezan melirik kebelakang melihat istrinya membujuk anak kecil itu agar tidak menangis lagi.
"Hasya kenapa, sayang?" tanya Frezan karna tidak biasanya anak bungsunya itu menangis.
"Nggak tau juga kak Eza, tiba-tiba aja Hasya nangis," balas Rara sembari mencoba mendiamkan anaknya.
"Mungkin Hasya haus," timpal Nathan dengan matanya fokus menyetir.
Sementara Tegar sudah tertidur dalam pangkuan Art yang dibawah oleh Rara untuk ke Bandung. Dia tidak bisa jika hanya sendiri menjaga anak-anak dalam mobil sementara mereka semua masih kecil.
Rara mengambil dot berisi susu untuk Hasya, namun anak itu berusaha menyingkirkanya dengan tangan mungilnya.
"Hasya kenapa, tante?" Tanya Farel meski dia sudah tau Hasya sedang menangis, namun dia tetap bertanya. Ingatkan, jika dia masih kecil jadi wajar saja.
Frezan membalikkan badannya, melihat ke arah belakang. Dia melihat Hasya dengan air mata mengenang dipilih cabi miliknya.
"Sini sama papah," kata Frezan sembari mengulurkan tangannya mengambil Hasya. Rara dengan hati-hati memberikan Hasya kepada Frezan yang duduk di samping Nathan, yang sedang menyetir.
Frezan memabwa Hasya dalam dekapannya, sembari menghapus air mata anak itu, yang tiba-tiba saja menangis begitu kencang. Untung saja Tegar tidak terganggu dengan suara tangisan milik Rara.
"Anak papah jangan nangis yah sayang." Frezan berkata pelan ditelinga anaknya itu membuat Nathan tersentil dengan perkataan Frezan yang kelewat lembut.
Sepertinya Hasya mengerti dengan perintah yang diberikan Frezan, sehingga anak itu diam dalam dekapan Frezan dengan sisah tangisnya.
Rara bernafas legah, karna akhirnya Hasya diam juga dalam dekapan Frezan.
"Hasya udah tidur? tanya Rara kepada Frezan.
__ADS_1
Frezan mengangguk mengiyakan ucapan istrinya itu.
Hening
Tidak ada suara dalam mobil, hanya ada suara mesin halus dari mobil. Tegar tidur dipangkuan art, sementara Farel juga tidur dengan paha Rara sebagai bantal.
Frezan melirik kebelakang, melihat Rara mengusap rambut Farel dengan penuh kasih sayang. Sosok anak cowok yang selalu memanggil Rara dengan sebutan Tante padahal Rara adalah iparnya. Namun tidak masalah bagi Rara.
Hasya menggeliat dalam dekapan Frezan, membuat Frezan mengusap rambut anaknya itu. Frezan menyungkirkan senyum dia merasakan kesempurnaan dalam rumah tangganya dikarunia sepasang anak yang cantik dan juga tampan.
Sekitar empat jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, akhrinya mobil yang dikendarai oleh Nathan telah sampai disalah satu rumah sakit besar di Bandung.
Mereka lama sampai, karna Nathan tidak melajukan mobilnya karna membawa tiga anak kecil.
"Kak Eza, sini Hasya aku gendong," kata Rara setelah Nathan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Hasya duduk anteng dipangkuan Frezan. Frezan menyerahkan Hasya kepada Rara. Sementara Tegar juga sudah bangun dan digendong oleh art.
Mereka turun dari mobil, untuk segera masuk kedalam rumah sakit. Nathan menggandeng tangan Farel untuk masuk kedalam rumah sakit.
Mereka berjalan di koridor rumah sakit, dengan Nathan penunjuk jalan. Karna dia yang tau dimana ruangan Alex dirumah sakit ini.
Mereka telah sampai, dan mereka sudah melihat kedua art yang menjaga Alex selama sakit sedang menangis, di kursi
Nathan dan Frezan langsung menghampiri art itu.
Kedua art itu berdiri dari tempat duduknya, saat melihat orang yang sedari tadi dia tunggu telah menampakkan dirinya.
"Tuan Alex baru-baru saja pergi meninggalkan kita semua."
Deg
Jantung Frezan dan Nathan berdetak kencang. Namun, Frezan masih bisa mengatur raut wajahnya beda dengan Nathan yang langsung masuk kedalam ruangan Alex.
Dia masuk dan sudah melihat seorang dokter menutup kain berwarna putih itu diwajah Alex.
Farel langsung menghampiri Frezan.
"Papah kenapa?" tanya Farel mengguncangkan lengan Frezan.
__ADS_1
Frezan menundukkan tubuhnya, untuk mensejajarkan tingginya dengan sang adik.
"Tugas papah udah selesai."