Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Di larikan ke rs


__ADS_3

Orang-orang yang menyaksikan mereka tadi langsung saja bubar saat kedatangan polisi, bahkan Lea dan Agrif belum meninggalkan tempatnya, Lea masih menutup mata Agrif.


Sementara Kayla sudah pulang berlinang air mata, hingga dia melupakan jika dia kesini membawa kedua anak-anaknya.


Dia pulang menggunakan taxi namun dia lupa jika dia kesini membawa kedua anaknya Dyta dan juga Dyra.


Pikiran Kayla sangat kacau pulang, bahkan air matanya terus saja mengalir. Dia memikirkan kondisi Daniel saat ini yang di larikan ke rumah sakit dan juga suaminya yang sudah di amankan sama polisi.


Di dalam taxi Kayla menatap kearah jendela, dia menangis sangat sakit saat mengingat perbuatan Elga seperti ingin membunuh Daniel.


Sementara supir taxi sesekali melihat kebelakang, melihat sosok Kayla nampak kacau.


Supir taxi berpikir Kayla masih seorang gadis, karna wajah dia seperti seorang abg saja.


Bodoh lo, El. Lo hampir aja bunuh orang karna kebutaan lo itu. Lo egois banget El, pikiran lo sangat dangkal. Gue kecewa sama lo El. Gue kecewa hiks….Hiks…..


Kayla menyandarkan kepalanya di kursi taxi. Dia belum sadar jika kedua anaknya tidak bersama dengan dirinya.


Pikirannya kacau sehingga untuk mengingat kedua anaknya saat ini sepertinya di luar pemikiran Kayla.


Kayla memejamkan matanya, air matanya selalu saja lolos dari pelupuk matanya. Dia sangat kasihan kepada Daniel, dan sekarang dia belum mengetahui kondisi Daniel yang di larikan kerumah sakit.


Kayla melihat dengan jelas, bagaimana kondisi Daniel saat dia di angkat dengan tanduh, tubuh pria itu di penuhi dengan darah segar, bahkan Kayla hampir saja tidak mengenal wajah Daniel karna saking banyaknya luka di wajah pria itu akibat perbuatan suaminya, Elga.


Kayla tidak tau lagi, bagaimana menasihati Elga. Padahal Kayla sudah cinta mati kepada Elga tidak bakalan dia berpaling pada cinta masa lalu.


Huf


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Kayla, dia memikirkan kondisi Elga di kantor polisi. Dia ingin melihat suaminya namun dia urungkan karna kondisinya seperti ini. Apa lagi dia juga tidak ingin melihat Elga karna kecewa dengan sikap Elga.


Sekitar dua puluh menit mengendarai taxi, Kayla sudah sampai di depan rumah mewah Frezan. Dia membayar supir taxi tersebut lalu masuk ke dalam rumah.


Dia ingin mandi, lalu menenangkan pikirannya.


***


Sementara Rara masih saja pingsan, dia sudah di bawa ke salah satu rumah warga yang terdekat dari tempat kejadian tersebut.

__ADS_1


“Hiks….ayah, bunda kenapa belum bangun?” Tanya Tegar dengan isakan tangisnya karna melihat Rara belum juga sadarkan diri dari pingsanya.


“Bunda masih pingsan,” kata Frezan yang duduk di kursi dekat Rara di baringkan. Frezan sudah meminta kepada pemilik rumah untuk di sini sementara sampai Rara bangun dari pingsanya.


Tentu saja pemilik rumah itu mau, apa lagi dia mengenal Frezan dan merupakan bos suaminya.


Frezan menyandarkan kepalanya di kursi kayu, dia tidak tau mengapa Elga sampai menggelap seperti itu, dia menghajar Daniel habis-habisan.


Apakah iparnya itu tidak bisa menghargainya sama sekali?


Huft


Frezan mengembuskan nafasnya berat.


Dia menelfon salah satu dokter kepercayaanya.


“Halo,” sapa Frezan.


“Selamat malam pak, Frezan.”


“Malam, pasien atas nama Daniel tolong pindahkan ke ruangan VVIP, suruh beberapa perawat untuk menjaganya dengan baik,” kata Frezan dengan pelan di seberang Telfon namun tegas.


“Berikan pelayanan baik kepada Daniel.” Lepas mengucapkan itu, Frezan langsung mematikan ponselnya setelah menelfon dokter di rumah sakit tempat Daniel di rawat.


Frezan pikir, tidak ada yang menjaga Daniel karna pria itu duda dan sudah tidak mempunyai kedua orang tua. Tapi, Frezan tidak tau jika Daniel mempunyai seorang putra seumuran dengan Farel, adiknya.


Frezan kembali menyandarkan kepalanya, dia belum mengurus masalah Elga, karna pikirannya saat ini hanya terarah pada Daniel dan juga Rara yang belum sadar dari pingsanya.


Dyra, Tegar dan Dyta duduk di dekat Rara, sembari menunggu Rara sadar. Sementara Hasya sudah tidur karna habis menangis karna Rara tidak sadarkan diri. Sementara Farel berada di luar rumah yang mereka tempati melihat dari jauh pasar malam.


Frezan juga kaget saat bertemu dengan Dyta seorang diri tanpa pengawasan, padahal yang membawa Dyta tadi adalah Elga.


Frezan lambat, dia tidak menyaksikan bagaimana Elga memukul tangan kanan kepercayaanya itu.


“Om,” panggil Dyta membuat Frezan tersenyum kearah anak kecil yang sedang menghampirinya.


“Kenapa sayang?” Tanya Frezan.

__ADS_1


Frezan langsung membawa Dyta dalam dekapanya, dia tau jika anak satu ini sangat dekat kepada Elga. Bagaimana jika dia tau Elga di tangkap polisi? Tidak mungkin juga Frezan mau jujur kepada anak sekecil Dyta yang seharusnya tidak mengetahui hal ini.


Entah mengapa, Dyta langsung menagis dalam pelukan Frezan. Sebagai seorang anak dia mempunyai firasat tentang papahnya sendiri.


“Om, papah mana?” Tanya Dyta mendongakkan kepalanya kepada Frezan.


“Papah kamu sudah balik duluan, ada pekerjaan kantor yang ingin dia selesaikan,” bohong Frezan membuat anak itu menganguk namun tidak dengan hatinya.


“Om, Dyta mau di luar yah? Dyta mau lihat pasar malam dari teras rumah ini,” pinta Dyta dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.


“Jangan jauh-jauh, jangan kemana-mana,” peringat Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Dyta.


Anak itu langsung keluar dari kamar. Dia berhenti berjalan saat melihat sosok yang akhir-akhir ini menjahilinya.


Dyta duduk di anak tangga yang terbuat dari semen, sementara Farel yang melihat anak itu duduk di tangga langsung menghampirinya.


“Curiting,” panggil Farel namun tidak di hiraukan oleh Dyta.


Anak itu nampak berpikir seperti orang dewasa saja.


“Aku mau kasi kamu ini,” kata Farel lagi mengeluarkan ikat rambut yang dia beli tadi di pasar malam untuk Dyta..


Dyta melihat ikat rambut lucu di tangan Farel, jujur saja dia tidak suka mengikat rambut namun Farel memberikanya ikat rambut.


“Farel pakein yah,” pinta anak itu.


Dyta tidak menolak dna juga tidak mengiyakan, Farel langsung memperbaiki rambut Dyta yang geriting.


Lepas itu dia mengikat rambut Dyta dengan ikat rambut yang lucu.


“Udah,” kata Farel.


Sebenarnya Farel ingin menjahili Dyta, namun dia urungkan karna dia tau anak itu seperti sedang sedih. Apalagi Farel melihat kejadian di mana papah Dyta memukul habis-habisan orang di bawah kungkukuhanya.


“Curiting, papah kamu mana?” Tanya Farel. Dia hanya penasaran apakah Dyta mengetahui kemana papahnya.


Dyta melirik Farel, Farel tersenyum kearah Dyta yang mengenakan ikat rambut menbuatnya lucu.

__ADS_1


“Kata om Eza, papah pulang karna mau ngerjain pekerjaan kantor,” kata Dyta membuat Farel menganguk.


Dia paham sekarang jika kejadian ini di sembunyikan oleh Dyta apalagi dia masih kecil.


__ADS_2