Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kerumah Daniel


__ADS_3

Suara ambulance menghiasi perjalanan mereka, menuju rumah Daniel. Jalan raya sudah sunyi, karna sudah tengah malam sekali.


Sepanjang perjalanan, Lea terus-terusan menangis dengan menatap keluar jendela mobil.


Mobil ambulance berada paling depan. Di belakangnya ada mobil Frezan yang mengikutinya.


Sedangkan mobil yang Lea tempati berada di belakang mobil Frezan. Dan di belakang mobil yang Lea tempati ada mobil dokter Zul di sampingnya ada dokter Kiki.


Lea mengusap air matanya dengan kasar, dia melihat kearah belakang Agrif tengah tertidur. Sekali-kali isakan kecil keluar dari bibirnya yang mungil.


Agrif, yang kuat, yah. Batin Lea melihat Agrif di belakang tengah tertidur.


Lea dan Agrif berada pada mobil Nathan. Dibelakang ada Agrif yang tengah tertidur di pangkuan Bibi.


Nathan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia fokus menyetir. Tengah malam begini, seharusnya orang-orang sudah tidur, namun tidak dengan mereka.


Satpam dengan buru-buru membuka gerbang yang menjulang tinggi karna sudah mendengar suara ambulance.


Sekitar tiga puluh menit di jalan. Mobil ambulance masuk kedalam pekarangan rumah Daniel.


Di susul mobil milik Frezan, Nathan dan juga dokter Zul. Dua satpam yang bertugas di rumah Daniel menangis saat mobil ambulance sudah di buka.


Tiga pembantu yang bekerja di rumah mewah Daniel, semaunya menagis. Mereka semua sudah bekerja dengan Daniel saat Agrif masih bayi.


“Bos kita sudah pergi!”


Frezan keluar dari mobilnya. Begitupun dengan dokter Kiki dan juga Dokter Zul keluar dari mobil.


“Tuan, Daniel!” isak para pembantu dan satpam saat alm Daniel sudah di angkat dan di keluarkan dari ambulance.


Frezan, dokter Kiki, dokter Zul, dan para pembantu dan juga pengawal mengikuti tim medis membawa Daniel masuk kedalam rumah.


Lea belum keluar dari mobil Nathan, begitupun dengan Nathan karna Lea tak kunjung turun.


Lea hanya menatap nanar kedepan. Melihat Daniel sudah di keluarkan dari mobil ambulance dan dibawa masuk kedalam rumahnya yang super mewah., yang sudah dia tinggalan.


Malam ini, malam terakhir Daniel berada di rumahnya. Besok dia akan meninggalkan rumahnya ini menuju rumah barunya.


Air mata Lea kembali menetes. Rasanya sakit ini susah untuk di jelaskan. Dia tidak mempunyai hubungan apapun dengan Agrif dan juga Daniel harus terserat kedalam.


Takdir saat itu mempertemukan mereka di taman bermain. Saat Lea mengajak Nando untuk ke taman bermain.

__ADS_1


Lea mengadakan gemes saat itu dengan hadiah snack yang di belanjakan Nando di Indomaret. Dan saat itu Agrif ikut bergabung dan nyaman bersama dengan Lea.


Saat itu juga. Agrif mendapatkan teman baru bernama Ziya. Dan mereka berdua mengambil beberapa potret gambar dan memberikan gelang couple. Lea sangat ingat momen itu.


Andai saja Lea tidak mengenal Agrif saat itu, mungkin saja dia sudah tidak berada di sini. Ahk, dia juga kasihan kepada Agrif. Apa lagi anak itu sudah tidak mempunyai sosok mamah, dan sekarang Agrif di tinggalkan Daniel.


“Lea mainya kejauhan,” lirih gadis itu masih menatap kedepan.


Jelas saja Nathan mendengar apa yang di katakan gadis yang duduk di sampingnya ini.


“Bi. Bawa Agrif masuk. Tidurkan dia di kamar palahnya,” perintah Nathan.


“Baik dok.” Bibi keluar seraya menggendong Agrif.


Dia juga tidak bisa menahan air matanya saat ini juga.


Nathan kembali melirik Lea, gadis itu belum bergeming dari posisinya.


“Lea,” panggil Nathan dengan lembut namun belum bisa mengubah posisi Lea yang menatap kedepan.


“Lea.”


“Apa kamu mau tinggal di sini?” Kali ini suara Nathan sedikit besar, sehingga Lea langsung melirik Nathan.


“Yasudah, kita turun,” ajak Nathan.


Lea melirik kearah belakang, dan tidak melihat Bibi dan juga Agrif di belakang.


“Keman-“


“Mereka sudah turun di luan,” potong Nathan.


“Kamu terlalu banyak berkhayal, sehingga tidak mendengar mereka turun dari mobil.” Nathan keluar dari mobil di susul dengan Lea.


Lea ingin menurunkan kakinya, namun rasanya kakinya tidak mampu untuk menopang berat badanya, saking lemasnya gadis itu.


Lea menangis, rasanya sangat berat. Bagaiamana jika orang tuanya tau perihal ini? Rasanya Lea ingin berteriak. Menjadi sosok dewasa dengan waktu yang memaksanya.


“Lea, kenapa?” tanya Nathan karna Lea belum juga keluar dari mobil. Padahal gadis itu sudah membuka kaca mobil.


Lea mendongakkan kepalanya menatap Nathan yang juga menatapnya.

__ADS_1


“Dokter Nathan. Rasanya kaki Lea lemas untuk berjalan,” isak gadis itu membuat Nathan langsung menggendong Lea.


Nathan menutup pintu mobil, lalu Lea mengalungkan tanganya ke leher milik Nathan.


Gadis itu menggebulkan kepalanya di dadah bidang milik Nathan seraya menagis. Berada di dekat Nathan mampu membuat jantungnya berdetak dengan bertalu-talu.


Nathan masuk kedalam rumah Daniel yang mewah.


“Kamar tamu dimana, bi?” tanya Nathan kepada salah satu pembantu di rumah Daniel dengan posisinya masih menggendong Lea.


“Saran saya, dokter bawa Lea ke kamar tuan Daniel, disana ada Agrif. Takut-takut jika anak itu bangun dan tidak melihat siapa-siapa di sana.” Bibi memberikan saran kepada Nathan yang ada benarnya juga.


“Kamar alm dimana?” tanya Nathan berusaha menyeimbangkan Tubuhnya, meski tubuh dalam gendonganya sangat kecil tapi karna dia sedang letih makanya dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


“Lantai dua. Kamar yang depan tangga,” intruksi Bibi dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


Nathan mulai berjalan menuju lift, dia sudah tidak mampu jika menaiki tangga menuju lantai atas kamar Daniel.


Nathan keluar dari lift, lalu berjalan menuju kamar Daniel.


Ceklek


Pintu kamar di buka oleh Nathan. Di dalamnya sudah sangat terang dengan lampu kamar milik Daniel.


Nathan langsung membawa Lea kedalam kamar Nathan. Yang di mana di selama kamar sudah ada Agrif yang tertidur.


Nathan terlebih dahulu membaringkan Lea. Entah sejak kapan gadis itu tertidur dalam gendongan Nathan.


Nathan menyelimuti Lea dan Agrif dengan selimut yang selalu Daniel pakai setiap pria itu ingin tidur.


Huft


Hembusan nafas letih berhasil keluar dari mulutnya.


Dia melihat kamar Daniel yang begitu luas. Di dekat kursi kerjanya terdapat bingkai foto pernikahan yang sangat besar.


Dan di sampingnya ada foto Agrif dengan terseyum lebar, di sampingnya lagi ada foto Agrif bersama anak kecil di taman.


Terlihat mereka berdua sangat bahagia, dan ada potret Agrif dan temanya bertukar gelang.


Nathan melirik tangan Agrif, dan benar saja anak itu mengenakan gekang. Dan baru Nathan perhatikan.

__ADS_1


Kamar Daniel bernuansa abu-abu, diatas meja kerjanya ada vas bunga dan lmpu kecil, dan juga fotonya bersama Agrif dengan Agrif menggunakan baju sekolah, dan Daniel memegang rapor Agrif.


Anak itu semakin sesak, jika kembali mengingat momen kebersamanya dengan sang papah.


__ADS_2