
Rara keluar dari kamar mandi menggunakan baju piyama berwarna pink, bergambar panda. Langkah kakinya membawanya menuju meja rias. Dia ingin menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
Beberap detik, dia sadar jika di dalam kamar ini tidak ada suaminya. Kemana Frezan? Rara keluar dari pintu kamar untuk mencari suaminya.
''Siska,'' panggilnya kepada pengasuh anak-anak. Namanya Siska, merupakan baby sister anak-anak di rumah Frezan dan Rara.
''Iya,'' jawabnya dengan sopan kepada Rara.
''Kamu lihat kak Eza ?'' Tanya Rara dan dibalas nggukan kepala oleh Siska.
''Kata bi Inah, tadi. Ada di ruangan kerjanya.'' Siska menjawab dengan sopan.
Rara langsung melenggang pergi saat mendekatkan jawaban dari Siska. Langkah kakinya membawanya menuju ruangan kerja Frezan.
Ceklek
Suara pintu terbuka, membuat kedua pria didalam ruangan itu langsung menatap pintu yang di buka oleh sosok wanita yang menggunakan baju piyama berwarna pink, bermotif panda, serta rambutnya tergerai begitu indah.
''Panjang umur,'' gumam Nathan yang masih di dengarkan oleh Frezan.
''Rara ganggu yah?'' Rara dengan rasa tidak enak memperlihatkan wajahnya yang kecut, karna masuk begitu saja didalam ruangan Frezan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dia pikir, suaminya hanya sendiri di ruangan kerja. Namun saat membuka pintu, dia melihat ada Nathan di sini juga.
''Maaf,'' cicit Rara.
''Ahk, tidak perlu minta maaf, Ra.'' Nathan angkat bicara membuat Frezan menatap tajam adiknya itu.
Benar-benar Nathan ingin membuat Frezan semakin panas saja. Meski yang berbicara adalah adiknya, dan dia tau dia hanya bercanda namun membuat Frezan tetap tidak suka!
‘’Namanya juga cewek. Cewek, kan nggak pernah salah. Jadi, nggak usah minta maaf,'' ucap Nathan seraya melirik Frezan dari ekor matanya.
Andai saja Frezan manusia api, mungkin saja gejolak api itu langsung terbakar di setiap detail tubuh Frezan.
__ADS_1
Meski takut dengan tatapan sangar Frezan, dia tetap melanjutkan bicaranya. ''Apa yang gue bilang, emang benar, kan, Ra?'' Nathan meminta pendapat kepada Rara.
''Hehhe, iya!'' Jawabnya dengan enteng membuat Frezan melirik Rara tanpa Rara ketahui. Jika mata tajam itu sedang menatapnya dan sukses membuat nathan tersenyum sumringah dengan Frezan yang sekarang.
''Sini!'' Suara dingin bernada rendah itu mampu membuat ruangan yang tadinya dingin, menjadi panas.
''Aku?'' Tunjuk Rara pada dirinya sendiri, membuat nathan berusaha menahan ketawanya agar tidak meledak di tempat dingin ini.
‘’Bukan kamu, tapi yang di belakang kamu,'' sungut Frezan membuat Rara menengok kebelakang.
Tingkah Rara membuat nathan yang sedari tadi menahan tawa langsung memecahkan tawanya sendiri.
''Aduh, ipar ku yang paling cantik. Masa gitu aja nanya. Tentu kamu yang di maksud suami kamu, tapi tetap nengok ke belakang!'' Tawanya menggemah diruangan Frezan.
Suara tawa Nathan menghiasi telinga Rara dan Frezan saat ini. Raut wajah Frezan masih tetap sama. Dingin dan matanya yang menatap dengan tajam.
Rara juga ikutan tertawa, mendengar tawa Nathan yang menular. ''Aku nyuruh kamu ke sini, ngapain masih di situ?'' desis Frezan membuat Rara dengan cepat menghampiri Frezan.
''Sepertinya Rara datang tidak tepat waktu,'' lirihnya membuat Nathan geleng-geleng kepala.
‘’Jangan pernah ganggu punya gue, kau tau kakakmu ini seperti iblis jika sudah marah.'' Frezan menyungkirkan senyuman devil
‘’Masa itu cuman masanya cinta monyet!” Frezan berusaha biasa saja. Dia sangat jengkel kepada Nathan saat ini.
Rara menyeritkan alisnya bingung, dia masih belum mengerti situasi saat ini. Kondisinya sangat dekat dengan Frezan, sehingga membuat dirinya sulit bergerak.
Rara melirik Nathan yang berusaha menahan senyuman.
''Tapi….. cinta monyet itu yang nggak bisa di lupa, kak!'' goda Nathan kembali membuat Frezan semakin menempelkan Rara di dekatanya. Seakan-akan Nathan akan merebut Rara darinya.
Tentu saja masa itu menjadi masa terindah untuk mereka di masa SMA. Masa putih abu-abu kenanganya jauh lebih banyak ketimbang masa putih biru. Karna masa putih abu-abu mereka baru mengenal dekat namanya cinta.
''Iya, kan, Ra?'' Goda Nathan menatap Rara dengan tatapan menggoda membuat Rara masih tidak tau, apa yang terjadi didalam ruangan yang telah di masuki.
__ADS_1
''Iya, apa, yah?'' Tanya Rara dengan bingung kepada Nathan.
''Kamu pertama kalinya suka sama cowok, dan cowok itu diriku.''
Nathan sukses membuat Rara tersneyum geli. Yah, tentu saja Rara ingat itu. Entahlah, mengapa saat pertama kali most dia langsung jatuh hati kepada Nathan saat itu.
Rara pikir, dia tidak akan bisa mendapatkan Nathan karna Nathan hanya melirik sahabtnya saat itu, yaitu Amarhum Tasya.
Namun pikirnya salah, karna tujuan Nathan mendekati Tasya saat itu hanya untuk mendekati Rara melalui Tasya.
Rara saat itu kagum kepada Nathan, sehingga timbul rasa suka kepada Nathan. Namun, seiring berjalanya waktu, Rara sadar jika dia hanya mengagumi Nathan saat itu, bukan jatuh cinta. Dia merasakan jatuh cinta saat dekat dengan Frezan. Sosok cowok yang mampu membuat jantung Rara berdetak bertalu-talu.
''Rara saat itu cuman kagum sama kak Nathan. Rara pikir Rara jatuh cinta sama kak Nathan, ternyata hanya rasa kagum saja saat pertama kali most,'' ujarnya.
Tidak apa menurut Nathan jawaban Rara. Karna perkataan Rara barusan mampu membuat Frezan ingin meledak detik ini juga.
Sorot mata Frezan yang tajam masih menatap Nathan dengan lekat, bahkan Nathan mengusap belakang lehernya karna merasakan hawa yang semakin dingin saat ini.
Siapapun yang ada di sini, tolong bawa gue keluar! Nathan hanya bisa membatun. Sepertinya dia sudah membangunkan jiwa iblis Frezan yang tidur. Bahkan, dia tidak berani menatap Frezan lagi.
Rara yang melihat gerak gerik Nathan membuatnya melirik Frezan. Rara juga meneguk salivanya susah payah, melihat tatapan tajam dan menusuk itu di tujukan pada Nathan.
Bludak
Jantung Rara semakin tidak karuan saat mata Frezan juga meliriknya. Tidak ada tatapan cinta saat ini di mata Frezan, hanya tatapan sadis saja membuat Rara merasa Terancam saat ini.
Rara mengigit bibirnya, untuk mengusir rasa gugupnya. Tapi, tetap saja dia menjadi gugup berhadapan dengan suaminya sendiri.
Sudah bertahun-tahun menikah dengan Frezan. Namun Rara masih juga takut dengan tatapan Frezan hingga saat ini. Meski Rara yakin suaminya itu tidak akan menbuatnya tercabik, tapi tetap saja rasa takut itu ada pada dirinya.
Rara ingin sekali berteriak, dan meminta pertolongan agar segera keluar dari tempat ini.
Dia merapalkan doa, agar Hasya menagis dan Rara segera menghampiri anaknya dan lolos dari sini.
__ADS_1
''Abang Nathan, katanya kita mau pulang. Kok masih cerita!''