Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kedipan


__ADS_3

Rifal dan Valen saling melirik, Rifal memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya dengan matanya fokus menatap Valen sementara tangannya memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya.


"Hmmm," Nando berdehem kearah Rifal sehingga Rifal dan Valen menatap kearah Nando yang tengah sengaja memainkan handphonenya ditangannya.


Sementara Kayla hanya memperhatikan mata Rifal, Kayla bisa melihat bagaimana tatapan Rifal kepada Valen.


Penuh dengan cinta untuk Valen, namun terhalang sesuatu untuk semuanya. Kayla tidak tau, apakah caranya mengamati berlebihan atau seperti apa. Namun, dia yakin dengan penglihatannya jika Rifal sangat mencintai sahabatnya itu.


Huft


Nando melirik Kayla yang menghembuskan nafas berat dengan menyandarkan kepalanya dikursi kayu tersebut.


"Kalau kalian saling mencintai, kenapa harus saling menyakiti?" pertanyaan tersebut langsung keluar dari mulut Kayla membuat ketiga makhluk itu langsung melihat kearah Kayla.


Sementara Valen meremas ujung dresnya akibat perkataan Kayla tadi. Apa katanya tadi, jika saling mencintai mengapa harus saling menyakiti?


Valen berpikir, pertanyaan itu seharusnya untuk seseorang yang memang saling mencintai namun enggan untuk mengatakannya.


Kayla menatap Rifal dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue harap lo bisa pikir semuanya, sebelum terlambat. Lo tau sendiri bukan cuman lo yang mencintai Valen," kata Kayla menjedah perkataannya. "Tapi ada sosok Nathan yang siap menerima Valen apa adanya kalau lo ninggalin dia."


Perkataan Kayla sukses membuat Nando takjub. Sementara Rifal sedang bertengkar dengan pikirannya. Hatinya terombang-ambing saat ini juga. Tanpa Kayla jelaskan dia sudah tau jika Nathan akan siap menerima Valen jika dia melepaskan Valen.


"Kay," panggil Valen karna merasa tidak enak dengan situasi seperti ini.


"Gue tau, apa yang lo rasain, Va. Jadi jangan pura-pura tegar. Seakan-akan lo nggak punya masalah sama sekali padahal kenyataannya lo nggak bisa mikir apa masalah lo bisa lo selesain atau nggak," kata Kayla lagi membuat Valen terdiam.


Sementara Nando hanya mendengarkan dengan seksama, apa yang dikatakan Kayla memang benar.


"Lebih baik memperbaiki, daripada harus memulai dari nol dengan orang baru," timpal Nando dan dianggukan setuju oleh Kayla.


"Apa yang dibilang sama asisten lo memang benar," lanjut Kayla membuat Valen dan Rifal hanya diam saja.


"Gue sayang sama sahabat gue. Gue nggak rela kalau lo sakitin cewek sebaik Valen." Kayla seakan-akan tidak ingin berhenti berkata sekarang juga.


"Seharusnya lo pertahanin, bukan sebaliknya," ucap Kayla meminum minumannya.


Ting


Handphone milik Kayla bunyi menandakan adanya pesan masuk.


"Pulang kerumah sekarang, sikembar nangis."

__ADS_1


Kayla langsung memasukkan handphonenya kedalam tas bermerek miliknya saat membaca pesan dari Elgara, suaminya.


"Hati-hati, bawa mobilnya."


Kayla tersenyum membaca pesan dari Elga, dia membalas pesan Elga lalu memasukkan handphonenya kedalam tas miliknya kembali.


"Gue duluan yah, Va. Soalnya sikembar nangis," pamit Kayla dan dibalas anggukan kecil oleh Valen.


Sekarang tinggal mereka bertiga saja direstoran ini.


"Dokter Valen!"


"Om Rifal!"


"Kak Nando!"


Mereka yang dipanggil namanya langsung membalikkan badannya dan melihat sosok gadis tengah melambaikan tangannya kearah mereka, dia masih mengenakan almamaternya.


"Lea," menolog mereka bersamaan saat melihat Lea berada disini.


Teriakan gadis itu menjadi pusat perhatian direstoran ini.


"Ketemu lagi, kita!" kata Nando heboh melihat Lea menghampirinya.


"Yang nyuruh kamu duduk siapa?" ejek Rifal membuat Lea mengedikkan bahunya.


"Keinginan Lea, sendiri," balasnya membuat Rifal memutar bola matanya malas.


"Kalau pulang kuliah langsung kerumah, bukan kesini," kata Nando sehingga Lea melihat kearah Nando.


"Kalau nggak ditraktir Lea nggak bakalan kesini, kapan lagi coba yang bisa traktir Lea direstoran mahal," ucap Lea dan dibalas gelengan kepala oleh Nando.


"Yang teraktir kamu siapa?" tanya Valen penasaran kepada tetangganya itu.


"Kak Nando!" jawab Lea semangat empat lima membuat Nando membulatkan matanya. Bukan apanya, dia terkejut karna setahunya dia tidak pernah mengatakan akan mentraktir gadis itu.


"Sejak kapan saya janji kamu buat traktir?" tanya Nando menyipitkan matanya kearah Lea.


"Anggap aja sebagai wujud perkenalan kak Nando sama Lea," kata gadis itu membuat Rifal tersenyum masam.


"Kita pulang," ajak Rifal kepada Valen sehingga Valen terdiam.

__ADS_1


Dia tidak salah dengarkan jika Rifal mengajaknya pulang bareng?


"Tap_" belum sempat Valen menyelesaikan perkataannya, lebih dulu Rifal mengambil tas Valen lalu memegang tangan Valen sehingga dia beranjak dari kursi yang dia duduki.


"Jangan macam-macam sama Lea. Lea bukan perempuan yang sering lo temuin, Nan," bisik Rifal ditelinga Nando lalu pergi meninggalkan restoran bersama dengan Valen.


Sementara Lea hanya menatap punggung Valen yang sudah menjauh bersama dengan Rifal.


"Yah..Kok pulang sih! Padahal Lea baru sampai," keluh gadis itu membuat Nando menatap Lea.


"Kamu nggak suka Rifal 'kan?" tanya Nando menyipitkan matanya kearah Lea membuat Lea langsung refleks mencubit perut pria itu sehingga dia meringis.


"Kak Nando bisa-bisanya bilang kayak gitu. Jawabnya nggak lah, lagian Lea udah anggap om Rifal sebagai seperti om Lea sendiri," kata Lea dan dibalas dengan ber oh riah dengan Nando.


"Gue kira...."


"Kamu pesan gih makanannya saya mau kerja dulu," kata Nando memanggil pelayan restoran.


Dia mengeluarkan laptopnya dari balik tas kerjanya. Dia menyimpan laptopnya diatas meja dengan Lea sibuk memesan makanan.


"Ini beneran kak Nando yang traktir 'kan?" tanya Lea memastikan tanpa memalingkan wajahnya dari buku menu direstoran saat ini.


"Iya, saya yang traktir," balas Nando dengan matanya fokus kearah laptop.


"Saya pesan ayam bakar, ayam goreng, kentang goreng, spaghetti, pizza, burger isi daging sapi. Minumannya es teh dua kuenya aku minta kue coklat blueberry," kata Lea memberikan buku menu tersebut kepada pelayan.


Sementara Nando langsung melihat kearah Lea. Sungguh banyak makanan dipesan oleh gadis itu, jika dilihat dari tubuhnya tidak sesuai dengan porsi makanan gadis itu.


Lea melihat kearah Nando, dia cengengesan dengan Nando menatapnya dengan tatapan tidak percaya memesan makanan sebanyak itu.


"Oh iya, Lea lupa pesan, tambahin mie pangsit satu yah," kata gadis itu membuat Nando membuka sedikit mulutnya.


"Baik, kalau bapak ini mau pesan apa," tanya pelayan tersebut kepada Nando sehingga Nando melihat kearah pelayan tersebut.


"Hmm...Saya pesan minuman jeruk saja," kata Nando.


"Terus makanya apa?" bukan pelayan tersebut yang bertanya, melainkan Lea yang menatap Nando dengan tatapan tanpa berdosa.


"Nggak usah malu-malu sama Lea," lanjutnya membuat Nando menarik nafasnya panjang.


Benar kata Rifal, kalau tetangganya ini memang sedikit gesrek. Bisa ku katakan dia gadis idiot. Untung saja manis

__ADS_1


Nando hanya membatin.


"Saya nggak perlu pesan makanan, melihat kamu makan saja sudah membuat saya kenyang," kata Nando mengedipkan matanya kearah Lea.


__ADS_2