Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Memanjakan Rifal


__ADS_3

Tugas Valen telah selesai, memakaikan Rifal pakaikan hingga memberikan pria itu parfum kesukaannya.


“Udah ganteng,” kata Valen melihat penampilan Rifal semakin tampan, dengan kondisinya yang tidak bisa melihat.


“Suami kamu kan tampan sejak dulu,” sombong Rifal dna dibalas gelengan kepala oleh Valen.


Valen menuntun Rifal kembali menuju bansal, membantu pria itu membentangkan tubuhnya diatas bansal.


“Sarapan dulu,” kata Valen setelah Rifal sudah berhasil baring. Dengan kepalanya dia sandarkan di bansal.


“Pengen nya makan kamu aja,” seloroh Rifal membuat Valen jadi salah tingkah.


Entahlah, sudah berapa kali Valen menjadi salah tingkah akibat perkataan Rifal, dari pertama ingin memandikan pria itu hingga sampai sekarang.


“Sembuh dulu, baru bisa makan aku,” balas Valen tak ingin kalah dengan suaminya.


“Heheh, emangnya kamu ngerti yang aku bilang?”


“Tualah, otak kamu kan mesum!” ejek Valen.


“Otak kamu juga mesum, karna kamu tau apa yang aku bilang!” Balas Rifal membuat Valen menjadi gelagapan lalu kemudian dia angkat bicara.


“Makan dulu, jangan banyak ngomong,” kata Valen menyendok makanan dari piring untuk di suap kepada Rifal.


“Iya, bawel!”


Rifal langsung membuka mulutnya, dan memakan makanan yang di suap oleh Valen.


“Kasi aku tisu,” perintah Rifal kepada Valen membuat Valen langsung meletakkan tisu diatas tangan Rifal.


“Kenapa? Makanannya nggak enak yah?” Kata Valen mengambil tisu yang di dalamnya sisa makanan yang di buang oleh Rifal.


Valen langsung membuang tisu tersebut seraya menunggu Rifal untuk bicara.


“Aku ini buta, bukan punya penyakit diare yang makanannya harus bubur!” kesal Rifal. Dia tidak tau jika makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit untuknya adalah bubur yang sama sekali tidak dia sukai.


“Jadi kamu maunya makan apa?” Tanya Valen sembari meletakkan bubur yang dibawa oleh perawat tadi diatas meja.

__ADS_1


“Aku maunya makan kamu.”


“Aku serius Fal, kamu harus makan!” kesal Valen kepada Rifal.


“Kan kamu nanya aku mau makan apa, jadi aku bilang,” kata Rifal santai.


“Entar kamu makan aku, setelah kamu sembuh,” kata Valen. “Sekarang kamu makan, bilang mau makan apa, jangan bilang mau makan aku.”


Rifal terkekeh, dia tau jika Valen saat ini kesal kepadanya.


“Yaudah. Aku mau makan nasi goreng buatan kamu,” pintah Rifal.


“Nasi goreng buatan mbak kantin aja yah, soalnya kita lagi di rumah sakit. Entar kalau udah pulang baru aku masakin nasi goreng,” kata Valen dengan lembut.


“Kalau kamu nggak bisa, suruh aja Nando yang buat. Kalau bukan Nando aku nggak akan makan,” ancam Valen.


“Enak bener mulutnya kalau jadi bos!” Entahlah, sejak kapan Nando sudah ada di ruangan ini.


Rifal yang mendengar suara Nando semakin bersemangat untuk menyuruh pria itu untuk membuatkannya makanan.


“Yaudah kalau lo nggak mau, Nan. Gue nggak bakalan makan biar gue tetap di sini biar lo yang handel seluruh pekerjaan kantor,” ucapnya dengan santai membuat Nando berdecak kesal.


Nando tau, jika Rifal hanya mengerjainya karna perihal tadi.


“Jangan lupa, lo yang harus buat. Kalau bukan lo gue nggak bakalan makan. Gue bakalan tanya sama pihak kantin apa lo yang masak atu bukan!” teriak Rifal saat mendengar pintu ruangannya di buka oleh Nando membuat Nando semakin kesal.


“Nando juga kecapean,” nasehat Valen.


“Dia udah buat aku malu di depan kamu, saatnya balas dendam,” kata Rifal. “Kalau aku udah bisa melihat, aku bakalan buat dia minta ampun,” lanjutnya hanya membuat Valen menggelengkan kepalanya.


Nando berjalan menuju kantin rumah sakit, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Lea di koridor.


Mereka berdua menghentikan langkah kakinya, Nando ingin ke kantin sementara Lea ingin menuju ruangan Rifal.


Lea dan Nando saling bertatapan, Lea langsung melanjutkan langkah kakinya namun pergelangan tanganya langsung di cekal oleh Nando.


“Lea,” panggil Nando sehingga gadis itu menghentikan langkah kakinya karna Nando mencekal pergelangan tanganya.

__ADS_1


Mereka berdua kembali bertatapan. “Salah saya ke kamu apa?” Kali ini Nando berkata serius membuat Lea langsung meneguk salivanya susah payah.


Ini pertama kalinya Nando berbicara padanya dengan nada serius. Dan jangan lupa tatapan matanya seperti mengintimidasi dirinya ini.


“Apa karna kesalahan saya yang mendengar obrolan kamu dengan dokter Nathan?” Lanjutnya membuat Lea semakin meremang mendengar suara Nando yang tidak seperti biasanya. “Perlu kamu tau, saya tidak sengaja mendengar percakapan kamu dengan dokter Nathan.”


Nando melihat tanganya yang masih mencekal tangan Lea, dia langsung melepasnya sementara Lea masih diam belum angkat bicara.


“Saya minta maaf,” ucap Nando lalu pergi melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Lea.


Sementara Lea masih diam di tempatnya sembari melihat punggung kokoh Nando yang sudah menjauh.


“Kak Nando,” gumam Lea dengan nasa suara yang bersalah.


“Lea sih kelamaan ngambek nya sama kak Nando!” gadis itu menyalahkan dirinya sendiri lalu melanjutkan langkah kakinya untuk segera menuju ruangan Rifal.


Sementara Nando menghembuskan nafasnya berat sebelum masuk kedalam kantin untuk membuat nasi goreng.


“Kenapa sih, Nan, kenapa kamu kepikiran gini gara-gara di ngambekin sama anak kecil!” kilahnya lalu masuk kedalam kantin.


Terlebih dahulu Nando meminta izin pada pemilik kantin untuk membuat nasi goreng, dan pemilik kantin tersebut mengiyakan permintaan Nando.


Nando melihat bahan seadanya di dapur, untung saja dia tau sedikit mengenai nasi goreng makanan yang hampir setiap pagi dia makan sebelum berangkat kerja.


Nando terlebih dahulu mengambi bawang merah dan juga bawang putih kemudian mengambil saus tomat dan juga kecap manis.


Dia mulai menggoreng nasi untuk Rifal, dia membuatnya sedikit susah payah karna menggunakan bahan yang harus dia kelola bukan bahan siap saji.


Sekitar 15 menit berkutat dengan panci di dapur, akhirnya Nando telah usai membuta nasi goreng.


Dia mengambil mentimun untuk dia hiasi diatas nasi goreng tersebut.


Hidrat


Nando bernafas legah akhirnya nasi goreng yang dia buat telah selesai. Terlebih dahulu dia membayar nasi goreng tersebut dan memberikan uang tambahan karna dapur penjual tersebut dia buat berantakan seperti kapal pecah.


Nando keluar dari kantin untuk segera menuju ruangan Rifal untuk memberikan pesanan Rifal. Nando belum mencicipi bagaimana rasa nasi goreng yang dia buat.

__ADS_1


Nando melihat sekelilingnya, dia mencari sosok Nathan, karna sudah beberapa hari ini dia tidak melihat Nathan di rumah sakit.


“Kemana perginya dokter Nathan?” menolog Nando, dia penasaran saja dengan Nathan, karna beberapa hari ini dia tidak melihat Nathan di area rumah sakit.


__ADS_2