Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Aska dan Asrifal


__ADS_3

Valen dan Rina sudah naik ke atas lantai dua, mengantar mertuanya menuju kamar tamu dan ingin saling mengobrol mengenai kehamilan pertama menantunya itu.


Sedangkan di ruangan keluarga menyisahkan Asrifal dan juga Aska.


“Ada yang ingin kamu ceritakan sama Daddy?” Tanya Aska dengan tiba-tiba kepada putranya itu.


“Rifal hanya ingin mengatakan, tidak lama lagi Daddy akan mempunyai cucu,” ucapnya dengan santai kepada Aska.


Aska menatap Rifal. “Ada yang lain?” Suara milik Aska seperti sedang mengintimidasi Rifal. Memang kenyataannya seperti itu.


“Kamu bisa membohongi Mommy mu, tapi tidak dengan Daddy mu,” lanjut Aska membuat Rifal meneguk salivanya susah payah.


Sepertinya Aska sudah mengetahui, musibah yang dia alami sebulan yang lalu. “Jadi katakan, Daddy ingin mendengar langsung dari mu,” tegas Aska membuat nyali Rifal menciut jika sudah berhadapan dengan Daddy-Nya.


“Apa Daddy sudah mengetahuinya?” Tanya Aska.


“Tentunya, meskipun Daddy tinggal di perkampungan bukan berarti Daddy tidak mengetahui apa yang menimpah mu, Rifal. Kamu anak satu-satunya Daddy, karna adik kamu sudah meninggalkan kita,” kata Aska dengan nada sedih saat mengingat putra keduanya Tegar, yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka.


“Daddy khawatir, kamu akan pergi meninggalkan Daddy lebih dulu seperti adikmu,” lanjutnya mengusap matanya agar air matanya tidak jatuh di pipihnya.


“Maafkan, Rifal. Dad,” sesal Rifal. “Tapi Rifal udah baik-baik sekarang, jadi Daddy tidak usah khawatir lagi,” kata Rifal membuat Aska menarik nafasnya panjang.


“Hal besar yang kamu alami, kenapa tidak kamu katakan sama Daddy,” kecewa Aska kepada putra pertamanya.


“Rifal cuman nggak mau buat Daddy sama Mommy khawatir sama Rifal,” kata Rifal dengan serius kepada Aska.


“Apa kamu ingin seperti Tegar, adikmu? Dia pergi meninggalkan rasa sesal dalam diri Daddy,” kata Aska mengingat bagaiamana kronologis anaknya itu meninggal.


“Maafkan Rifal, Dad,” Rifal minta maaf sembari memeluk Aska.


“Janji sama Daddy, apapun yang kamu alami harus beritahukan kepada Daddy. Kamu adalah anak Daddy, dan Daddy adalah orang tua kamu,” nasehat Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Aska mengusap punggung Rifal. “Jaga Valen, karna Valen sedang mengandung anak kamu dan cucu Daddy dan Mommy kamu,” nasehat Aska kepada Rifal dengan serius.

__ADS_1


“Jangan sia-siakan wanita sebaik Valen,” lanjutnya.


“Aku sudah mencintai Valen dengan serius, Dad. Bahkan Valen adalah separuh nafas Rifal,” katanya membuat Aska tersenyum mengejek.


“Ternyata kamu suka menggombal,” kata Aska.


“Keturunan, Daddy,” ucapnya membuat kedua pria itu tertawa terbahak-bahak dengan apa yang di katakan oleh Rifal.


“Apa kamu sudah membawa istri kamu di dokter kandungan? Untuk USG, apakah anaknya perempuan atau cowok,” kata Aska.


“Valen nggak mau. Dia mau menjadi suprise tersendiri untuknya saat anaknya sudah lahir ke dunia,” jujur Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Aska.


“Matamu sudah berbeda, lebih indah membuat mu semakin tampan. Siapa mata yang kamu dapatkan?” Tanya Aska baru memperhatikan jika mata putranya kali ini sangat indah.


Rifal tersenyum getir. “Ini mata dari, Adel,” jawabnya membuat Aska langsung terkejut.


“Adelia?” Tanya Aska memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


“Tapi hebatnya, dia menitipkan matanya untuk Rifal.”


“Sekarang Adel di mana?” Tanya Aska membuat Rifal menatap Aska.


“Dia udah pergi ninggalin Rifal selamanya, matanya adalah hadiah yang tidak akan Rifal lupakan.”


Sementara Rina dan Valen sedang duduk di tepi ranjang. “Apa kamu sudah ke dokter kandungan untuk USG kandungan kamu? Apakah anaknya cowok atau perempuan,” kata Rina dengan tidak sabaran kepada Valen.


Valen menggelengkan kepalanya. “Valen belum pernah USG. Valen mau menjadi hadiah untuk Valen saat anak Valen udah lahir, apa cowok atau perempuan,” kata Valen membuat Rina menganguk mengerti.


“Apa Rifal selalu memanjakan mu?” Tanya Rina dengan pelan. Karna dia tau pernikahan anak dan menantunya itu seperti apa.


“Seharusnya begitu, karna kamu tengah hamil,” Rina tersenyum masam.


“Suami Valen memanjakan Valen kok, Mom. Dia semakin menyayangi Valen selama Valen hamil,” jujur Valen mengingat sikap manis Rifal kepadanya.

__ADS_1


“Astagah, apa yang kamu katakan serius? Kamu tidak melakukan drama kan untuk menjadi istri yang menjaga aib suami sendiri?” Sosor Rina membuat Valen tertawa melihat mertuanya ini.


“Bahkan Rifal sangat bucin dengan Valen, Mom. Memang kami baru-baru saja menyadari jika kami saling mencintai,” ucapnya sembari tersenyum hangat kearah mertuanya.


“Apa kamu tau, Valen. Di manjakan dengan pria yang mencintai kita itu sangat menyenggangkan ,” kata Rina sembari mengingat Aska yang selalu memanjakan dirinya saat dia mengandung Rifal dan almarhum anaknya Tegar.


Tiba-tiba saja Rina menitihkan air matanya membuat Valen bertanya-tanya. “Mommy kenapa?” Tanya Valen tersirat rasa khawatir pada dirinya saat ini.


“Mommy tiba-tiba merindukan, Tegar,” kata Rina sembari mengusap air matanya.


Valen langsung memeluk Rina, bagaimanapun dia pernah mencintai Tegar sebelum dia jatuh cinta kepada Rifal, kakak Tegar sendiri.


Valen tersenyum saat mengingat hal gila yang pernah dia lakukan saat SMA, di mana dia selalu menggombal Rifal dengan pantun yang selalu dia copqs di goegle membuat pak Bambang saat itu mengatakan jika muridnya paling gila adalah Valen, yang sangat menggilai sosok Tegar.


Anehnya, Valen selalu saja mencintai Tegar saat itu meski berulang kali Tegar menunjukkan penolakan kepadanya. Cowok pertama yang berhasil membuat Valen gila mencintai seseorang, yaitu Tegar. Dan sosok yang sekarang selalu saja membuatnya ingin terbang karna perlakuan manis suaminya, Rifal.


“Mommy yang sabar, yah,” kata Valen sembari memeluk Rina.


Rina mengangguk. “Makanya, kamu harus membuat banyak cucu untuk Mommy, karna mempunyai satu anak itu kurang memuaskan. Kalau perlu kamu cetak 6 enak,” kata Rina dengan santai membuat Valen meneguk salivanya susah payah.


Dia tidak tau, bagaiamana rasanya menjadi wanita seutuhnya setelah melahirkan. Valen tidak membalas perkataan Rina lagi.


“Besok kita ke Mall, buat belanja perlengkapan calon cucu Mommy,” kata Rina dengan semangat.


Valen tersenyum, dia saja belum berpikir untuk membeli perlengkapan bayi karna masih ada beberapa bulan kedepan.


Tapi melihat semangat mertuanya membuatnya juga bahagia.


“Iya, Mom,” jawab Valen.


“Yaudah. Mommy mau istirahat dulu. Soalnya Mommy masih capek dari perjalanan ke kampung ke Jakarta,” kata Rina membaringkan tubunya di kasur empuk.


Valen mengangguk pergi, lalu keluar dari kamar yang di tempati oleh mertuanya. Dia masuk kedalam kamarnya, dan belum melihat Rifal di kamar, itu berarti Rifal belum usai bercerita dengan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2