
Sedangkan Mamah Lea hanya menggelengkan kepalanya mendengar balasan Lea.
"Kenapa kamu bawain Nando buah?" tanya mamah duduk di kursi makan.
"Kak Nando lagi sakit."
"Emangnya kamu udah kenal lama sama sih Nando itu sampai-sampai kamu mau jenguk dia malam-malam begini?" tanya mama.
"Baru kemarin Lea kenal sama kak Nando," jawab Lea.
"Tapi kok kamu udah repot-repot mau jenguk dia? Kan kamu baru kenal sama dia," kata mama kepada Lea.
"Karna mungkin aja kak Nando sakit karna antar Lea ke taman bermain pagi tadi," kata Lea.
"Pagi tadi?"
Lea langsung meneguk salivanya susah payah, dia ketahuan tidak ke kampus.
"Lea," geram mama membuat Lea langsung memasukkan buah tersebut kedalam tas.
"Lea pamit dulu yah mah, soalnya ojek online pesanan Lea udah didepan," pamit Lea menyalami tangan mamahnya dengan secepat kilat lalu pergi dari hadapan Mamah.
"Lea, kenapa kamu bolos kuliah lagi!" teriak mamah yang sudah tidak didengarkan oleh Lea. Dia mendengar nampak samar, namun Lea yakin jika mamahnya itu sedang marah.
"Jalan pak," intruksi Lea kepada tukang ojek tersebut.
"Pake helmnya dulu, neng. Supaya aman," ucap tukang ojek tersebut sembari memberikan Lea helm dan segera dipakai oleh gadis itu.
Mamah Lea yang bernama Novi langsung memijit pelipisnya.
"Ya Tuhan punya anak gadis modelan kayak Lea apa ada yang mau sama anak itu?" menolog Novi seorang diri. "Saya harus mencarikan jodoh yang berpikir dewasa untuk Lea yang berpikiran anak kecil."
Novi sudah membukakan jalan, jika dia akan menjodohkan anaknya dengan orang yang berpikir dewasa.
Lea mengarahkan tukang ojek tersebut jalan sesuai dengan apa yang dikirimkan oleh Valen.
"Disini?" tanya tukang ojek tersebut.
"Kayaknya sih disini," kata Lea turun dari motor melihat bangunan yang menjulang tinggi yang sangat mewah.
"Apartemen tempat kak Nando tinggal mewah banget," kata Lea menatap takjub.
Lea memberikan ongkos ojeknya kepada tukang ojek tersebut lalu masuk kedalam. Dia memasuki lift lalu memencet angka 5 yang menandakan jika dia ingin menuju lantai lima nomor tiga.
__ADS_1
Lea sudah berada di depan pintu apartemen nomor tiga, dia telah disuguhkan beberapa deretan angka.
Tangan Lea bergerak memencet bel.
Tidak ada sahutan dari dalam membuat Lea mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi dokter Valen.
Ting
Satu pesan masuk di handphone milik Valen yang tengah memeriksa e-mail yang masuk kedalam handphonenya.
"Dokter Valen, Lea udah di depan pintu apartemen kak Nando. Lea mau buka pake pin tapi Lea nggak tau pin-Nya apa."
Valen bergerak dari pembaringanya sehingga dia melepaskan tangan kekar milik Rifal yang tengah memeluk dirinya dengan erat.
"Ya ampun," keluh Valen saat memegang Handel pintu telah terkunci. Dia mencari kunci di dekat meja namun dia tidak menemukannya. Dia yakin jika Rifal yang menyimpan kunci tersebut. Tapi di mana Rifal menyimpan kuncinya?
Tangan lentik milik Valen bergerak membalas pesan Lea.
Ting
"Bentar yah, Lea. Saya sedang mencari kunci kamar buat keluar."aaaa
Lea membaca pesan dari Valen, lalu dia menyandarkan tubuhnya disamping pintu sembari membalas pesan Valen.
"Iya, dok."
Padahal baru- baru saja Rifal mengatakan melarang Valen untuk mengganggunya tidur.
"Fal," panggil Valen dengan suara pelanya sembaru memegang lengan Rifal. Jika dia tidak membangunkan Rifal bisa-bisa Lea akan menunggu terlalu lama diluar.
"Fal, kunci kamar mana?" lanjutnya sementara Rifal belum juga bergeming.
"Fal." Kali ini Valen mengguncang tubuh milik Rifal untuk memimta kunci.
"Hmm." Rifal hanya membalasnya dengan deheman saja karna rasa kantuk nya.
"Kunci kamar mana?" tanya Valen lagi namun Rifal tak menjawabnya karna dia masih tidur lelap kembali.
"Rifal!"
"Rifal!"
"Rifal!"
__ADS_1
Rifal langsung mengacak rambutnya karna tidurnya di ganggu oleh Valen. Andai saja bukan Valen sudah sedari tadi dia menghajarnya.
"Kenapa?" tanya Rifal yang tidak mendengar apa yang Valen katakan tadi kepadanya.
Rifal berkata sembari menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.
"Maaf."
Kata-kata itu langsung keluar dari mulut Valen membuat Rifal menatap Valen. Hanya kata maaf saja yang dia ingin dia katakan perempuan itu membangunkannya.
"Maaf udah ganggu kamu tidur," lanjutnya sembari menundukkan kepalanya. Dia merasa takut dan juga merasa bersalah melihat Rifal. Dia membangunkan pria itu padahal dia tidur nyenyak.
Hingga dia lupa tujuannya membangunkan Rifal.
Rifal mengangkat dagu milik Valen dengan lembut sehingga mereka berdua saling bertatapan . "Kamu nggak pernah salah dimata aku. Apapun itu," kata Rifal lalu membawa Valen dalam dekapannya.
Valen membalas pelukan Rifal, sementara nama Lea dan juga kunci langsung hilang dalam pikiran Valen saat Rifal memeluk dirinya dengan erat.
Sementara Lea sedari tadi menghentakkan kakinya, bagaimana tidak jika dia sudah lebih dari 20 menit menunggu namum Valen tak kunjung juga datang.
Valen dan Rifal asik berciuman hingga ingatanya kembali. Refleks saja dia mendorong tubuh milik Rifal membuat Rifal terkejut karna saking asiknya bercumbu dengan berciuman namun Valen langsung mendorong tubuhnya.
"Kunci kamar mana?" tanya Valen dengan cepat. Dia yakin Lea sudah lama menunggu dirinya, dia tidak tau jika menunggu itu enak.
"Mau kemana?" tanya Rifal.
"Lea ada diluar," kata Valen.
"Tuh," kata Rifal menunjuk diatas nakas ada kunci kamar.
Dengan cepat Valen langsung mengambil kunci tersebut lalu membuka pintu kamar. Sementara Rifal kembali membaringkan tubuhnya lalu menutup matanya.
"Ahk, sial!" kesal Rifal mengacak rambutnya. Beginilah Rifal, jika tidurnya terganggu dia akan sulit untuk tidur kembali. Dia bangun dari tempat tidurnya lalu menyalakan lampu. Entah apa yang akan dilakukan pria itu.
Tanganya bergerak mengambil handphone Valen, dia tersenyum sinis saat melihat pesan dari Nathan masuk.
"Ck, lo nggak bakalan bisa rebut Valen dari gue. Dan gue bakalan buat lo nyesel karna udah mau rebut istri gue. Sekarang gue cinta sama Valen jadi lo udah nggak punya kesempatan buat dapatkan Valen," menolog Rifal lalu menyimpan kembali handphone milik Valen.
"Maaf Lea, kuncinya baru saya dapat," kata Valen setelah mempersilahkan Lea untuk masuk.
Lea cengengesan kearah Valen. "Nggak apa-apa kok dok. Pangeran Lea aja Lea tungguin, apa lagi cuman nungguin kunci," kata Lea membuat Valen menggelengkan kepalanya. Dia tau maksud Lea pangeran itu siapa. Siapa lagi kalau bukan dokter Nathan.
"Apa-apa aja."
__ADS_1
"Kak Nando sakit apa?" tanya Lea setelah duduk diatas sofa.
"Perasaan pas keluar sama Lea tadi, dia baik- baik aja kok nggak sakit." lanjutnya.