Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Bertekad mencari Valen


__ADS_3

Nathan menatap dingin Rifal, sementara Rifal menatap tajam Nathan seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


''Ini bukan urusan mu!'' ringis Rifal membuat Nathan menyungkirkan senyuman misterius.


''Jangan menyusahkan kedua orang tuamu karna keterpurukanmu, bangkit dan carilah sendiri!'' tegas Nathan.


Dokter Kiki dan Zul hanya mendengar perdebatan antara Nathan dan Rifal.


''Jika kau yakin istrimu masih hidup, maka sembuh lah dan cari dia!'' Nathan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rifal setelah berdebat dengan pria itu.


Dokter Kiki dan juga Zul pamit, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka ingin memeriksa kondisi Rifal setelah dia bangun dari komanya selama satu tahun, dan pria itu mengatakan jika dia hanya pingsan semalam.


''Kau harus mendengarkan perkataan dokter Nathan tadi. Jika kau yakin istrimu masih hidup, carilah dia. Jika kau seperti ini bagaiamana bisa kamu membuktikan keyakinan mu itu?'' hembus Aska.


Dia tidak tau, harus menasihati Rifal dengan cara apa lagi.


Rifal menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan tempatnya berbaring selama satu tahun.


Perktaan Nathan dan Daddynya mampu membuat hatinya campur aduk.


Seharusnya dia mencari Valen sejak dia bangun dari komanya waktu pertama. Namun apa? Satu tahun ini dia membuang waktunya di sini.


Benar kata Nathan, jika dia yakin Valen masih hidup seharusnya dia mencari Valen, dan dia harus membuktikan keyakinannya itu.


Rifal menangis begitu piluh, membuat Rina juga menangis. Kondisi anaknya mampu membuatnya juga jatuh sakit.


''Mom, Dad!'' panggil Rifal kepada kedua orang tuanya dengan isakan tangis.


''Iya, nak!'' Rina langsung memeluk Rifal begitu erat. Begitupun dengan Aska memeluk anaknya hingga dia tidak ingin melapskan pelukanya.


Sudah satu tahun lebih Rifal seperti ini, membuat kedua orang tuanya merasakan ada yang hilang dari hidup mereka.


''Rifal suami bodoh!'' ucapnya dengan lirih masih memeluk Rina dan Aska.


''Rifal nggak becus!''


''Jangan menyalahkan dirimu,'' ucap Aska mengusap punggung putranya itu.


Aska mengusap air matanya, ''jika kamu yakin, kamu harus buktikan keyakinan mu, hingga kamu lelah dengan keyakinan mu itu,'' ucap Aska lagi.


Rifal melepaskan pelukannya lalu berkata serius. ‘’Rifal akan ke Bali,'' ucap Rifal dengan yakin. ''Rifal bakalan buktikan jika istri Rifal masih hidup.''


Rina hanya menganguk, biarkan saja Rifal mencari istrinya sampai dia lelah, mereka tidak berharap banyak, karna sudah satu tahun lebih kejadian itu.


''Daddy akan menemani mu,'' ucap Aska dan dibalas gelengan kepala oleh Rifal.


''Rifal akan mencari Valen sendiri, biarkan Rifal lelah sendirian,'' balas Rifal yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aska.


''Apa Daddy menyuruh Nando untuk menemani mu Ke Bali?'' tawar Aska lagi dan dibalas gelengan kepala oleh Rifal.

__ADS_1


''Baiklah,'' ucap Aska final karna anaknya tidak mau jika dia di temani Nando.


''Besok Rifal akan ke Bali,'' ucap Rifal dengan sungguh-sungguh membuat kedua orang tuanya terdiam.


Secepat itukah?


''Nak, jangan buru-buru, kamu baru sembuh. Tunggu sampai satu atau dua minggu,'' saran Rina dan dibalas anggukan setuju oleh Aska.


''Ini sudah terlalu lama,'' kaya Rifal lagi.


''Tap—''


''Tidak Mom, Rifal yakin Valen masih hidup. Dia pasti menunggu Rifal untuk menjemputnya pulang,'' yakin Rifal dengan senyuman terbit di sudut bibirnya.


‘’Mom khawatir kalau kamu kenapa-napa.'' terlihat kekhawatiran di wajah Rina karna anaknya ingin langsung ke Bali.


Padhal, dia baru saja bangun dari komanya.


''Rifal akak baik-baik aja, Mom.''


***


Frezan melirik Rara yang baru saja mengangkat Telfon. ''Siapa?'' tanya Frezan seraya menyeruput coffe buatan istrinya.


‘’Tante Rina,'' jawab Rara. ''Kak Rifal udah sadar dari komanya.''


''Entar malam kita jenguk kak Rifal, ya?'' pinta Rara kepada Frezan.


Frezan nampak berpikir, dia masih mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Dimana Rifal membentak istrinya, hal yang tidak pernah dia lakukan kepada Rara.


Momen itu tentunya tidak di lupakan oleh Frezan.


Rara menggenggam tangan Frezan, dia tau jika suaminya itu masih memikirkan perihal satu tahun yang lalu.


''Kejadian satu tahun yang lalu nggak akan terulang,'' yakin Rara kepada Frezan sehingga Frezan melirik istrinya begitu lekat.


''Bagaiamana kamu bisa yakin?'' hembus Frezan.


''Kamu, kan, tau, kalau aku nggak mau hal itu terjadi lagi. Semenjak kita menikah, aku nggak pernah ngebentak kamu,'' lanjutnya.


''Kak Rifal nggak bakalan ngulangin hal yang sama, aku yakin.''


Sementara Nando yang mendengar kabar jika Rifal sudah sadar langsung meninggalkan kantor untuk segera menuju rumah sakit tempat Rifal di rawat.


Selama hidup pria itu sudah tiga kali mengalami koma, dan koma terlama Rifal adalah satu tahun lamanya.


Hubungan Nando dan Lea masih seperti satu tahun yang lalu.


Nando sudah sampai di rumah sakit, saat dia turun dari mobil dia melihat Lea juga berjalan masuk kerumah sakit.

__ADS_1


Dia yakin, jika gadis itu ingin menjenguk Rifal.


''Lea!'' panggil Nando sehingga pergerakan kaki Lea langsung terhenti.


Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Nando tengah berlari kecil kearahnya.


''Kak Nando mau jenguk om Rifal juga?'' tanya Lea.


''Nggak.'' Jawab Nando.


''Terus, kak Nando kesini mau jenguk siapa?''


Nando memutar bola matanya malas. '' tentu saja saya ingin menjenguk Rifal,'' Nando menggelengkan kepalnya.


''Yaudah Ayok barengan!'' Gadis itu langsung menggandeng tangan Rifal untuk segera ke ruangan Rifal, setelah sekian lamanya menunggu akhirnya orang yang mereka tunggu bangun juga.


Lea dan Nando berjalan di koridor rumah sakit, Lea masih setia menggandeng tangan Nando membuat Nando hanya senyum-senyum saja.


''Hmm.''


Suara deheman masuk kw indra telinga Nando dan Lea. Suara yang satu tahun ini menghiasi kehidupan Lea.


Mereka berdua menghentikan langkah kakinya di koridor. Lea yang sudah tau suara itu langsung melapskan tanganya dari Nando.


Dia membalikkan tubunya dan melihat dokter tampan tengah bersedekap dada kearahnya, dengan setelan jas kedokternya.


''Saya duluan, Lea,'' pamit Nando.


Perasaan itu masih ada sampai sekatang untuk Lea.


Lea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat wajah dingin Nathan.


Nathan melirik jam di pergelangan tanganya jam satu siang. Lalu dia kembali melirik Lea.


''Ini masih jam mata kuliah kedua kamu, kenapa kamu ada di sini? Kamu bolos?''


Lea meneguk salivanya susah payah mendapatkan pertanyaan Nathan dengan suara dinginnya.


Dia menyesal memberikan jadwal perkuliahannya kepada Nathan, sehingga pria itu tau.


''Lea,'' panggil Nathan dengan suara rendah namun tersirat sesuatu.


''Maaf,'' ucap Lea menundukkan kepalanya.


Nathan tidak perlu meminta alasan mengapa gadis di depanya ini ada di sini karna dia sudah tau jawabnya.


''Kamu bisa jenguk Rifal kalau palajaran kamu sudah selesai di kampus,'' hembus Nathan.


''Bagaimana bisa kamu lulus cepat jika kamu seperti itu, kamu harus serius menyelesaikan kuliah mu, karna ada aku menunggu di sini.''

__ADS_1


__ADS_2