Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Rumah Sakit


__ADS_3

Drt….


Ponsel milik Valen berdering, dia melihat nama yang terterah di layar ponselnya yaitu nama dokter Kiki, teman barunya di rumah sakit.


Valen langsung menekan tombol hijau.


“Malam dokter Valen,” sapa Kiki di seberang Telfon dengan ramah.


“Malam juga dokter Kiki,” balas Valen tak kalah ramahnya dengan dokter Kiki.


“Tidak lama lagi, Adelia bakalan di bawa keruangan kemoterapi,” lapor Kiki kepada dokter Valen. Bagamapun dia harus mengatakannya pada Valen karna Valen la lebih dulu menangani Adelia.


“Semogah berhasil. Saya minta maaf tidak bisa bergabung untuk pengobatan Adelia,” kata Valen yang merasa bersalah. Seharusnya dia yang melaksanakan tugasnya.


“Tidak apa-apa Dokter Valen. Mohon doanya Semogah berjalan dengan baik,” kata Kiki.


“Itu sudah pasti, saya akan mendoakan Semogah berjalan dengan lancar.”


“Amin.”


“Jangan lupa kabari saya yah, Ki. Kalau kemoterapinya berhasil.”


“Baik dokter Valen.”


Pembicaraan mereka berakhir.


“Siapa yang nelfon kamu?” Tanya Rifal yang berada dalam pelukan Valen.


Mereka berdua sedang istirahat di dalam kamar. Rifal tentunya tidak bisa jauh dari Valen. Dari pagi pria itu selalu saja mepet pada Valen.


“Dokter Kiki,” jawab Valen.


Rifal nampak berpikir, karna dia sepertinya tidak asing dengan nama tersebut. Sedetik kemudian dia mengingat nama dokter Kiki.


“Ngapain dia nelfon kamu?” Tanya Rifal.


“Dia sedang melakukan tindakan kemo bersama dengan dokter Nathan kepada Adel,” kata Valen membuat wajah Rifal tidak enak untuk di pandang.


“Yang tanganin Adelia sekarang dokter Nathan sama dokter Kiki,” kata Valen.


“Baguslah, supaya si Nathan itu tidak mempunyai celah untuk menggoda kamu, sudah tau kamu sudah punya suami masih aja berharap sama kamu!” kesal Rifal.


Valen langsung mencolek perut Rifal, “cemburu yah?” Valen bertanya di sertai dengan tawa kecil.


“Ck, kalau aku nggak cemburu itu artinya aku nggak cinta dan sayang sama kamu!”

__ADS_1


Valen kembali tertawa. Karna sepertinya Rifal saat ini kesal kepadanya.


“Tapi kamu tau nggak, akhir-akhir ini dokter Nathan nggak deketin aku,” kata Valen sembari mengingat jika akhir-akhir dokter yang menyukainya itu tidak sering mendekatinya seperti dulu.


“Kenapa? Kamu kangen yah di dekatin sama dokter Nathan?” Ejek Rifal.


“Sayang, kok kamu tau sih,” kata Valen sembari mencubit kedua pipi Rifal dengan gemas.


Wajah Rifal menjadi merah padam seperti sudah makan cabe satu kilo.


Valen terkekeh melihat wajah Rifal. “Aku cuman bercanda kok, malahan aku bahagia dokter Nathan udah nggak deketin aku lagi. Itu tandanya dia udah bisa mencari perempuan lain,” ucap Valen sembari memeluk Rifal dengan erat.


“Kamu serius kan?” Tanya Rifal memastikan.


“Aku serius, Fal, aku cuman sayang sama kamu,” kata Valen dengan lembut membuat Rifal mengusap rambut Valen dengan penuh kasih sayang.


Malam haripun tiba, dimana malam ini dokter Nathan dan Kiki akan menjalankan pengobatan kemo untuk Adelia.


Bansal milik Adelia sudah di dorong oleh perawat menuju ruangan kemoterapi, di belakangnya sudah ada dokter Kiki dan dokter Nathan yang sudah siap melakukan tindakan kemo terapi.


Air mata Adelia jatuh begitu saja saat sudah memasuki ruangan kemoterapi.


Saya sama sekali tidak ingin melihat gadis itu!


Saya tidak mencintainya lagi, saya sudah mencintai istri saya Valen, jika saya mendekatinya itu semakin membuat dia berharap. Dan itu tidak akan saya biarkan berharap dengan saya lagi


Perkataan Rifal terus saja terngiang-ngiang dalam pikiran Adelia. Dokter Kiki langsung menghapus air mata Adelia.


“Kamu harus rileks, supaya kemo kamu sejalan dengan baik,” kata dokter Kiki namun tidak di gubris oleh Adelia.


Dokter Kiki dan dokter Nathan sudah memulai kemoterapy untuk Adelia, Adelia tidak mendengarkan perkataan Kiki untuk menyuruhnya rileks, karna perempuan terus-terusan menagis dan memikirkan perkataan Rifal dua hari yang lalu.


Kemoterapi biasanya di jalankan beberapa menit sampai berjam-jam lamanya. Tergantung dari penyakit yang di derita oleh pasien.


Penyakit kanker di tambah dengan kondisi Adelia yang lumpur bukanlah penyakit ringan untuk mereka tangani.


Waktu berjalan, detik berganti dengan detik, menit berganti dengan jam, sudah satu jam lamanya Adelia berada di ruangan kemoterapi.


“Akhirnya.”


Nathan dan Kiki mengucapkan kata yang sama hampir bersamaan saat kemoterapi Adelia sudah selesai.


Perawat kembali mendorong bansal milik Adelia untuk menuju ruangan tempatnya di rawat. Selang infus setia menemani Adelia.


Dua perawat bertugas menjaga Adelia. Sementara dokter Nathan dan Kiki sudah keluar dari ruangan Adelia, karna masih ada pasien lain yang ingin di tangani dokter Nathan.

__ADS_1


“Terimaksih atas kerja samanya dokter Kiki,” kata Nathan dengan ramah.


“Sama-sama dokter Nathan,” balas Dokter Kiki di sertai dengan senyuman.


Dokter Kiki kembali keruanganya lalu mengetik pesan untuk di kirimkan kepada dokter Valen.


“Kemoterapi berjalan dengan baik.”


Begitulah isi pesan lalu di kirim dokter Kiki.


Dokte Kiki melepaskan jasnya lalu kemudian mengistirahatkan tubuhnya dari pekerjaan yang melelahkan tapi sangat mulia.


***


Sementara di sisi lain, Agrif masih setia duduk di dekat bansal Daniel menunggu papahnya untuk bangun.


Sudah dua malam dia menunggu, namun papahnya belum juga membuka matanya.


“Agrif, kamu sekarang tidur yah. Udah tengah malam, besok kamu sekolah,” kata Lea mengusap rambut Agrif.


Agrif mendongkakkan kepalanya melihat kearah Lea. Anak itu menggelengkan kepalanya . “Agrif mau di sini, nungguin papah bangun,” kata anak itu.


“Kalau kamu nggak tidur cepat, entar papah kamu marah sama kamu. Kamu mau papah kamu lama bangunya karna kamu nggak tidur cepat?” Kata Lea membuat Agrif menggelengkan kepalanya.


“Maka dari itu, kamu harus tidur cepat. Untuk ke sekolah besok,” kata Lea.


“Tap-“


“Katanya mau papahnya cepat bangun,” kata Lea membuat Agrif langsung turun dari kursi.


“Siapa yang jagain papah kalau Agrif tidur kakak cantik?” Tanya Agrif.


“Kamu tenang aja, ada kakak cantik yang jaga papah kamu,” kata Lea dengan tulus.


Agrif langsung memeluk Lea. “Makasih kakak cantik,” kata Agrif dalam pelukan Lea.


“Sama-sama sayang.”


Lepas itu, Agrif baring di atas sofa sembari memejamkan matanya untuk segera tidur. Lea menemani Agrif sembari mengusap rambut anak itu penuh kasih sayang agar dia cepat sembuh.


Beberapa menit kemudian, Agrif sudah tidur dengan lelap, Lea memakaikan Agrif selimut.


Cup


Satu ciuman mendarat di kening milik Agrif.

__ADS_1


“Lea memang nggak bisa jadi mamah sambung kamu, tapi kakak udah anggap kamu seperti adik Lea sendiri. Lea udah sayang sama kamu seperti adik kandung Lea sendiri,” menolog Lea lalu meninggalkan sofa untuk mendekati bansal milik Daniel.


Lea mengecek kondisi Daniel, Lea menghembuskan nafasnya berat, meski dia bukan dokter namun dia mengetahui jika kondisi Daniel jauh dari kata baik-baik.


__ADS_2