Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Agrif yang malang


__ADS_3

Pagi ini Lea pulang kerumah Novi. Baru saja dia membaringkan tubuhnya, ponsel bergambar apel miliknya bergetar.


“Agrif tidak ke sekolah lagi.”


Lea membaca pesan yang di kirim oleh Bi Minah. Padahal dia baru sampai di rumah karna semalam dia tinggal di kampus bersama temanya untuk pembelajaran lab skil sebelum terjun praktek di rumah sakit.


Lea melirik jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul enam pagi. Jika dia kerumah Daniel pagi ini, apakah dia masih sampai membawa Agrif ke sekolahnya.


Gadis itu tidak mandi, dia langsung beranjak dari tempat tidurnya. Padahal dia baru melepas lelah. Sekarang dua akan pergi lagi.


Sunggu banyak sekali jadwalnya.


“Mau kemana lagi, Lea?” tanya Novi yang sedang sarapan di meja makan bersama kedua anaknya yaitu Raka dan Riki.


“Perasaan belum ada lima menit kamu di sini, udah mau pergi lagi.” Novi menggelengkan kepalanya melihat Lea yang sangat tercep.


“Mamah, kan, udah tau nggak cukup seminggu lagi Lea bakalan praktek di rumah sakit terbesar di kota ini. Jadi….Lea sangat sibuk untuk menyiapkan skil yang baik!”


Gadis itu mengambil tangan Novi lalu salim untuk segera pergi.


“Lea pergi dulu!” Gadis itu melambaikan tanganya kepada kedua adiknya dan juga Novi.


Novi bisa melihat, di wajah periang anak gadisnya itu sangat lelah. Apakah tugas kuliah semenyeramkan itu?


Sekitar lima menit menunggu taxi, akhirnya taxi muncul juga membuat Lea Bersykur untuk tidak menunggu lama.


Taxi singgah di depan Lea. Gadis itu langsung masuk dan menyuruh supir taxi untuk jalan dengan cepat.


Kurang lebih sepuluh menit, Lea telah sampai di depan pintu gerbang rumah Nathan. Gadis itu turun lalu membayar supir taxi.


Dia langsung masuk kedalam karna kebetulan pintu gerbang tidak di tutup oleh satpam.


Pintu utama juga tidak di tutup, sehingga Lea langsung masuk ke dalam.


Lea langsung tercengang melihat kondisi rumah Daniel yang jauh dari kata rapih. Lea menelusuri setiap sudut rumah ini menggunakan matanya.


Berantakan!!!


Rumah Daniel yang selalu rapih, hari ini sangat berantakan.


“Bi, Minah!” panggil Lea seraya melihat rumah mewah ini tidak baik-baik saja.


Lea berjalan dengan hati-hati, vas bunga yang selalu tersusun rapih sudah menjadi pecah beling dibawah lantai.

__ADS_1


Kursi sofa yang jauh dari kata rapih, taplak meja jatuh ke bawa lantai. Lukisan-lukisan yang di pajang di dinding berjatuhan di bawa lantai.


Siapa yang melakukan ini semua?


Tidak ada sahutan dari Bi Minah, membuat Lea melangkahkan kakinya naik ke atas lantai dua.


Deg


Saat menaiki anak tangga kedua, Lea melihat darah segar. Siapa yang terluka?


Dengan cepat-cepat Rara berjalan menuju kamar Agrif. Takut-takut anak sekecil itu melukai dirinya sendiri.


Ceklek


Dengan nafas tersengal-senggak, Lea membuka pintu kamar Agrif. Matanya langsung tertuju pada sosok anak kecik yang duduk diatas tempat tidurnya.


Dia menatap kosong kedepan, seperti anak kecil yang hilang arah, dan menemukan jalan buntu.


“Agrif.” Dengan khawatir Lea langsung memanggil Agrif.


Anak itu langsung melirik Lea dengan tatapan datar. Tidak ada senyumana di wajah anak itu. Tidak ada keceriaan di mana saat dia melihat Lea.


Lea bisa melihat, dimata anak itu hanya tatapan kosong saja. Siapapun yang melihat Agrif saat ini akan takut sekaligus kasihan kepada anak itu.


Deg


Otak Lea menjadi dejavu saat melihat pistol di atas tempat tidur Agrif. Lea menatap Agrif yang masih menatap kosong kedepan.


“A-grif.” Mulutnya seperti ingin tercekat melihat pistol diatas tempat tidur Agrif.


Pikiran Lea langsung terbayang pada darah di tangga tadi.


Ting


Pesan masuk di ponsel Lea, membuat Lea terbuyar dari lamunanya.


“Lea, saya sama yang lain bawa pak satpam ke rumah sakit. Untuk membalut tanganya yang tersambar peluru pistol. Kamu hati-hati di situ. Agrif sangat menakutkan dia menghancurkan ruang tamu.”


Lea membaca pesan dari bi Minah menbuatnya semakin panik.


Lea berjalan cepat mengambil pistol tersebut diatas tempat tidur. Agrif sempat melirik Lea lalu kembali menatap kedepan dengan tatapan kosong.


Lea membawa pistol itu keluar untuk dia simpan di tempat yang tidak bisa di jangkau oleh Agrif.

__ADS_1


“Agrif,” panggil Lea setelah dia berhasil menyimpan pistol itu dari jangkauan Agrif.


Lea bisa menebak, jika pistol tersebut merupakan pistol milik Daniel. Yah, sebagai pebisnis dan tangan kanan Frezan, tentunya pria itu membawa benda seperti pistol untuk keamanan.


“Kamu kenapa ambil benda bahaya itu, Agrif? Itu sangat bahaya kalau sampai kena orang.” Lea masih berbicara lembut. Karna dia berpikir , jika Agrif tidak tau apa mengenai benda bahaya itu.


Hening


Anak itu tidak membalas perkataan Lea membuat Lea menghembuskan nafas berat. Usinya sangat mudah, tapi pikiranya sudah berkelana kemana-mana.


Dia kesini agar Agrif ke sekolah. Tapi melihat kondisi anak itu berantakan membuat Lea mengurungkan niatnya.


“Agrif,” panggil Lea lagi karna anak itu karna dia hanya diam saja. Seakan-akan dia tidak ada di sini.


“Apa kamu marah sama, kakak?” tanya Lea.


Agrif masih diam, belum mengeluarkan sepatah katapun.


“Jangan ambil benda bahaya lagi, yah. Kalau sampai benda itu kena kamu sama orang lain, akan bahaya,” nasehat Lea lagi.


Ting…


Pesan masuk di ponsel Lea.


“Lea, buruan ke kampus. Ada lab skil mendadak dari dosen.”


Lea membaca pesan dari salah satu temanya, membuatnya menyimpan ponselnya. Apa dia langsung terus ke kampus, padahal dia belum mandi?


Lea juga tidak tega meninggalkan Agrif seorang diri, apa lagi kondisi Agrif saat ini jauh dari kata baik-baik saja.


Samar-samar Lea mendengar suara di bawa sana. Sepertinya pembantu rumah ini sudah kembali dan mulai membersihkan ruang tamu di bawah, yang berantakannya luar biasa.


“Agrif. Kakak ke kampus dulu, yah, ada kuliah mendadak.” Sebenarnya Lea tidak tega meninggalkan Agrif.


Tapi ini juga penting. Setidaknya sudah ada pembantu di sini yang akan menjaga Agrif.


Tidak ada jawaban dari Agrif.


Lea mengusap rambut Agrif lalu mencium rambut Agrif begitu lama. “Kalau kuliah kakak udah nggak padat, kakak akan segera kesini.”


Lea berdiri lalu berjalan menuju pintu untuk segara keluar. Sebelum menutup pintu, Lea melihat Agrif dari ambang pintu karna anak itu belum juga mengalihkan pandangnya dari depan.


Lea mulai menutup pintu kamar Agrif. Bersamaan itu pula air mata Agrif turun begitu saja tanpa bisa dia hentikan. Namun tatapannya masih lurus ke depan.

__ADS_1


Siapapun yang melihat matanya dan mempertahankan kontak mata dengan Agrif. Yakin saja, dia akan tau jika anak itu mempunyai banyak pikiran, terutama kepada papahnya, Daniel.


__ADS_2