Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Lea dan Nathan


__ADS_3

Ahk…


Rasanya Lea ingin terbang melayang dengan ucapan Nathan barusan, jika dia berada di sini menunggu dirinya sampai lulus kuliah.


Sudah satu tahun berlalu, mereka tidak menjalin hubungan namanya pacaran tapi mereka berdua berkomitmen untuk saling menunggu satu sama lain.


''Ingat Lea, umur aku udah nggak muda lagi. Jadi kamu harus paham hal itu, jangan main-main kuliahnya,'' lanjut Nathan lagi.


Mereka berdua adu pandang di koridor rumah sakit, meski sudah satu tahun dekat tetap saja Lea menjadi salah tingkah jika sudah berurusan dengan dokter Nathan.


''Lea paham, kok,'' jawab gadis itu membuat Nathan mengangguk kecil.


''Lea bakalan selesaikan kuliah Lea tepat waktu,'' lanjut Lea dengan yakin.


''Jangan sampai ada mata kuliah yang kamu ulangi,'' ujar Nathan lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


''Yasudah, kamu lanjut jalan lagi,'' Nathan mempersilahkan Lea.


''Dokter Nathan nggak ikut?'' tanya Lea.


''Nggak, aku sudah balik dari melihat kondisi Rifal,'' balas Nathan.


''Kalau gitu Lea pamit,'' pamitnya pada Nathan.


Lea kembali melanjutkan langkah kakinya, namun baru ada beberapa langkah dia melangkah meninggalkan Nathan suara pria dibelakangnya menghentikan langkah kakinya.


''Jaga sikap kamu di dekat Nando, jangan berlebihan Lea.''


Lea menarik nafasnya dalam lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Nathan.


Gadis itu melemparkan senyuman kepada Nathan. ''Iya dok.''


Lea kembali melanjutkan langkah kakinya, apa dia harus menjauhi Nando? Tapi...Ahk, tidak semudah itu.


Dia sudah menganggap Nando seperti kakanya sendiri, dia sudah menganggap Nando seperti keluarganya sendiri sama seperti dia menganggap Rifal dan Valen.


Lea berjalan seraya menatap cincin di jari manisnya, cincin yang di berikan oleh Nando satu tahun yang lalu. Diatas roftop rumah sakit ini pula pria itu melamarnya namun Lea menolak dengan alasan ingin fokus kuliah.


Lea tidak tau saja, apa yang di rasakan Nando saat mengetahui jika dirinya berkomitmen dengan Nathan hingga dia lulus kuliah.


Saat Nando mengetahui hal itu, dia berusaha mengubur perasaanya satu tahun yang lalu itu, namun semuanya gagal.


Hingga saat ini dia belum bisa melupakan Lea, karna sosok periang itu selalu masuk kedalam pikirnya.


''Kak Nando, maafin Lea,'' gumam Lea mencium cincin pemberian Nando satu tahun yang lalu.


Lea sudah sampai didepan pintu ruangan Rifal, sebelum dia membuka knop pintu, ponsel lebih dulu bunyi menandakan adanya pesan masuk.


''Habis jenguk Rifal, kamu ke roftop rumah sakit. Aku menunggu kamu di sana, satu jam dari sekarang.''


Lea membaca pesan yang di kirim oleh Nathan. untuk apa Nathan mengajaknya bertemu diatas roftop rumah sakit.

__ADS_1


''Iya.''


Lea membalas pesan Nathan lalu membuka knop pintu ruangan Rifal.


Ceklek.


Rina dan Aska langsung melihat kearah pintu, rupanya yang datang adalah Lea.


Lea menyalami tangan Rina dan juga Aska.


''Om Rifal istirahat, ya?'' menolog gadis itu melihat kearah bansal, Rifal tengah memejamkan matanya.


''Iya, nak,'' jawab Rina.


Rina mengajak Lea duduk di sampingnya, Lea langsung duduk di dekat Rina seraya melihat sekelilingnya.


Kemana Nando? Perasaan pria itu lebih dulu kesini di banding dirinya.


''Kamu cari Nando?'' tanya Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


''Iya, Tan,'' jawab Lea.


''Nando sedang ke apotek ambil obat Rifal,'' jawab Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


''Itu Nando,'' tunjuk Rina kepada sosok pria masuk membawa obat Rifal.


''Kenapa?'' tanya Nando meletakkan obat Rifal diatas nakas.


Nando dan Lea saling bertatapan. ''Mau ngomong sesuatu?'' tanya Nando menaikkan alisnya sebelah membuat pria itu semakin tampan.


''Kita diluar,'' Nando menggandeng tangan Lea membuat Lea meneguk salivanya susah payah.


Bagaiamana jika Nathan kembali melihat dirinya?


Mereka berdua sudah keluar dari ruangan Rifal, Nando dan Lea duduk di samping pintu ruangan Rifal.


''Mau ngomong apa?'' tanya Nando melihat kedepan.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Lea tak kunjung menjawab pertanyaan dari Nando membuat pria itu melirik Lea yang hanya tertunduk saja.


''Lea,'' panggil Nando sehingga Lea mengangkat kepalanya lalu melirik Nando.


Mereka berdua beradu tatapan, lagi dan lagi Nando jatuh pada tatapan polos dari Lea membuatnya semakin jatuh cinta kepada gadis itu, sekaligus harus mengikhlaskannya.


''Mau ngomong apa?'' Nando kembali melemparkan pertanyaan yang sama kepada Lea.

__ADS_1


Lea menarik nafasnya dalam, ''Lea sayang kak Nando.''


Deg


Perkataan sayang yang keluar dari mulut Lea pertama kalinya membuatnya terdiam. Apa maksud Lea mengatakan hal sepeti itu.


Apa Lea…


Beberapa detik Lea kembali angkat suara membuat Nando terenyah.


''Lea sayang kak Nando seperti kakak Lea sendiri. Lea udah anggap Kak Nando seperti kelurga Lea, sama seperti om Rifal dan dokter Valen,'' lanjut Lea membuat Nando tersenyum miris.


Dia pikir...ahk sudahlah, dia yang terlalu berharap.


Nando tersenyum kearah Lea, berusaha baik-baik saja dengan apa yang dikatakan oleh Lea barusan.


Nando mengangguk paham. ''Saya sudah menganggap kamu seperti adik saya juga, Lea,'' ucap Nando seraya mengacak rambut Lea.


Bohong jika dia tidak berharap lebih dari Lea. Namun perkataan Lea barusan harus membuatnya mengikhlaskan gadis unik itu.


''Jangan pernah lepas cincin pemberian saya, ya,'' pinta Nando dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


Hening


Mereka tidak ada yang angkat bicara lagi, mereka berdua sama-sama menatap kedepan.


Hingga suara Lea membuat Nando kembali melirik Lea.


''Kak Nando,'' panggil Lea.


Mereka berdua kembalu beradu pandang.


''Kenapa?'' tanya Nando.


''Lea boleh nggak peluk kak Nando?'' pintah gadis itu dengan suara lirih.


Nando tertawa kecil, namun kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan Lea barusan.


Lea langsung memeluk Nando dalam keadaan mereka berdua duduk di kursi.


''Jangan pernah berubah, tetap jadi kak Nando yang Lea kenal,'' ucap Lea dengan lirih seperti gadis yang ingin menangis saja.


Nando mengangguk paham, masih berpelukan dengan Lea. ''Saya nggak akan berubah jadi batman atau bahkan berubah jadi pria yang kamu suka,'' canda Nando tersirat sesuatu di akhir ucapnya.


Sementara Lea yang otaknya tidak smpai hanya mengangguk saja, tidak mengerti apa yang barusan Nando katakan.


Nando mengusap rambut Lea. ''Kamu harus selesaikan kuliah kamu dengan cepat, kasihan dokter Nathan menunggu mu. Dia sudah tidak muda lagi harus menunggu lama,'' canda Nando masih berpelukan dengan Lea.


Lea mengerucutkan bibirnya. ''Biarpun usia Dokter Nathan udah nggak muda, tapi muka masih melihat mudah kok,'' terang Lea.


''Masa iya kamu mau nikah kalau dia udah punya rambut putih?'' tawa Nando membuat Lea kesal namun dia tidak melapskan pelukanya dari Nando.

__ADS_1


Tapi Lea ketahui, Nathan sedang menatapnya menghembuskan nafas berat.


__ADS_2