
Lea berjalan dengan cepat menuju roftop rumah sakit, sudah satu jam berlalu jadi dia menuju roftop untuk menemui dokter Nathan.
‘’Dokter Nathan!'' panggil Lea melihat punggung kokoh dokter Nathan sudah di sini.
Nathan membalikkan tubuhnya dan sudah melihat Lea berjalan kearahnya.
''Lea telat, ya?'' tanyanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Nathan melirik jam mahal di pergelangan tanganya. ''Tujuh menit,'' jawab Nathan dengan santai.
Tempat ini sepertinya tempat kesukaan Nathan semenjak mengenal Lea.
Di rumah sakit tempat Nathan bekerja sudah banyak yang mengetahui kedekatan Lea dan juga dokter Nathan.
Mereka tentunya tidak percaya, karna Lea hanya mahasiwa praktek di sini dan berhasil mencuri hati dokter Nathan.
Posisi mereka berdua sedang berhadapan. Lea tentunya menjadi gugup di tatapa begitu lekat oleh Nathan.
''Habis ngapain sama Nando?'' tanya Nathan meski dia sudah tau dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Lea terdiam....
''Emm...Lea cuman peluk kak Nando. Lea udah anggap kak Nando seperti kakak Lea sendiri,'' cicit Lea.
__ADS_1
''Sudah kubilang, kan, jangan terlalu dekat dengan Nando,'' hembus Nathan membuat Lea tertunduk.
Dia tau kesalahannya apa, pelukan tadi bukan menandakan jika dirinya menyukai sosok Nando.
Pelukan tadi bentuk dimana Lea menyayangi Nando seperti kakaknya sendiri, tidak lebih.
''Lea dekat sama siapa pun pemenangnya tetap dokter Nathan,'' jujur gadis itu membuat Nathan berusaha menahan senyumnya.
Karna dia sedikit marah kepada Lea, bagaiamana tidak jika melihat Lea dan Nando berpelukan, sementara dia tau jika Nando menyukai Lea.
Nathan yakin, jika percintaannya ke empat ini akan jatuh kepadanya, tidak seperti yang lalu-lalu.
''Aku cemburu melihat kamu berpelukan dengan Nando,'' hembus Nathan membuat Lea tersenyum kearah pria tampan di hadapnya.
''Dokter Nathan jangan salah paham,'' ucap Lea lagi.
''Lea nggak pelukan mesrah kok,'' bantah gadis itu.
''Terserah kamu saja,'' oceh Nathan.
''Dokter Nathan ngambek?''
''Menurut kamu?'' tanya balik Nathan.
__ADS_1
''Nggak pantas aja,'' ucap gadis itu membuat rahang tegas Nathan melorot.
''Karna dokter Nathan udah dewasa, bukan remaja kayak Lea lagi,'' ucap Lea membuat Nathan memutar bola matanya malas.
''Kamu sudah 20 tahun Lea, itu sudah dewasa juga,'' kesal Nathan jika berhadapan dengan Lea seperti ini.
''Tapi, kan, Lea lebih muda.''
''Jadi kamu anggap aku udah tua? Gitu?'' beber Nathan.
''Nggak kok, Lea, kan, cuman bilang kalau Dokter Nathan udah dewasa bukan tua.''
‘’Terserah kamu saja,'' putus Nathan seraya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
''Untuk kamu,'' ucap Nathan seraya membuka kotak merah yang dia keluarkan dari sakunya.
Lea tentu saja terdiam melihat sesuatu di kotak merah itu. Kalian salah jika kalian mengatakan jika isi kotak merah itu adalah cincin.
''Untuk Lea?'' tanya gadis memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Nathan berjalan di belakang Lea, lalu memakaikan gadis itu kalung berlian yang sudah dua hari yang lalu dia beli untuk Lea.
Angin diatas roftop menerbangkan rambut Lea sementara Nathan memasangkan kalung berlian untuk dirinya.
__ADS_1
Lea melihat permata kalung itu berbentuk hati, mengapa dia selalu mendapatkan hadiah mahal diluar nalar?
''Kamu suka?'' tanya Nathan tepat di telinga Lea dengan posisinya masih berada di belakang Lea.