
"Tuhan nggak bakalan titipin janin dalam perut kamu, kalau kamu nggak mampu," ucap Rara masih setia menggengam tangan Valen," tuhan nggak bakalan kasi ujian sama hambanya diluar batas kemampuannya," sambungnya sembari tersenyum.
"Kamu harus kuat."
Valen langsung memeluk Rara dengan deraain air mata, setidaknya dia merasa tenang dengan kehadiran Rara saat ini, memberikannya kata semangat.
"Jaga kesehatan kamu, Va. Jangan sampai anak kamu kenapa-napa karna kamu banyak mikirin hal lain," kata Rara masih setia memeluk Valen.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Valen mengangguk mengiyakan ucapan Rara dengan air matanya yang masih setia mengalir dikedua pipinya.
Valen melepaskan pelukannya dari Rara sembari menghapus air matanya, dia yakin matanya saat ini sudah bengkak serta rambutnya yang lepek.
"Jangan bilang sama Rifal, yah Ra," kata Valen dengan memohon dengan suara seraknya.
"Apa yang nggak gue tau."
Deg
Suara yang selalu menemani hari-hari Valen terdengar di ruangan tempat Valen berbaring.
Mereka berdua langsung melihat Rifal berada diambang pintu dengan setelah jas yang masih melekat ditubuhnya.
Rara langsung berdiri melihat Rifal berjalan kearahnya, lebih tepatnya kearah Valen yang ditangannya masih ada selang infus.
"Gue udah tau."
Lagi dan lagi jantung Valen berdetak kencang. Apa yang Rifal ketahui? Apa Rifal tau jika dirinya hamil? Apakah Valen harus bersyukur karna Rifal mengetahui dirinya hamil? Tanpa harus dirinya memberitahukan?
Rara langsung meremas ujung celananya, dia juga berfkir sama dengan Valen. Siapa yang memberitahukan Rifal jika Valen hamil? Apa Nathan?
Rifal semakin mendekati Valen," gue udah tau, kalau Adelia sadar."
Deg
Perkataan Rifal yang pelan namun masih bisa didengarkan oleh Rara dan juga Valen. Rifal mengundurkan langkahnya menjauhi Valen.
"Lo nggak bisa sembunyiin kesadaran Adelia," kata Rifal menekan setiap perkataannya kepada Valen.
"Bukan itu yang mau gue sembunyiin!" bantah Valen membuat Rifal menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Ck!" Rifal langsung berdecih kepada Valen.
"Gue bukan bodoh, gue bisa tangkap apa yang barusan lo omongin dengan Rara," sarkas Rifal kepada Valen.
Valen langsung menggelengkan kepalanya karna perkataan Rifal, tak lupa pula di iringi dengan air matanya yang membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Baru saja dia merasakan ketenangan karna adanya Rara. Sekarang, ketenangan itu hilang karena kedatangan Rifal yang menuduhnya seperti ini.
Padahal bukan kesadaran Adelia yang ingin dia sembunyikan, tapi sepertinya Rifal salah mengartikan semuanya.
"Kenapa lo mau sembunyiin kesadaran Adelia?!" tuntut Rifal dengan tidak sabaranya kepada Valen.
Rara memejamkan matanya.
"Kak Rifal, Valen bukan mau nyembunyiin kesadaran Adelia. Tap-"
"Ra!" potong Valen sehingga perkataan Rara tercekat di tenggorokannya.
Valen dan Rara saling bertatapan, seakan-akan mereka berkomunikasi melalui mata mereka.
Valen menggelengkan kepalanya kearah Rara dengan air matanya, memberikan kode kepada Rara agar tidak melanjutkan perkataannya.
Rara menarik nafasnya panjang, dia tidak punya hak untuk ini. Tapi, dia juga kasihan kepada Valen sahabatnya dituduh yang tidak pasti.
Valen menghapus air matanya, dia tidak boleh lemah di depan Rifal, biarkan saja Rifal tidak mengetahui jika dia sedang hamil.
Valen dan Rifal saling bertatapan, Rifal menatap Valen dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa?" tanya Rifal lebih tepatnya sebuah pernyataan untuk Valen.
Valen menghapus air matanya dengan kasar.
"Sejujurnya gue kesini buat jenguk, lo." Rifal menggantung ucapanya.
"Tapi yang gue dapat kebusukan lo!" sambungnya lalu pergi meninggalkan ruangan Valen.
Valen memejamkan matanya membiarkan air matanya turun begitu saja membasahi kedua pipinya. Dia yakin keadaannya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
"Kak, Rifal!" panggil Rara kepada Rifal yang telah pergi dari ambang pintu.
Rifal berjalan di koridor rumah sakit, sejujurnya dia datang hanya untuk menjenguk Valen. Dan, diapun sudah tau jika Adelia sadar dari Nathan.
Rifal sempat terkejut saat diberitahukan jika gadis yang selama ini dia tunggu telah sadar setelah dia sudah ikhlas untuk kepergian gadis itu. Namun, takdir berkata lain sosok Adelia sadar setelah Rifal ingin mengikhlaskan gadis itu.
Rifal belum menjenguk Adelia, karna orang yang pertama yang ingin dia jenguk adalah Valen setelah mendapatkan kabar dari rekan dokter Valen, jika Valen dirawat di rumah sakit.
Namun, karna kesalah pahaman Rifal telah mencap Valen ingin menyembunyikan kesadaran Adelia. Padahal, bukan itu yang ingin disembunyikan oleh Valen.
Rifal langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiraan rumah sakit. Dia ingin menjenguk Adelia setelah dia menjenguk Valen. Namun, karna perkataan Valen tadi membuat mood Rifal berantakan. Tidak mungkinkan jika dia menjenguk Adelia dengan wajah yang datar? Sementara, dia ingin melihat gadis itu dengan wajah seperti saat dia menembak gadis itu.
Rara langsung menghampiri Valen, dan memeluk kembali gadis itu. Rara tidak bisa menahan air matanya dia juga turut bersedih dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya saat ini.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rara masih berpelukan dengan Valen.
"Kenapa kamu mau nyembunyiin kehamilan kamu sama kak Rifal, Va?" tanya Rara membuat Valen masih tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
Saat kedatangan Rifal, Valen kira Rifal sudah tau jika dia hamil jadi dia tidak perlu menyembunyikannya karna Rifal sudah tau.
Tapi, ternyata fikiran Valen salah. Valen yakin, Rifal akan membencinya karna kesalah pahaman ini.
Drt....Drt....Drt....
Diselah-selah mereka berpelukan, handpone milik Rara berbunyi. Rara langsung melihat nama yang terterah di handponenya tertuliskan nama Kayla.
Yah, orang yang menelfon Rara saat ini adalah sosok Kayla yang telah tinggal diluar negeri bersama dengan sang suami, yaitu Elgara.
"Kayla."
Valen langsung mendonggakkan kepalanya, bagaimana tidak jika Rara menyebutkan nama Kayla yang sangat jarang berkomunikasi dengan mereka karena kesibukan sosok Kayla.
Rara dan Valen bertatapan, dengan air mata masih basah dikedua pipinya.
"Kayla nelfon?" tanya Valen dengan suara seraknya dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Rara langsung mengangguk mengiyakan ucapan Valen.
"Yah," lesuh Rara. Bagaimana tidak, jika saat dia ingin menekan tombol hijau panggilan telah berakhir karna saking lamanya dia tidak mengangkat telfon dari Kayla, yang sangat jarang berkomunikasi dengan mereka.
"Kenapa?" tanya Valen memperbaiki posisinya.
"Udah mati," jawab Rara lesuh.
Ting
Rara langsung melihat handponenya mengecek pesan yang baru saja masuk.
Mata Rara membulat, saat membaca pesan dari Kayla.
"Kayla," gumam Rara membuat Valen penasaran.
"Kayla kenapa?" tanya Valen penasaran kepada Rara.
Rara langsung melihat Valen yang sedang menunggu jawaban dari dia.
"Minggu depan, Kayla datang ke Indonesia," pekik Rara dengan bahagia membuat Valen langsung menutup mulutnya saking bahagianya mendengar kabar ini, karna mereka sudah lama tidak berjumpa
dalam satu hari ini, ada kabar baik dan kabar buruk.
__ADS_1