Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ada apa?


__ADS_3

Pukul lima sore


Masakan buatan Lea dan Novi sudah kelar. Dia sudah menyusun makanan sederhananya diatas meja. Makan malam mereka sudah siap. Mama Lea memang suka memasak awal.


Lea kembali ke kamar. Sementara Novi masih di dapur mencuci peralatan. Lea ingin membantu tadi, tapi Novi menolak.


Lea membaringkan kembali tubuhnya, dia mendengar kembali ponselnya berdering. Dari dalam dapur tadi, Lea mendengar ponselnya terus-terusan berbunyi tanpa jedah.


Lea mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfon. Ternyata yang menelfon dirinya adalah Nando.


Ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Nando. Saat Lea ingin mematikan ponselnya tiba-tiba pesan whathsap dari Nando membuat jantungnya berdetak kencang.


Pesan dari Nando sukses membuat jantung Lea seakan-akan berhenti berdetak. Tanganya yang memegang ponsel bergetar sehingga ponselnya jatuh begitu saja.


''Hiks!''


Lea langsung mengambil boneka dan memeluknya dengan erat. Menumpahkan tangisnya didalam dekapan boneka yang dia peluk.


Hiks....Hiks....hiks...


Suara isak tangis Lea sampai keluar kamar, membuat Novi dari dalam dapur langsung berlari cepat meninggalkan pekerjaannya.


Kedua adik Lea juga langsung meninggalkan kamar mereka, mereka berlari menuju keasal suara.


''Lea!''


panggil Novi dengan tidak sabaran, bagaiamana tidak suara tangis piluh Lea membuatnya menjadi khawatir.


Ada apa dengan gadis itu?


Sementara Raka dan Riki berada di belakang Novi. Menunggu Lea membuka pintu kamar. Tangis Lea seperti tertahan dari dalam membuat Novi semakin mengetuk pintu kamar Lea dengan keras.


''Lea, kamu kenapa?'' Panggil Novi dengan khawatir.


''Kalau ada masalah cerita!''


Hiks….Hiks...hiks


Air matanya semakin jatuh, rasa sesak menyerang tubuhnya. Dia seperti ingin meremas seluruh benda yang ada di sekitarnya.


''Jangan tinggalin, Lea!''


Tangisa Lea pecah dari dalam kamar, menbuat Novi dibuat semakin khawatir oleh Lea.


''Siapa yang meninggalkan mu, Lea. Siapa?''


Hiks…Hiks…Hiks


''Mungkin saja kak Lea nggak mau di ganggu,'' ujar Riki lalu pergi dari hadapan pintu kamar kakaknya itu.


''Kak Lea!'' panggil Raka dengan suara keras.

__ADS_1


''Siapa yang menyakiti kakak?'' Tanya Raka membuat Novi mengacak rambut anak itu.


''Aku dan Riki akan siap melindungi kakak, jika ada yang menyakiti kak Lea!''


Ada apa dengan lea? Ini pertama kalinya Novi mendengar secara terang-terangan isakan piluh tangis Lea.


''Mamah!''


panggil Lea dari Dalam kamar membuat Novi langsung bersuara, ''kamu kenapa nak? Jangan buat mamah khawatir?'' sahut Novi dari luar dengan suara bergetar.


''Buka pintunya, nak!'' lanjut Novi seraya mengetuk pintu kamar Lea.


Ceklek


Lea langsung membuka pintu kamar dengan mata sembab, rambutnya yang acak-acakan. Serta tubuhnya yang ling-lung.


''Kamu kenapa, Hah?'' marah Novi bercampur rasa khawatir melihat kondisi Lea yang tidak baik-baik saja.


Novi langsung memeluk Lea, begitupun dengan Raka. Riki yang keluar dari dalam dapur langsung menyusul mereka bertiga dan saling berpelukan.


''Kamu kenapa?'' Tanya Novi dengan menitihkan air mata.


Dia melihat anak gadisnya yang berantakan sekali. Rambutnya acak-acakan. Air mata terus mengalir dari pelupuk matanya yang selalu memancarkan ceriah itu.


Pandanganya menatap kosong kedepan. Tubunya linglung membuat Novi memeluk erat anaknya itu.


Dia membawa Lea masuk kedalam kamarnya kembali, di susul oleh kedua anaknya.


Lea melirik mamahnya, lalu memeluknya dengan erat. Dia kembali menangis membuat Novi semakin mengeratkan pelukanya.


***


Frezan pulang pukul tujuh malam. Pria bertubuh tegak itu langsung di sambut oleh Rara di depan pintu dengan senyuman yang mampu membuat lelah menjadi hilang.


Rara mencium punggung tangan suaminya, lalu mengambil tas Frezan untuk dia bawa keatas kamar.


Rutinitas seperti ini, hampir setiap hari Rara lakukan selama dia menikah.


''Anak-anak mana?'' Tanya Frezan mengunci pintu kamar.


''Ada di kamar kok,'' jawab Lea seraya menghampiri Frezan.


Rara mulai melepaskan dasi yang di kenakan suaminya, membantu Frezan membuka jas kantornya.


''Mereka udah makan?'' Tanya Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


''Kalau kamu?'' Tanya Frezan lagi.


''Belum. Aku nunggu kamu,'' jawab Rara seraya menyimpan jas kantor Frezan di keranjang.


''Kalau udah waktunya makan malam, kamu makan, jangan tunggu aku,'' usul Frezan. ''Kamu mau kamu kelaparan karna nungguin aku pulang kantor?'' Tutur Frezan lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.

__ADS_1


Rara menyusul Frezan membaringkan tubunya diatas tempat tidur mereka. Mereka dua baring saling berdekatan seraya menatap langit-langit kamar.


''Karna Rara belum lapar, jadi Rara nggak makan.''


Rara menjawab membuat Frezan menarik sudut bibirnya tersantun. ''Jadi lebih baik nungguin kamu pulang, siapa tau rasa lapar itu langsung ada.''


''Hmm,'' Frezan berdeham namun tidak bisa menyembunyikan kebahagianya, makan saja istri kecilnya itu sampai menunggunya pulang.


‘’Kalau lapar, langsung makan. Jangan nunggu aku sampai pulang kantor,'' saran Frezan seraya melirik Rara.


Mereka berdua saling bertatapan diatas tempat tidur kesayanganya. ''Iya,'' jawab Rara disertai dengan senyuman.


Sedari tadi Rara berpikir keras. Bagaiamna cara menyampaikan niatnya ini kepada Frezan.


''Ada yang ingin kamu bilang?'' Tanya Frezan yang melihat gelagat aneh dari Rara.


Sebagai seorang suami, dia bisa mengetahui gerak-gerik pasanganya. Dia yakin, Rara ingin mengatakan sesuatu hanya saja dia belum tau harus memulai dari mana.


Rara mengangguk mengiyakan perkataan Frezan.


‘’Kamu bilang aja.'' Frezan berkata seraya memepetkan tubunya kearah Rara. Sehingga mereka berdua saling pandang dengan jarak yang sangat dekat.


Frezan memeluk Rara membuat jantung Rara berdetak kencang saat ini.


''Bilang,'' ujar Frezan karna Rara belum juga mengucapkan sepatah katapun.


‘’Tapi janji, kamu nggak bakalan marah.'' Rara mengulurkan jari kelingkingnya kepada suaminya itu.


Frezan tersenyum melihat jari kelingking mungil Rara. Lalu jari kelingking yang besar itu menyambut kelingking Rara.


''Aku janji,'' ucap Frezan menautkan jari kelingkingnya kepada Rara.


Mereka berdua kembali beradu mata, dimana mata tajam Frezan hilang begitu saja jika sudah berhadapan dengan Rara.


''Kayla hamil,'' cicit Rara menggigiti jari telunjuknya sendiri.


''Kamu nyuruh aku tanggung jawab?'' Canda Frezan membuat Rara mengembuskan nafas berat.


''Kamu nggak kasihan lihat Kayla hamil tanpa seorang suami.'' Rara menjelaskan panjang kali lebar, kepada suaminya.


Mulai dari kejadian dimana Dyta menangis hingga suara tangisnya terdengar begitu piluh dan mengatakan Jika selama ini Kayla menyembunyikan kehamilanya.


'' jadi gimana?''


Frezan memegang tangan istrinya itu seraya tersenyum manis. ''Kasi aku waktu yah sayang. Ini bukan hal kecil yang harus tiba-tiba aku putusin.''


''Tap-''


Belum sempat Rara menyelesaikan perkataanya. Frezan sudah lebih dulu bangun dari tempat tidur dan mengajak Rata turun makan malam.


Mau tidak mau Rara mengikuti kemauan suaminya itu untuk segera makan malam

__ADS_1


__ADS_2