
Rara membuka matanya, hal pertama dia lihat adalah Frezan yang sedang bersedekap dada didepan pintu kamar. Sorot mata Frezan membuat Rara meneguk salivanya susah payah karna tatapan cowok itu.
"Sayang."
"Mandi!"
Jleb.....
Rara meneguk salivanya mendapatkan kata mandi dari Frezan.
Perasaan Rara tadi masih tidur dimobil, mungkin saja Elga atau Frezan yang mengangkat dirinya masuk kamar.
"Ra...."
"Iya sayang!"
Rara langsung bangun dari tempat tidurnya langsung masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi. Pantas saja Frezan menyuruhnya mandi karna dia datang ke makam tadi dan dia belum mandi!
"Sayang. Handuk dong!"
Panggilan Rara langsung masuk kedalam indra pendengaran Frezan. Frezan menyungkirkan senyum tipisnya saat salah satu anak Elgara masuk kedalam kamarnya membawa mainannya.
Dia berjalan seperti ingin jatuh saja, karna dia baru pandai berjalan. Frezan tidak tau apakah anak itu Dyra atau Dyta.
"Sini, sayang."
Pembawaan Frezan yang dingin jika bertemu anak kecil akan membuat sikapnya berubah. Tidak mungkin 'kan jika dia mengeluarkan suaranya yang seperti biasa. Bisa-bisa anak-anak akan menghindar denganya.
Pintu kamar Rara terbuka, sehingga anak itu bisa masuk kedalam kamar Rara dengan tertatih-tatih.
Frezan membawa anak Kayla kedalam dekapannya. "Dyra." Frezan bisa mengatakan jika yang dia bawa dalam gendongannya adalah Dyra karena dibajunya ada nama bertuliskan nama Dyra.
Mungkin satu atau dua hari Frezan bisa membedakan mana Dyra dan Dyta. "Rambutnya agak panjang bernama Dyra, kalau rambutnya yang pendek bernama Dyta." menolog Frezan melihat rambut Dyra sedikit panjang ketimbang rambut Dyta.
Frezan sempat memperhatikan rambut anak Kayla dan juga Elgara tadi.
"Sayang. Handuk!"
Frezan melirik kearah pintu kamar mandi, dia belum memberikan Rara handuk.
"Bentar!" sahut Frezan berjalan kearah kamar mandi memberikan Rara handuk.
"Tunggu disini yah," kata Frezan mendudukkan Dyra diatas ranjangnya. Dia berjalan ke kamar mandi untuk memberikan Rara handuk.
"Pintunya buka!"
Frezan sudah didepan pintu kamar mandi, sembari melihat kearah Dyra. Takut-takut jika anak mungil itu jatuh dari tempat tidurnya.
Rara hanya membuka pintunya sedikit dengan menjulurkan tangannya keluar pintu untuk mengambil handuk.
"Sayang. Handuknya mana?" Rara mulai memberikan tangannya sedikit keluar untuk menyambut handuk yang diberikan oleh Frezan.
__ADS_1
"Ngapain cuman tangan yang keluar?"
Rara didalam kamarn mandi memanyunkan bibirnya. "Malu!"
Frezan menarik nafasnya. "Buat apa malu? Gue udah liat semuanya." Frezan berkata tanpa beban membuat Rara mengigit bibirnya. Meski mereka sudah menikah cukup lama namun membuat Rara juga malu, jika Frezan mulai membahas seperti ini!
Rara memunculkan kepalanya dibalik pintu sehingga dia bisa bertatapan dengan suaminya itu.
"Handuk."
Frezan tidak memberikan handuk, malahan semakin mendekati Rara seperti pengantin baru saka!
"Jangan aneh-aneh deh. Ini kamar mandi!" Rara mengingatkan Frezan membuat Frezan menatap manik mata Rara.
Frezan mendekati wajah Rara sehingga hembusan nafas Frezan dapat dirasakan oleh Rara. Hidung mereka berdua saling bersentuhan membuat Rara meneguk salivanya hingga Frezan melupakan jika bukan hanya dia saja disini.
Rara memejamkan matanya saat benda kenyal telah menempel dibibirnya dengan kepalanya saja yang dia nampakkan dipintu kamar mandi.
Huak!!!!
Rara dan Frezan melototkan matanya dengan bibir mereka masih bersentuhan.
"Dyra!"
Suara tangisan Dyra menggemah membuat Frezan tidak melanjutkan niatnya kepada Rara.
***
Sementara Elgara dan Frezan saling bertatapan dengan mata tajamnya yang seakan-akan mengeluarkan pancaran api.
Elgara mengeluarkan suaranya sembari menyeruput Coffe buatan Kayla. Sementara Kayla memutar bola matanya malas melihat Elgara sedang mengobrol dengan serius kepada Frezan. Padahal yang ingin dia katakan tidaklah begitu penting menurut Kayla.
"Tanpa kau katakan, aku sudah tau!" desis Frezan membuat Rara yang sedari tadi mengintip dibalik kulkas menggigit bibirnya.
Bagaimana jika kembaranya itu berseteru dengan suaminya? Membayangkan itu saja membuat Rara menggelengkan kepalanya.
Rara tidak salah dengarkan jika suaminya mengatakan aku kau? Dan Elgara pun sebaliknya.
"Seharusnya kau lihat sekitaran mu!" Elgara tidak ingin kalah.
"Anak usia seperti Dyra, tidak akan mengerti apa yang aku lakukan kepada, istriku." Frezan menekan setiap perkataannya membuat Rara merasakan aura mencekam dari saudaranya dan juga suaminya itu.
Mana mungkin Dyra tau apa yang akan dilakukan Frezan kemarin. Sementara Dyra masih kecil.
"Tap_" Perkataan Elgara tercekat ditenggelamkannya karna Kayla lebih dulu memotongnya.
"El!" Suara Kayla membuat Elgara tidak melanjutkan perkataannya. "Mandiin Dyta dulu," sambungnya membuat Frezan tertawa dalam hati. Mendengarkan Kayla berteriak dari arah dapur.
"Kay."
"El!"
__ADS_1
Elgara menghela nafas panjang, dia menatap Frezan sejenak lalu beranjak dari sofa yang dia duduki.
"Urusan kita belum selesai."
Frezan hanya mengedikkan bahunya acuh mendengar apa yang dikatakan oleh Elgara, iparnya sendiri.
"Ra!"
"Iya sayang. Aku disini!"
Rara langsung menghampiri Frezan yang tengah duduk sendiri sembari meminum Coffe.
"Kamu tau 'kan hukuman kamu apa?" Frezan kembali mengingatkan kepada Rara membuat Rara tersenyum masam lalu mengangguk mengiyakan ucapan Frezan.
"Good!"
Frezan menaiki anak tangga dengan Rara yang mengekorinya dari belakang membuat Kayla tersenyum melihat tingkah Rara yang belum sepenuhnya berubah.
"Dasar labil," menolog Kayla sembari membuatkan kedua anaknya susu.
Rara membantu Frezan memakai jas berwarna hitam. Rutinitas yang selalu Rara lakukan setiap Frezan ingin berangkat kerja.
Frezan menarik pinggang Rara sehingga jarak mereka sangatlah dekat. Rara memasangkan dasi Frezan dengan serius.
Cup
Satu kecupan mendarat dikening milik Rara, setelah dia berhasil memasangkan Frezan dasi.
"Jangan lupa jalanin hukuman kamu, My wife."
***
Sama halnya dengan Valen dan juga Rifal telah sarapan dengan pakaian kerja mereka yang sudah rapih. Pagi ini Valen sudah masuk bekerja dirumah sakit, dia tidak bisa tenang meninggalkan kewajibannya sebagai seorang dokter.
Sementara Rifal sudah siap dengan setelan jas kantornya. Dengan rambutnya tertatah rapih membuat pria itu semakin tampan.
Valen sudah selesai sarapan pagi, namun dia belum meninggalkan tempat duduknya membuat Rifal menyungkirkan senyum tipisnya melihat Valen mendengarkan apa yang kemarin dia katakan.
"Buatkan aku susu."
Valen membuka mulutnya sedikit, dia tidak salah dengarkan jika Rifal mengatakan Aku kepada dirinya.
"Apa kau tidak mau?"
"Ahk....Iya..." Valen merasa kikuk harus membalas dengan kosa kata seperti apa.
"Tunggu disini." Hanya itu saja yang dikatakan Valen lalu beranjak dari kursinya dengan berbagai pertanyaan.
Ada apa dengan Rifal? Apa mungkin kepalanya terbentur kemarin saat bertemu dengan Elga?
Rifal yang melihat kepergian Valen menggelengkan kepalanya. Apakah dia sudah mengambil keputusan yang benar? Mengikuti perkataan Elgara kemarin?
__ADS_1
Rifal menggelengkan kepalanya. "Awas aja lo, El! Gue sampai malu saama diri gue sendiri," menolog Rifal menggelengkan kepalanya.
Selamat tahun baru untuk kalian semua 🥳🥳🥳🥳😘😘😘