
Siang ini, Alvina kembali ke luar negri bersama sang suami, Kevin.
Yah, Alvina memutuskan kembali ke negri orang setelah pengadilan memutuskan jika Elga di tahan selama 13 tahun lamanya.
Disana dia akan bekerja bersama dengan Kevin di kantor milik suaminya. Agar dia mempunyai kesibukan dan tidak mudah sakit membayangkan anaknya di penjara selama 13 tahun.
Meski perktaan Frezan menyadarkan mereka, bukan berarti mereka lupa dengan apa yang di hadapi Elga.
Satpam mengangkat cover Alvi dan Kevin masuk kedalam mobil. Sudah hampir setengah tahun dia berada di Jakarta.
Saat pulang dari rumah sakit, Kevin dan Alvina ke kantor polisi menemui Elga untuk pamit untuk ke luar negri kembali.
Elga saat itu menagis, karna perbuatanya membuat kedua orang tuanya malu, dan memikirkan dirinya hingga berlarut-larut.
Namun, Kevin mengatakan jika semuanya sudah terlambat. Dan Elga harus berubah jika sudah melewati ini semuanya.
Sedari tadi, Rara bergelenyut mesrah di lengan Kevin dan juga Alvina. Mereka berada di ruangan kelurga. Semuanya kumpul, kecuali Elga yang beda tempat dengan mereka.
''Bunda kapan balik?''
‘’Kenapa bunda dan ayah nggak memperkerjakan orang di kantor ayah, agar ayah menatap di Jakarta.''
''Nanti Rara dan anak-anak bakalan rindu sama ayah dan bunda.”
‘’Ayah, kenapa harus kembali? Apa ayah tidak betah di jakarta tinggal di rumah Rara?''
Rentetan pertanyaan yang di lontarkan Rara dan hanya di balas senyuman oleh Alvina. Sementara Kevin sibuk dengan cucu-cucunya yang akan dia tinggalkan lagi.
‘’Kakek kenapa cepat pulang?'' tanya Hasya yang berada di pelukan Kevin. Hujan hanya Hasya yang dalam pelukan Kevin. Dyra juga berada dalam pelukan Kevin saat ini.
''Urusan kakek di negri orang banya,'' jawab Kevin dengan senyuman kepada kedua cucunya yang berada di dalam dekapanya.
Sementara Tegar duduk di samping Kevin, dan di sebelah Tegar ada Dyta.
Kayla sedang memgambil cemilan di dapur untuk menemani obrolan mereka di ruang tamu.
‘’Kalau kakek kembali ke sini, bawain Dyra sama Hasya boneka yang banyak, ya,'' pinta anak itu.
__ADS_1
''Kalian udah nggak main boneka pas kakek pulang,'' ucap Kevin santai sehingga Hasya dan juga Dyra mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan sang kakek.
‘’Kenapa?'' tanya Hasya dan Dyra hampir bersamaan.
‘’Padahal Dyra sama Hasya suka main boneka,'' ucap anak itu dan dibalas anggukan setuju oleh Hasya.
‘’Karna saat kakek udah pulan, kalian udah dewasa. Dan mainya cuman sama hp, buku, sama nongkrong sama teman kalian. Permainan masa kecil kalian akan terlupakan saat kalian dewasa.''
''Apa itu nongkrong, kek?'' tanya Hasya.
''Kumpul bareng sama teman, di tempat bagus.''
Sibuk mengobrol dengan kedua cucunya yang bertanya, hingga akhirnya Hasya dan Dyra turun dari pangkuan Kevin karna Kayla datang membawa makanan kesukaan mereka, yaitu cake dengan jus alvokad.
Kevin menatap Dyta, anak itu sedari tadi hanya diam saja.
''Dyta,'' panggil Kevin sehinga dyta langsung melihat sang kakek.
''Iya,'' jawabnya.
Kevin mengolengkan kepalnya melihat rambut Dyta yang keriting sangat cocok untuk wajahnya yang cantik.
Itulah keunikan yang ada pada diri Dyta.
''Dyta tidak mau pesan sesuatu seperti Dyta dan Hasya?'' tanya Kevin.
Dyta nampak berpikir lalu membalas perkataan Kevin. ‘’Kalau kakek sudah sampai di sana. Suruh papah buat kembali ke sini. Dyta kangen banget sama papah. Kalau papah nggak mau balik, bilangin ke papah kalau dia nggak balik Dyta akan nakal di sini,'' ucapnya memanyunkan bibirnya.
Sontak saja seluruh tatapan mata langsung terarah pada Dyta. Kecuali Hasya dan Dyra yang sibuk dengan makananya.
Bukan mereka menatap Dyta karna anak itu akan nakal jika El tidak kesini, karna bagi mereka ucapan Dyta yang tadi itu hanya ucapan anak kecil saja.
Mereka tidak menyangka, jika Syta menyuruh Kevin untuk kembali ke sini jika pria itu sudah sampai di sana.
Kevin hanya tersenyum, tidak membalas perkataan Dyta lagi.
Tegar menyenggol lengan mungil Dyta. ''Ta, kamu kok ngomong gitu sih barusan?'' nada suara Tegar tidak suka kepada Dyta.
__ADS_1
‘’Supaya papah kembali, Dyta kangen sama papah. Dyta pengen di peluk papah. Papah nggak pulang kesini, kan, kalau Dyta udah gede?'' ucap anak itu seraya menaikkan tanganya memberikan gambaran kepada Tegar.
‘’Awas aja kamu, jadi cewek pecicilan kalau udah besar,'' bisik Tegar di telinga Dyta.
''Pecicilan apa?'' tanyanya dengan polos.
‘’Entar kamu tau, kalau kamu udah besar,'' ucap Tegar santai lalu mengambil cake dan juga es alvokad di atas meja untuk dia nikamti.
Rara melihat Frezan turun dari tangga, pria itu sudah siap dengan setelanya yang rapih untuk mengantar mertuanya ke bandara.
''Hasya, Tegar,'' panggil Alvina saat sudah melihat Frezan menuruni anak tangga, dengan wajah khas miliknya.
''Jangan buat mamah kamu capek, ya, nurut apa yang di bilang sama bunda Rara saman ayah Frezan,'' nasehat Alvina kepada Tegar dan Hasya.
''Siap, nek,'' balas Hasya dan Tegar.
''Dan untuk Dyta dan Dyra, jangan bandel juga, ya, dengerin apa yang mama Kayla bilang. Jaga mama Kayla kalian selama papa kalian nggak ada,'' lirih Alvina berbicara namun dia berusaha menahan agar suaranya tidak serak. ''Dan jaga calon adik Dyra sama Dyta dalam perut mama Kayla,'' lanjutnya dengan menitihkan air mata.
Namun dengan cepat, Alvina mengusap air matanya karna tidak ingin membuat suasana menjadi melow.
''Dan untuk kamu, Ra...'' Alvina menatap anaknya yang masih bergelenyut mesrah di tanganya.
''Jadi ibu yang baik untuk anak-anak kamu, jadi istri yang nurut apa kata suami,'' ucap Alvina mencium kening anaknya.
‘’Jagain, Kayla ya, Ra. Kamu tau, kan, dia lagi hamil tanpa suami yang bisa dampingi dia. Kamu pernah rasain namanya ngidam, kamu bantu Kayla, ya, kalau dia mau sesuatu. Karna nggak ada Elga yang bisa nurutin keinginannya selama dia hamil,'' nasehat Alvina dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Rara memeluk Alvina dan juga Kevin.
''Dan untuk kamu, Kay, jaga kesehatan kamu, ya. Jaga kandungan kamu. Kalau kamu perlu apa-apa, bilang sama Rara,'' ucap Alvina.
''Kalau kamu udah minta ke Rara, nanti Rara yang suruh kak Eza,'' sahut Rara membuat suasan yang melow karna Alvina dan Kevin menjadi hening.
Rara hanya tertawa.
‘’Iya, bun. Kayla bakalan baik-baik di sini,'' jawab Kayla lalu berjalan memeluk Kevin dan Alvina.
Mereka berempat berpelukan lalu keempat anak kecil itu juga ikut berpelukan, sehingga suara deheman Frezan membuat mereka langsung melepaskan pelukan.
__ADS_1
''Hmm...udah mau berangkat?''