
Para pembantu dan satpam di rumah Daniel tengah menangkan sosok anak kecil yang sedari tadi menangis.
Sudah pukul tiga sore, anak itu masih saja menangis dari jam satu siang hingga sore ini.
Dari arah sana, pembantu datang membawa makanan untuk Agrif.
"Jangan nangis yah, nak." Satpam berusaha menangkan Agrif.
"Agrif mau papah!" isak anak itu dengan piluh membuat siapapun yang mendengar isakannya akan membuat hatinya teriris.
"Papah kamu sudah tenang di alam sana, kamu jangan nangis yah, nak. Di sini ada bapak sama bibi yang akan jaga kamu."
Agrif meggeleng dengan air mata yang masih menetes di pipihnya.
"Agrif maunya papah. Agrif nggak mau yang lain, hiks.....!"
"Bangunin papah, Agrif!"
"Bibi, bangunin papah Agrif!"
"Bangunin papah, Agrif, Bi!"
Bibi pengasuh mengambil makanan yang berada di atas nampan.
"Makan dulu yah, nak. Dari tadi malam kamu belum makan," ucap bibi dengan mengusap air matanya dengan kasar.
Agrif menggeleng kuat. "Agrif maunya papah, bukan makanan, hiks...!"
"Om itu jahat, dia mukuk papah sampai papah pingsan!"
"Om itu jahat!"
"Om jahat!"
Satpam dan pembantu lain berdiri dan menyisahkan sang pengasuh menangkan Agrif.
Anak kecil yang malang!
"Makan sesuap aja yah. Ahkhh....buka mulutnya," intruksi bibi sudah siap untuk menyuap Agrif nasi berkuah sop.
Pram....
Mereka semua terkejut karna makanan yang di atas mangkuk langsung di tepis oleh Agrif.
"Agrif nggak mau makan! Agrif mau papah Agrif! Hiks....Kembalikan papah Agrif hiks...!"
Pembantu di dalam rumah Daniel membereskan pecah beling mangkuk di bawa lantai karna di tepis oleh Agrif.
Mereka semua tidak tau harus berbuat apa.
"Bi, Minah."
Minah adalah nama pengasuh Agrif.
__ADS_1
"Lebih baik kita Telfon Lea, siapa tau saja Agrif mau makan kalau Lea yang menyuapinya."
"Kasian Nak, Agrif. Dari semalam dia belum makan. Saya takut jika dia jatuh sakit."
Perkataan pembantu itu di balas anggukan setuju oleh yang lain.
Minah mengangguk lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Lea.
Di dalam kamar Agrif hanya menyisahkan Minah dan Agrif saja. Sementara yang lain sudah pergi untuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
"Halo.."
Sapa bi Minah, setelah Lea mengangkat telfonya.
"Halo, bi..." Sapa balik Lea.
"Lea. Agrif nggak mau makan. Sedari tadi malam, dia belum makan sampai saat Ini. Saya takut jika Agrif sakit, karna tidak makan." Nada bicara bi Minah terdengar khawatir.
Lea dari sebarang Telfon dapat mendengar suara isakan tangis Agrif.
"Paksa makan, bi," saran Lea duduk di kursi depan meja belajarnya.
"Saya sudah memaksanya untuk makan, tapi makananya di tepis hingga berserahkan di lantai."
Lea yang mendengar penjelas bi Minah dari Telfon semakin di buat khawatir dengan kondisi Agrif ke depan.
"Apa Agrif terus-terusan menangis?"
"Iya....Sedari tadi, dia menyuruh kami semua membangunkan Daniel untuknya." Minah berkata seraya melirik Agrif yang tengah menangis sembari menelengkupkan kedua wajahnya menggunakan tangannya lalu tertunduk.
"Cepat yah, karna Agrif belum makan. Semogah saja dia mau makan dengan kamu tang menyuapinya."
"Iya bi, Lea titip Agrif yah."
"Pasti, kami semua akan menjaga Agrif dan akan menyayanginya seperti anak kami sendiri."
Mereka bercakap-cakap lalu obrolan mereka berakhir.
***
Rara berusaha menangkan Kayla saat ini. Sedari tadi wanita dua anak itu menangis. Saat ini, Rara sedang berada di kamar Kayla.
Setelah mereka pulang dari makam Daniel, Kayla langsung drop, dan baru sadarkan diri. Dan kemudian, wanita itu kembali melanjutkan tangisannya.
“Udah Kay.” Rara mengusap punggung Kayla, agar wanita itu berhenti untuk menangis.
“Kasian anak dalam kandungan kamu. Kalau kamu banyak pikiran kayak gini.” lanjut Rara.
“Kita sama-sama ikhlas. Yah, Kay. Ini udah setimpal dengan hukuman Abang El. Rara juga bakalan terima semua ini, kamu juga harus yah,” ujar Rara tanpa berhenti mengusap punggung milik Kayla.
Kayla mengusap air matanya kasar, mulutnya kakuh untuk membalas perkataan Rara.
Namun kemudian wanita itu menganguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Mereka semua sudah tidak bisa berharap lebih jika Elga tidak akan lama di penjara. Harapan itu semua sirna setelah kepergian Daniel menghadap sang pencipta.
Mereka semua yakin, jika Frezan semakin tidak akan memberikan ruang kepada Elga. Setelah Frezan tau, jika Daniel mempunyai seorang anak yang seumuran dengan adik bungsunya.
Mereka semua akan ikhlas dengan keputusan Frezan. Yaitu tetap memberikan hukuman penjara kepada Elga selama 13 tahun lamanya.
Rara memeluk Kayla dengan erat, guna menyalurkan semangat kepada sahabtnya itu.
“Masih ada aku, ayah, bunda dan anak-anak yang akan perhatian sama kamu,” ucap Rara di sela-sela pelukan mereka.
“Bunda…” Panggik Hasya kepada Rara yang tengah berpelukan dengan Kayla.
Kedua wanita itu melepaskan pelukanya.
“Kenapa, Sya?” tanya Rara seraya mengusap air matanya.
“Di cariin sama ayah,” jawab anak itu.
Rara pamit kepada Kayla untuk keluar, lalu dia menggandeng tangan Hasya untuk keluar bersamanya.
Rara menutup pintu kamar. Sementara Hasya sudah kembali bermain bersama Dyra.
Rara sudah melihat Frezan duduk di dekat jendela. Sore hari Frezan baru pulang, entah kemanaa dulu pria itu.
Frezan yang merasakan kehadiran Rara langsung membalikkan badanya.
Huft
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Frezan.
“Ada yang nasibnya lebih menyedihkan, daripada Dyta.” Bukan maksud Frezan membanding-bandingkan.
Rara sudah tau, apa yang di maksud oleh suaminya saat ini.
“Rara udah tau,” jawab wanita itu dengan lembut kepada suaminya.
“Sampaikan permohonan maaaf ku untuk ayah dan bunda.”
Rara mengangguk kakuh, sudah dia duga. Jika jalanya akan seperti ini jika Daniel sudah tidak ada.
“Kak Eza mau kemana?” tanya Rara melihat suaminya itu melenggang pergi.
“Aku ingin bertemu Nathan. Membahas mengenai anak Daniel. Agrif.”
Frezan mengacak rambut Rara, lalu mencium keningnya dengan lama.
“Semogah kamu mengerti yah, tentang keadilan.” Frezan berkata seraya tersneyum hangat kearah istrinya.
Air mata Rara jatuh. Seharusnya Frezan tidak mengatakan ini, yang membuat hatinya semakin sakit.
Frezan langsung membawa Rara kedalam pelukanya. Istrinya itu menangis dalam pelukan Frezan.
Apa yang di katakan suaminya tadi memang benar. Jika dia harus menerima ini semua, dia harus paham tentang keadilan terhadap Daniel.
__ADS_1
“Aku yakin. Bunda dan ayah tidak akan membantah keputusan. Setelah mereka tau, jika Daniel mempunyai satu anak laki-laki yang dia tinggali. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya.”
Frezan mengusap air matanya kasar tanpa Rara lihat. “Dan sekarang anak itu hidup yaitu piatu. Hidup tanpa kedua orang tuanya. Padahal jalanya masih panjang.”