Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Nando minta Tf


__ADS_3

Rifal sudah membaringkan Valen ditempat tidur. Rifal memperbaiki rambut Valen seraya tersneyum simpul. Besok mereka akan berangkat ke Bali.


Rifal menutup pintu kamar tempat Valen tidur. Didalam ruangan Rifal, ada tempat tidur tidak lumayan besar namun nyaman. Tempatnya beristirahat jika dia lelah mengerjakan pelrjaan kantor.


Rifal langsung di suguhkan wajah cengengesan Nando yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


“Yang nyuruh kamu duduk di tempat gue siapa?” Sinis Rifal kepada Nando.


“Tenang saja, kalau saya duduk di kursi kebesaran kamu, bukan berarti kantor ini milik saya,” balas Nando santai seraya mengedipkan matanya.


“Minggir lo!”


“Santai aja, nggak bakalan saya renggut tahta kamu,” santai Nando seraya mengangkat bokongnya dari kursi Rifal.


“Emangnya lo bisa rebut kecerdasan gue?” Terang Rifal membuat Nando mengangkat alisnya sebelah seraya tersneyum penuh makna.


“Saya memang nggak bisa rebut kecerdasan kamu, tapi saya mampu membuat kamu terkecoh,” ucap Nando santai membuat Rifal menyeritkan alisnya bingung.


“Maksud lo?”


“Kamu sudah terkecoh telah mempercayai tangan kanan seperti saya.”


“Nggak usah banyak tingkah lo,” desis Rifal.


“Gue emang udah terkecoh memilih tangan modelan kayak lo. Dikit-dikit gaji naik!” desis Rifal tertahan membuat Nando tertawa kecil.


“Pekerjaan saya sesuai lah dengan gaji saya,” Nando berkata seraya memperbaiki jasnya membuat Rifal ingin meninju wajah Nando saat ini. “Ini semua demi uang jajan Lea dan untuk menjadikan dia istri,” sambungnya dengan senyum penuh kemenangan membuat Rifal langsung menjitak kening Nando.


“Cari yang lebih dewasa, lo jangan pedofil, Nan,” kata Rifal.


“Ngapain cari yang dewasa? Kalau bocil macam Lea udah buat gua jatuh cinta,” ucap Nando. “Umur bukan penghalang untuk kami bersatu,” lanjutnya.


“Emangnya Lea mau sama lo!”


Nando melirik Rifal. “Siapa sih yang nggak terpesona dengan ketampanan Fernando,” ucapnya seraya tersneyum simpul.


Rifal akui, jika Nando juga tampan. Hanya saja, Rifal tidak bisa bayangkan jika Tangan kananya itu yang hampir seumuran denganya akan menikah dengan Lea, sosok gadis yang belum memasuki usia 20 tahun.


Nando melirik jam dipergelangan tanganya. “Kita keruang meeting, sudah banyak yang menunggu.”


Setelah berbincang bincang berdua. Akhirnya mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk segera keruangan meeting.

__ADS_1


Nando berjalan di belakang Rifal, seraya membawa beberapa dokumen penting dan juga laptop.


Pintu ruangan meeting terbuka. Sehingga seluruh tatapan langsung mengarah kepada Rifal dan juga Nando.


Rifal dengan karakternya yang angkuh, dan juga Nando berubah menjadi datar diruangan meting.


Mereka yang berada di ruangan meting berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Rifal.


Rifal langsung duduk di kursi, seraya menyilangkan kakinya keatas. Dia sudah memperhatikan wajah wajah yang akan bekerja sama denganya. Berbagi macam wajah yang dia lihat membuatnya tersenyum sinis.


“Sudah siap bekerja sama dengan perusahaan saya?” Tanpa basah basih Rifal langsung melayangkan pertanyaan tersebut kepada mereka.


Sementara Nando dengan sigap berdiri di samping Rifal. Gaya Rifal saat ini sangat tidak sopan. Dengan menyilangkan kakinya serta wajahnya yang angkuh. Padahal dia tau, jika dihadapnya ada orang yang lebih tua darinya.


“Tentu saja kami siap untuk bekerja sama dengan perusahaan bapak. Apa lagi perusahaan bapak sudah terkenal,” sahut salah satu dari mereka dan dibalas anggukkan setuju oleh yang lain.


“Apa kau punya kelebihan. Sehingga memberanikan diri datang kesini hanya untuk bekerja sama dengan perusahaan saya?” Tanya Rifal dengan angkuh kepada pria paruh baya yang menjawab pertanyaanya tadi.


“Tentu saja. Jika bapak menerima saya bekerja sama dengan perusahaan bapak. Saya yakin, perusahaan bapak akan semakin maju dan semakin dikenal,” ucap pria paruh baya itu dengan mantap dan yakin.


“Ck. Jika kau mampu, mengapa kau tidak mengembangkan sendiri perusahaan mu? Tanpa bekerja sama dengan saya. Perusahaan milik mu maju dan terkenal bukan?” Rifal berkata dengan angkuh, membuat mereka semua menelan ludahnya susah payah.


Ternyata benar berita yang mereka dengar. Jika bos perusahaan ini sangat ketus. Dan bibirnya yang pedas. Dia tidak memandang usia lawan bicaranya kapan.


“Fal.”


Berdiri lah sosok wanita cantik didepan pintu membawa bantal guling, matanya sedikit sayup karna baru saja bangun tidur.


Mereka semua menebak jika wanita cantik itu adalah istri pria yang bicaranya sangat ketus.


Valen mengerucutkan bibirnya kearah Rifal membuat mereka diruangan meeting gemes dengan tingkah Valen, ditambah lagi perutnya sedikit buncit.


“Sayang.”


Rifal berkata dengan lembut melihat istrinya berdiri didepan pintu membawa bantal.


“Gue percayain semua ini sama lo, Nan. Urus mereka. Gue mau urus istri gue dulu,” bisik Rifal di telinga milik Nando.


“Itu sangat gampang, asalkan…”


Rifal menatap tajam Nando.” nanti gue transfer,” jelas Rifal membuat Nando tersneyum.

__ADS_1


“Bos yang sangat baik.”


“Jangan kirim di rekening ku, rekening ku sudah membengkak heheh,” ucap Nando dengan tawa kecil. “Kirim ke rekening Lea.”


“Ngambil kesempatan banget lo yah, Nan.” Kesal Rifal.


Mereka yang berada dibawa melihat pertengkaran kecil antara Nando dan Rifal.


“Fal.”


Panggil Valen lagi. Karna Rifal tak juga menghampirinya.


“Iya sayang,”ucap Rifal dengan lembut seraya menghampiri Valen.


“Udah gue tf ke rekening Lea,” ucap Rifal lalu pergi.


Sikap seseorang bisa saja berubah dengan wanita yang dia cintai.


“Baiklah. Karna bos saya lagi bucin. Maka saya yang akan menghandel ini semua,” ucap Nando duduk di kursi tempat Rifal tadi.


“Dengan ini saya nyatakan, kalian semua saya terima bekerja sama dengan perusahaan ini,” ucap Nando santai.


Rifal sudha meninggalkan ruangan. Namun samar samar Rifal bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nando tadi.


Mereka semua tersneyum dan bertepuk tangan dengan apa yang dikatan oleh Nando.


Awas aja lo, Nan. Nyesel gue transfer duit lihat kerja lo! desis Rifal dalam hati.


“Kamu kenapa bisa bangun?” tanya Nando kembali masuk kedalam kamar tempat Valen tidur tadi.


“Aku nyariin kamu, tapi kamu nggak ada,” Valen berkata seraya mengerucutkan bibirnya kearah Rifal.


“Aku lagi meeting sayang. Jadi aku nggak tega banguni kamu. “


“Aku kan mau nemenin kamu meeting.”


“Lain kali aja yah,” ucap Rifal seraya memperbaiki anak rambut Valen. Perkataan Nando tadi masih terputar di pikiranya karna menrima kerja sama mereka tanpa seleksi.


“Iya,” kata Valen.


“Kamu lanjut tidur yah, entar malam baru pulang kerumah,” ucap Rifal dengan lembut.

__ADS_1


“Temenin aku,” pintah Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Valen kembali membaringkan tubuhnya. Sementara Rifal berjalan kearah lemari kecil untuk mengambil baju kaos. Dia juga mengantuk dan ingin tidur di samping istrinya.


__ADS_2