
Rifal dan Valen menggagalkan mengadakan perayaan ulang tahun di hotel, ia tadi pagi ia berubah pikiran.
Namun hotel tetap ia bayar sebagaimana mestinya. Bagi Rifal itu bukan hal besar untuknya.
Pesta begitu meriah di dalam rumah Rifal dan Valen. Bahkan, Rifal tak lupa mengundang orang terdekatnya. Rara, Frezan, Kayla, Hasya, Dyra, Dyta, Tegar dan Farel juga ada di sini, di undang langsung oleh Rifal.
Mereka sempat tidak percaya jika Rifal akan mengadakan pesta ulang tahun Nando di rumahnya. Karna mereka pikir selama kepergian Valen, Rifal tidak ingin bertemu siapapun bahkan mengadakan pesta seperti ini.
Namun mereka Bersykur, karna Rifal mulai melangkah untuk melupakan sosok wanitanya, meskipun itu tidaklah mudah.
Frezan dan rombongannya mengenakan topeng kupu-kupu.
Frezan menyuapi cake untuk ketiga gadis kecil yang duduk di depan meja besar, yang kelihatan hanya kepalanya saja karna tenggelam.
''Buka mulutnya, Hasya.'' Frezan menyupai Hasya cake.
''Dyra juga, Om.'' Dyra menyahut tak ingin kalah.
Frezan mengangguk, tanpa Dyra minta Frezan akan menyuapinya cake.
Cake berhasil mendarat di mulut Hasya dan Dyra.
''Enak?'' tanya Frezan seraya mencoba cake yang ia suapkan untuk Hasya dan Dyra.
''Enak!'' Hasya dan Dyra menjawab serentak membuat Frezan menjadi gemas dengan anak-anak itu.
''Dyta maunya di suap sama papah, El.'' Tangan Frezan menggantung saat Dyta mengatakan ingin di suap oleh Elga.
Jangan lupa suaranya yang sangat kecil.
Frezan menyimpan cake itu diatas meja, lalu mengusap rambut Dyta. Jika seseorang ingin menyuapi dirinya, Dyta akan mengatakan ingin di suap oleh Papah El nya saja.
Rindu datang begitu tiba-tiba, membuat anak itu terlihat murung.
''Om,'' panggil Dyta dengan lucu. Matanya yang lucu serta rambutnya keriting membuat Frezan gemas kepada Dyta. Pantas saja adiknya Farel selalu mengatai dirinya curiting, karna rambutnya keriting cantik. Membuat anak itu semakin menggemaskan.
Dyra dan Hasya lanjut memakan cake sendiri. Mereka berdua bergantian saling suap membuat kedua anak itu tertawa bahagia.
Lain dengan Dyta.
''Papah kapan balik, om?'' tanya anak itu membuat Frezan tidak tau harus menjawab seperti apa.
''Soal kepulangan papah kamu, lebih baik kamu tanya sama mamah Kayla, ya.'' Frezan menoel pipih Dyta dengan gemes.
__ADS_1
Anak itu tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya.
''Dyta nggak mau makan kue?'' Dyra bertanya dengan mulut penuh dengan cake.
Bahkan mulut Hasya dan Dyra sudah belepotan karna kue.
Dyta hanya menggeleng sebagai jawaban yang ia berikan untuk saudari kembarnya.
Para tamu menikmati pesta malam ini, pestanya sangat ramai, bahkan berbagai macam makanan tersedia di tempat ini.
Banyak orang kantoran yang datang memberikan ucapan selamat kepada Nando atas bertambahnya usianya.
Rara dan Kayla sedang duduk di kursi tengah berduaan seraya memperhatikan Rifal yang nampak akrab dengan wanita lain.
Semudah itukah Rifal melupakan istrinya?
''Ra,'' panggil Kayla.
''Secepat itu, ya, Rifal lupain Valen, sahabat kita.'' Kayla tersenyum kecut.
Rara dan Kayla bisa melihat bagaimana tatapan Rifal kepada wanita berambut coklat itu. Tatapannya samgat tulus, bahkan tatapan itu biasanya di berikan kepada Valen, kini diberikan oleh wanita lain.
''Jangan prasangka buruk dulu, Kay.'' Rara berusaha mengeluarkan aura positif. ''Bisa ajakan, wanita itu cuman wanita tempat Rifal singgah, untuk melupakan rasa sakitnya karna cintanya kepada Valen.''
''Kita samperin Kak Rifal, dan kenalan sama wanita yang dekat dengan kak Rifal.'' Rara langsung menggandeng tangan Kayla menuju meja yang di tempati oleh Rifal, Nando dan Valen, yang mereka pikir itu orang lain.
''Kak Rifal.''
Rifal melihat wanita cantik memanggil dirinya. Rara tidak berubah, ia masih seperti seorang gadis yang butuh perlindungan dari mata yang ingin memilikinya.
Kecantikan Rara dan Kayla menjadi sorotan di tempat ini, terutama Rara. Mereka berdua sudah melepaskan topengnya sehingga seluruh pasang mata menatap mereka dengan tatapan takjub.
''Ra, duduk di sini sama Kayla.'' Bagaimanapun, Kayla adalah istri sahabtnya El, yang sudah seperti saudara kandung baginya.
Valen menatap Kayla dan Rara dengan tatapan bahagia, ia merindukan sahabtnya. Andai saja ia tidak bersembunyi untuk sesaat, sedari tadi ia memeluk Rara dan Kayla.
Sosok sahabat yang ia rindukan.
Kayla dan Rara duduk di dekat Valen, yang mereka pikir wanita lain. Valen berada di tengah, sebelah kananya ada Kayla, dan di kiri ada Rara.
Sementara Rifal harus pindah tempat, sehingga ia menggeser kursinya di dekat Nando, namun masih satu meja.
''Kenalin, gue Kayla.'' Kayla menjulurkan tanganya kearah Valen.
__ADS_1
Air mata Valen mengenang, Rifal bisa melihat itu. Apa ia egois harus merahasiakan ini dari sahabat Valen?
''Anna.'' Valen menyambut uluran tangan Valen dengan menggunakan nama anknya.
Hangat, itu yang kayla rasakan saat tangan itu menyapanya.
''Gue ke toilet dulu.'' Rifal pamit ke kamar mandi yang tidak jauh dari sini.
Rifal membasuhi wajahnya didalam kamar mandi, lalu berjalan menuju kamar Anna. Bukan hanya Anna yang ada di dalam, ada Revan anak Kayla juga yang sedang tidur.
Rifal merogoh saku celananya mengambil ponsel.
Ting…
“Len, kamu ke kamar Anna sekarang. Anna lagi nangis.”
Dengan buru-buru Valen meninggalkan Rara, Kayla dan Nando. Ia menaiki tangga untuk segera menuju kamar Anna.
Rara dan Kayla tidak melihat kearah mana Valen, saking banyaknya orang di sini.
''Apa dia hanya wanita pelampiasan kak Rifal?'' tanya Rara dengan Ragu-ragu.
Ia sama yakinya dengan Kayla, jika wanita itu sudah mempunyai tempat di hari Rifal, mereka bisa melihat dari tatapan Rifal kepada wanita tersebut.
''Dia wanita yang sangat Rifal cintai.'' Nando menjelaskan seraya tersenyum membuat Rara dan Kayla bertatapan.
''Aku duluan, ada teman kantor ku menunggu ku di sana.'' Nando pamit kepada Rara dan Kayla menghampiri meja yang terdapat teman kantornya.
‘’Biarin kak Rifal nemuin kebahagianya. Aku nggak mau dia terus-terusan kepikiran Valen. Aku yakin, Rifal udah nempatin Valen sahabat kita di hatinya.''
Kayla menganggu, meski hatinya sedikit enyah.
“Len, Rifal sudah berhasil melupakan mu, dengan menemukan wanita baru.”
Ting
Ponsel Kayla bunyi, menandakan adanya pesan masuk.
''Kay. Anak lo Revan nangis di kamar. Buruan kesini, dia butuh lo.''
''Kita keatas, Ra. Revan nangis.'' Rara langsung mengikuti Kayla menaiki tangga untuk segera menuju kamar tempat ia menidurkan Revan.
''Kita panggil kak Eza nggak sih, Kay?'' tanya Rara seraya berjalan di anak tangga bersama dengan Kayla.
__ADS_1
''Nggak usah, Ra. Diatas ada Rifal, kita minta tolong aja nanti.''