Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Berita itu benar


__ADS_3

Ombak semakin kencang, langit sudah berubah menjadi gelap. Para pengunjung pantai yang tadinya ramai kini berangsur-angsur bubar karna intruksi dari polisi.


Para tim basarnas masih berada di tengah-tengah laut. Pihak polisi dan tim basarnas masih setia mencari.


‘’Kasihan banget yah, pasangan muda itu.''


Pengujung pantai mengobrol seraya berlalu pergi. ''Padahal mereka berdua masih muda. Mungkin saja takdir cinta mereka hanya smapai di sini saja.‘’


''Saya melihat mereka berdua tadi sangat bahagia.''


Tim basarnas masih setia mencari dua korban hilang karna ombak tinggi yang tiba-tiba datang.


‘’Miris sekali pasangan muda itu.''


Pengunjung pantai mulai berbubaran karna adanya kejadian menjelang malam di pantai Bali kali ini.


Nando sudah tidak karuan lagi membawa mobilnya. Pria itu nekad megandarai mobil dari Jakarta ke Bali.


Padahal dia tau, dari Jakarta ke bali tidaklah dekat. Waktu tempuh normalnya itu 18 jam perjalanan.


Dia membawa mobilnya dengan laju. Mungkin saja pria itu membawa mobil hanya membutuhkan 12 jam lamanya saja. Saking kencangnya dia membawa mobil.


Nando menitihkan air matanya, fokusnya terbagi saat ini. Berita kali ini menbuatnya ingin menjadi gila saja.


''Sial!''


Nando modal nekad menuju Bali menjelang magrib, dia tidak bisa menunggu hari esok untuk menggunakan pesawat.


‘’Semogah mimpi buruk ini tidak terjadi.'' ringis Nando dengan mata memerah.


Sementara di sisi lain, Novi berusaha membujuk Lea agar gadis itu bebicara. Wajahnya sudah memerah, air matanya terus-terusan meneteh di pipihnya.


Namun Lea belum juga angkat bicara, ponsel milik Lea sedari tadi berbunyi. Novi sempat melihat nama kontak yang menelfon Lea secara terus-terusan bernama Agrif.


Novi tidak tau siapa Agrif itu, yang sedari tadi menghubungi Lea. Bahkan ponsel Lea sedari tadi berdering.


Novi berpikir, jika sang penelpon yang membuat anaknya seperti ini. Novi belum pernah mendengar Lea bercerita mengenai seseorang bernama Agrif.


''Apa yang bernama Agrif itu yang membuat kamu menangis seperti ini? Menangis seperti orang gila?'' Tanya Novi setelah sekian lama ingin bertanya karna anaknya itu tak kunjung menjawab mengapa dia terus-terusan menangis.

__ADS_1


Lea menggelengkan kepalanya, membantah perkataan Novi.


‘’Lantas apa yang membuat kamu menangis seperti ini, Lea?'' Tegas Novi karna Lea belum juga mengatakan apa yang terjadi.


Anaknya itu hanya diam menangis, seperti seseorang yang bisu yang tidak mampu berkata-kata.


Lea melirik mamahnya lalu memeluk Novi dengan erat.


Novi menghembuskan nafas berat, melihat tingkah Lea seperti anak kecil saja.


‘’Bilang sama mamah, kamu kenapa?''


Didalam kamar sederhana miliki Lea, hanya tinggal dia dan mamahnya. Sementara kedua adiknya sudah berada didalam dapur makan malam.


Novi menyuruh lebih dulu anaknya itu Makan, karna dia ingin menemani Lea di sini.


‘’Dokter Valen, sama om Rifal mah!'' Tangis gadis itu pecah dalam pelukan Novi saat menyebut nama dokter Valen.


''Dokter Valen kenapa? Rifal juga kenapa?'' Tanya Novi penasaran. Dia menuntut jawaban dari anaknya itu.


‘’Dokter Valen sama om Rifal hilang di laut, mah!'' Tangisannya semakin menjadi-jadi saat mengatakan apa yang menbuatnya menangis seperti ini.


Tetangga yang dia sayangi di kabari menghilang di pantai saat bermain jetski. Kabar tersebut dari Nando.


Apa lagi pria itu baik padanya, selalu memberikannya uang jajan jika melaksanakan perintah dari Rifal.


Mereka berdua tetangga baik Lea. Sosok orang kaya yang tidak sombong akan hartanya. Itu yang Lea lihat dari tetangganya itu.


Jantung milik Novi berdetak sangat kencang saat Lea mengatakan jika Rifal dan Valen hilang di tengah laut.


Novi menyebut Rifal dan Valen yang baik hati. Salah satu tetangganya yang mempunyai harta berlimpah namun tetap ramah kepada kalangan bawahnya. Termasuk kepada keluarganya.


''Mereka hilang di pantai mana, Lea?'' Dengan rasa penuh khawatir Novi bertanya kepada anaknya itu yang terus-terusan menangis.


Kebaikan suami istri itu sudah di rasakan oleh keluarga Novi. Terutama pada Lea, yang merasakan kebaikan dokter Valen dan Rifal.


''Di pantai Bali, Mah.'' Lea menjawab tanpa melepaskan pelukanya dari mamahnya.


''Kamu sekarang berdiri, kita sekarang ke sebelah. kerumah Rifal.'' ajak Novi dengan buru-buru menggandeng tangan Lea.

__ADS_1


''Untuk apa mamah ke sebelah?''


''Di seblah ada kedua orang tua Rifal,'' jawab Novi.


Dengan mata sembab Lea mengayunkan langkah kakinya keluar dari rumah bersama Novi. Terlebih dahulu, Novi mengatakan kepada kedua anaknya untuk tinggal di rumah saja. Raka dan Riki mengangguk setuju saat Novi memberikan perintah.


Hanya beberapa langkah saja mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Rifal yang begitu mewah. Terlihat dsri luar yang nampak sunyi.


Novi berjalan masuk, kebetulan pagar rumah Rifal tidak di gembok. Dia terus-terusan memegang tangan Lea karna anak itu hampir saja jatuh setiap kali melangkah kakinya.


Novi dan Lea sudah berada di depan pintu rumah Rifal yang begitu mewah. ''Mah, apa ada orang di dalam?'' Tanya Lea dengan suara serak. Jangan lupa matanya yang sudah membengkak karna terus-terusan menagis.


''Setau mamah, orang tua Rifal belum balik ke kampung,'' jawab Novi. ''Kita coba Tanya, apa berita itu benar atau tidaknya,'' ucap Novi meskipun dia mempunyai firasat tidak enak.


Tok....Tok...


Novi mulai mengetuk pintu bercat putih tersebut. Aska yang sedari tadi menenangkan Rina yang menangis langsung melihat kearah pintu yang di ketuk.


‘’Assalamualaikum, saya tetangga sebelah,'' terlebih dahulu Novi memperkenankan dirinya, meskipun dia belum di persilahkan untuk masuk.


''Masuk!'' sahut Aska dari dalam.


Saat ini, Aska berada di ruangan tamu bersama Rina yang sedari tadi menangis.


Novi langsung membuka pintu, dan melihat kedua wanita dan pria paruh baya tengah menenangkan istrinya yang sedang menangis.


Lea yang melihat orang tua Rifal sedang menangis, semakin yakini. Jika berita kali ini tidaklah bohong.


Lea menggenggam erat tangan Novi saat melangkahkan kakinya masuk kedalam.


‘’Silahkan duduk,'' Aska mempersilahkan Novi dan Lea duduk.


‘’Terimaksih,'' jawab Novi lalu duduk bersama dengan Lea.


''Saya ingin bertanya, apakah berita mengenai dokter Valen dan Rifal itu benar?'' Tanya Novi sehingga Rina yang sedari tadi memeluk suaminya langsung melihat kearah Novi.


Dia melihat wanita itu masih berumur sekitar 45 tahun, dan anak gadis di sampingnya tengah menangis.


''Iya, berita mengenai Valen dan Rifal memang benar,'' jawab Aska dengan suara berusaha tegar.

__ADS_1


''Dokter Valen sama om Rifal, mah!'' tangis Lea kembali memeluk Novi membuat Rina semakin terisak.


Dia seperti sedang mimpi, dia memikirkan tiga manusia yang dia sayangi. Anak, menantu dan calon cucunya.


__ADS_2