
Kayla keluar dari Bar guna mencari keberadaan Daniel, kapan lagi coba dia bertemu dengan Daniel. Dia hanya ingin bertanya mengenai kabar pria itu serta menanyakan apakah dia sudah mempunyai istri dan anak.
"Daniel!" panggil Kayla.
Seketika pergerakan tangan Daniel terhenti ingin membuka pintu mobilnya. Dia membalikkan badannya dan sudah melihat Kayla sedang menghampirinya.
Gadis itu menggunakan baju kaos serta celana panjang, serta rambutnya tergerai indah sedikit bergelombang membuat perempuan itu semakin cantik.
"Sombong amat sih lo, Niel," kata Kayla setelah berhasil menghampiri Daniel yang ingin segera pergi.
"Saya buru-buru."
Kayla langsung meneguk salivanya susah payah, benar-benar Daniel semakin berubah. Nada bicaranya saja membuat Kayla terkesima.
"Nggak usah formal banget kali, Niel," kaya Kayla.
"Gimana kabar lo?" tanya Kayla kepada Daniel.
"Kabar saya baik." Daniel langsung masuk kedalam mobilnya membuat Kayla membuka sedikit mulutnya karna Daniel langsung pergi meninggalkan dirinya.
Kayla membalikan badannya untuk segera pulang, karna sudah pukul sebelas malam dia belum pulang.
Elga yang melihat Kayla dari kaca mobilnya menaikkan kembali kaca mobilnya lalu menjalankan mobilnya untuk segera pergi.
Sementara Kayla, dia mengambil mobilnya diparkiran guna untuk segera pulang.
Daniel memasuki pekarangan rumah yang dihadiahkan Frezan untuknya. Karna dia telah bekerja dengan baik diperusahaan Frezan.
Sehingga Daniel tidak perlu lagi tinggal di apartemen.
Daniel langsung masuk kedalam rumahnya untuk segera mencari penyemangatnya selama ini.
"Papah!"
Daniel langsung membalikkan badannya, dia sudah melihat putranya memangilnya begitu semangat.
"Jagoan papah!" kata Daniel menggendong anaknya itu.
__ADS_1
"Agrif sudah makan?" tanya Daniel penuh kasih sayang sembari menaiki anak tangga.
"Udah," jawabnya dan dibalas acungan jempol oleh Daniel.
Daniel mempunyai satu orang anak bernama Agrif, dia sudah menikah dengan orang lain setelah Kayla memutuskan untuk menikah pula.
Istri Daniel sudah meninggal setelah dia melahirkan Agrif, karna saat itu istrinya pendarahan berat.
Untung saja, Agrif sehat setelah dilahirkan. Tidak ada yang tau jika Daniel sudah menikah, hanya Frezan saja yang tau jika Daniel adalah seorang duda anak satu.
Frezan belum tau, bagaimana wajah almarhum istri Daniel. Semenjak istrinya meninggal dia memutuskan untuk tidak menikah lagi karna dia ingin fokus mengurus putra semata wayangnya, yaitu Agrif.
"Papah temenin Agrif tidur, yah," pintah anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh Daniel.
"Papah akan temenin kamu tidur, sekarang tutup mata kamu," perintah Daniel. Dengan cepat anak itu menutup matanya untuk segera tidur.
Untung saja, Agrif tidaklah nakal sehingga Daniel tidak bersusah payah mengurus Agrif. Saat pergi bekerja, hanya ada baby sister hang menjaga Agrif hingga dia pulang bekerja.
***
Kayla membuka pintu kamarnya yang gelap, hanya ada lampu penerangan serta lampu didekat tempat Dyra dan Dyta tidur.
Sekitar tiga puluh menit mandi dia memakai baju tidurnya lalu menghampiri kedua anak-anaknya yang tengah tertidur pulas.
"Maafin mamah," kata Kayla penuh penyesalan. Karna rasa amarahnya kepada Elga sehingga dia tidak memberikan ASI kepada anak-anaknya sebelum pergi.
Kayla melirik tempat tidurnya, dia tidak melihat Elgara. Kemana Elgara malam-malam begini?
Kayla terlebih dahulu mencium pipi kedua anaknya sebelum dia pergi tidur. Dia juga capek seharian bepergian guna menghilangkan rasa marahnya kepada Elgara.
Kayla langsung memejamkan matanya untuk segera tidur.
***
Pagi-pagi begini Valen sudah siap dengan setelan jas berwarna putihnya. Dia berpapasan dengan Rifal dianak tangga.
Mereka berdua saling bertatapan, dengan Rifal ingin naik keatas sementara Valen ingin turun. Dengan raut wajahnya yang datar Valen meneruskan langkah kakinya menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Aku nggak ngizinin kamu buat kerja."
Langkah kaki Valen langsung terhenti mendapatkan perkataan tiba-tiba dari Rifal. Valen membalikkan badannya lalu menatap Rifal dengan raut wajah datar. Tidak ada lagi raut wajah seperti dahulu yang dia namppakan.
"Ini sudah kewajiban aku jadi seorang dokter," kata Valen penuh dengan penekanan. Lepas mengucapakan hal itu dia melanjutkan langkah kakinya. Sementara Rifal masih terdiam mendapatkan jawaban seperti itu dari Valen, dan jangan lupa suaranya yang tegas dan datar.
Suara yang tidak pernah Rifal dengarkan sebelumnya dari mulut Valen.
"Semenjak kamu hamil, kamu sudah tiga kali dirawat. Itu semua karna kamu kelelahan, aku tidak mau karna kamu kecapean akan membahayakan anak aku." Rifal tak kalah teganya membalas perkataan Valen.
Valen kembali menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya, sehingga dia bisa bertatapan dengan Rifal yang sudah siap dengan setelan jas kantornya.
"Aku yang bawa diri aku sendiri, jadi aku bisa rasain apa aku capek atau nggak. Lagian, aku juga bisa jaga anak aku sendri," kata Valen lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Perkataan Valen sukses membuat Rifal terdiam sejenak. Rifal melanjutkan langkah kakinya untuk segera keruangan bekerjanya untuk mengambil laptop agar segera ke kantor.
Setelah sarapan pagi Valen beranjak dari kursinya untuk segera pergi meninggalkan rumah, dia ingin kerumah sakit menjalankan kewajibannya.
Dari balkon kamarnya, Rifal bisa melihat Valen sedang masuk kedalam mobil seseorang. Rifal tau jika yang menjemput Valen adalah Nathan.
Rifal mengepalkan tangannya saat mobil Nathan telah pergi meninggalkan gerbang rumahnya.
"SIAL!" Rifal menggerutu lalu melepaskan jas kerjanya. Pagi ini dia tidak jadi berangkat kerja karna mood-nya sangat rusak.
Gara-gara pagi itu dia terbawa emosi sehingga dia mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak dia keluarkan dari mulutnya.
Dia tidak ingin mengatakan kata keramat itu kemarin, namun dia terbawa emosi karna Kayla. Dia juga tidak melihat sejak kapan Valen dan Nathan berada dibelakang Valen Sehingga mereka mendengar seluruh perkataannya dengan Kayla.
"Kenapa gue harus kecoplosan kemarin, Ahk. Sial!" gerutu Rifak dengan nafas memburuh. karna rasa emosinya membuat dirinya seperti ini. Apa lagi Kayla kemarin memancing dirinya.
Padahal, kemarin Rifal ingin menyelesaikan masalahnya dengan Valen, menjelaskan semuanya kepada Valen saat dirumah sakit dia bersama dengan Adelia.
Apa lagi yang harus Rifal jelaskan, dia yakin Valen sudah tidak mempercayainya lagi, apa lagi malam itu dia sangat menyakinkan Valen bahwa dia mencintainya dan paginya dia berkata lain.
Padahal Rifal sudah yakin dengan perasaannya malam itu, jika dia mencintai Valen bukan main lagi. Namun paginya semua hancur karna kesalahpahaman yang mungkin Rifal tidak bisa jelaskan lagi kepada Valen.
Rifal akui dia salah, seharusnya dalam keadaan yang emosipun seharusnya dia tidaklah mengatakan itu semua.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, setelah anak itu lahir mereka berdua akan bercerai, dan Rifal pastikan jika anak yang dikandung oleh Valen akan jatuh ke tangannya.