Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Perdramaan


__ADS_3

Dyra yang melihat Farel merangkul Dyta langsung melempar bonekanya. “Kak Farel jahat!” kata Dyra membuat satpam yang menyaksikan kelima anak kecil itu menjadi cengo.


Dyta langsung menjauhi Farel, karna dia tidak suka anak itu.


“Dyra suka sama kak Farel!” Dyra menangis membuat satpam yang bertugas menjaga mereka langsung menghampiri Dyra.


“Neng Dyra jangan nangis,” kata satpam tersebut menghampiri Dyra.


“Pak….Dyta rebut kak Farel dari Dyra,” tangis anak itu pecah membuat satpam langsung menenangkannya.


“Nggak boleh pacar-pacaran. Kalian masih kecil,” nasehat satpam.


Dyra mengusap air matanya sembari mengerucutkan bibirnya. “Kak Farel bakalan jadi pacar Dyra. Kalau Dyra udah besar,” kata anak itu sembari tersenyum membuat satpam langsung menepuk jidatnya melihat tingkah Dyra.


“Masih lama, neng Dyra,” kata satpam.


“Tapi Dyra udah pilih kak Farel buat jadi pacar Dyra, kalau Dyra udah besar,” kata anak itu lagi.


“Iya-iya,” satpam mengalah. Jika berdebat dengan anak kecil akan sia-sia saja.


Farel yang mendengar apa yang di katakan oleh Dyra memutar bola matanya malas. Tak di pungkiri ketampanan milik Farel mampu membuat anak kecil bernama Dyra jatuh hati padanya.


“Kak Farel,” panggil Dyra dengan lucu. “Kalau kita udah besar, Kak Farel harus jadi pacarnya Dyra,” kata anak itu membuat Tegar mengusap wajahnya dengan air.


Mempunyai sepupu yang centil seperti Dyra membuatnya selalu harus melihat tingkah spesial anak itu.


“Hasya juga mau,” sahut anak itu yang sedari tadi hanya menyimak.


“Mau apa?” Tanya Tegar.


“Mau sama om Farel,” kata Hasya tanpa beban membuat Farel dan Tegar langsung menepuk jidatnya bersamaan.


“Farel om kamu, nggak boleh,” kata Tegar.


“Kata siapa?”


“Kata Ayah, Sya,” terang Tegar kepada adiknya itu.


“Kak Farel, ajarin Dyra berenang,” pinta anak itu.


“Kamu belajar sama Dyta,” kata Farel dengan santai.


“Nggak mau!”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Aku nggak suka kak Dyta, dia sombong,” kata Dyra membuat Farel menahan tawanya. Sementara Dyta sudah asik berenang seorang diri.


“Dyta nggak mau main sama kita,” timpal Hasya lagi.


“Gimana mau main sama kalian, kalau kalian cuman main masak-masak sama boneka, tentu saja Dyta nggak suka,” sahut Tegar.


“Pak, panggil anak-anak semuanya. Waktunya makan!” panggil Kayla dari lantai atas.


“Baik bu!”


“Ayok anak-anak naik semuanya, waktunya makan. Sudah di tunggu sama mama Kayla,” kata satpam.


“Dyra mau berenang sama kak Farel,” kata Dyra.


“Entar lagi berenang nya, waktunya makan dulu,” kata satpam membuat Dyra mau tidak mau harus mau.


Hasya dan Dyra sudah berjalan lebih dulu.


“Nak Tegar Ayok naik, ajak neng Dyta sama Farel,” kata satpam.


“Iya pak.”


Mereka bertiga langsung naik untuk segera makan, terlebih dahulu baby sister mengganti pakaian ketiga anak itu.


Tegar sudah bisa memakai Pakainya sendiri dan juga Farel, smenetara Dyta masih di bantu.


Kelima anak itu langsung duduk di kursi. Kayla dan Rara memberikan anak-anak mereka makanan diatas piringnya.


Mereka semua makan dalam keadaan hening, sampai Frezan angkat bicara. “Rel, besok lusa bang Nathan udah ada di Jakarta,” kata Frezan membuat pergerakan tangan Farel terhenti.


“Jadi, nggak lama lagi Farel pergi dari sini,” lesuh anak itu.


Sementara Elga yang mendengar perkataan Frezan tadi tersenyum simpul, akhirnya Nathan sudah akan pulang.


Kebetulan kursi Rara berdekatan dengan kursi Farel, dia mengusap punggung anak itu sembari tersenyum. “Kalau kamu mau main di sini boleh aja, nginap juga boleh. Rumah ini terbuka lebar untuk Farel,” kata Rara sehingga Farel melirik Rara.


“Iya mbak, tapi Farel kasihan sama bang Nathan. Kalau Farel tinggal di sini nggak ada yang nemenin bang Nathan,” kata anak itu.


Rara kembali tersenyum. “Setiap kak Nathan mau berangkat kerja ke rumah sakit, kamu suruh kak Nathan antar kamu kesini,” kata Rara.


“Tapi Farel kan sekolah mbak,” kata anak itu membuat Rara terdiam. Dia lupa jika iparnya itu sekolah.


“Yaudah, biar Dyra aja kerumah kak Farel,” sahut Dyra.


Uhuk….Uhuk

__ADS_1


Elga langsung tersedak makananya, saat anaknya itu berbicara.


“Sudah-sudah. Kita makan dulu,” kata Frezan agar mereka tidak bicara lagi di meja makan.


Dyta sudah selesai makan. “Loh Dyta, makananya kok nggak di habisin sayang,” kata Rara melihat makanan di piring Dyta masih ada.


Kayla melirik piring Dyta. “Dyta, makananya kok nggak di habisin,” kata Kayla.


“Dyta udah kenyang, Mah,” kata anak itu lalu turun dari kursinya dengan hati-hati meninggalkan meja makan.


“Mah,” panggil Dyra.


“Dyra minta tambah nasi sama ayang goreng,” kata Dyra sembari mengunyah makananya, berbeda dengan Dyra. Dyra lebih suka makanan sehingga pipihnya menjadi gembul.


“Iya,” kata Kayla lalu mengambilkan Dyra makanan.


Mereka semua makan kembali.


Selesai makan, mereka meninggalkan meja makan dan Art yang membersihkan meja makan.


“Bang Eza,” panggil Farel kepada Frezan yang sedang duduk santai di depan televisi.


“Sini duduk,” kata Frezan.


“Mau ngomong apa?” Lanjut Frezan.


“Mami Reta nggak pernah nelfon bang Eza?” Tanya anak itu membuat raut wajah Frezan tidak enak di pandang.


“Nggak usah nyari mami kamu itu. Kamu nggak tau dia lebih mentingin suami barunya ketimbang kamu,” kesal Frezan.


“Farel rindu sama Mamih,” kata anak itu dengan nada lesuh membuat Frezan menarik nafasnya panjang.


“Jangan ingat mamih kamu lagi. Kamu harus lupakan dia. Dia udah bahagia sama keluarga barunya,” hasut Frezan.


“Masih ada Abang sama Abang Nathan yang ada buat kamu,” kata Frezan. Dia tau adiknya ini kekurang kasih sayang, terlebih lagi papihnya Alex sudah meninggal dan maminya Reta meninggalkan dirinya. Membuat Frezan semakin kesal pada Reta.


Farel hanya mengangguk mengiyakan perkataan Frezan,” kamu harus lupa mami Reta, kamu nggak ingat dia ninggalin kamu,” kata Frezan lagi.


Dia berbincang-bincang dengan Farel, lalu kemudian Farel pamit untuk ke kamar pribadinya yang di berikan oleh Frezan jika adiknya itu tinggal di sini.


Rara yang mendengar semua percakapan Farel dan Frezan langsung menghampiri Frezan.


“Nggak baik ngajarin anak kecil kayak gitu,” kata Rara dengan lembut lalu duduk di dekat Frezan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


“Aku nggak suka Reta,” kata Frezan. “Dia udah ninggalin papah dalam keadaan sakit, bahkan saat meninggal dia tidak datang,” kata Frezan tersenyum sinis.

__ADS_1


“Tapi gimanapum Farel tetap anaknya, nggak seharusnya kamu bilang kayak gitu ke Farel,” kata Rara dengan lembut.


“Biarin aja Ra,” kata Frezan final dan Rara tidak membalas perkataan suaminya lagi.


__ADS_2