Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Sakit yang mendalam


__ADS_3

Sinar matahari menerobos masuk kedalam celah kamar seorang wanita cantik bernama Valen. Dia membuka matanya secara perlahan-lahan karna silau matahari yang memaksanya untuk membuka matanya.


Dia melirik kearah sampingnya, namun dia tidak melihat Rifal. Dia melirik jam dinding sudah pukul delapan pagi. Apakah Rifal telah berangkat kerja? Tapi 'kan setidaknya dia pamit dulu kepadanya. Apa lagi mereka berdua sudah ingin membenahi hubungannya.


Dia menyibakkan selimutnya untuk segera mencuci wajahnya. Sebelum kakinya sampai dilantai, terlebih dulu handponenya bergerak menandakan adanya pesan masuk.


Valen mengambil handponenya diatas nakas, dia penasaran siapa yang mengirimkannya pesan, atau hanya pesan Telkomsel saja.


Deg .....


Valen langsung terdiam, seakan-akan atmosfer didalam kamarnya langsung lenyap begitu saja saat melihat foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dia kenal.


"Fal," lirih Valen masih melihat foto yang dikirimkan oleh nomor asing tersebut, terlihat suaminya, Rifal sedang menemani Adelia tidur dengan menggenggam tangan Adelia. Meski Rifal tidur dikursi dengan menyandarkan kepala nya dibansal tetap saja Valen merasakan sakit.


Apa lagi Rifal baru semalam mengucapakan kata cinta kepada dirinya.


"Gue kira lo udah berangkat kerja, tapi pikiran gue salah. Ternyata lo masih peduli dengan, Adel," lirih Valen.


Dia menghapus air matanya kasar, bagaimana dengan Rifal tidak pamit kepadanya.


"Apa yang lo ucapin semalam, cuman bulshit, Fal," menolognya lagi kepada dirinya sendiri.


Gue nggak boleh terlalu berharap, gue nggak mau sampai sakit hati berkepanjangan.


Valen masuk kedalam kamar mandi, untuk segera kerumah sakit tempat dia bekerja. Setelah tiga puluh menit mandi, dan juga ber-make up didepan cermin akhirnya dia selesei juga.


Tak lupa pula dia mengenakan jas kebanggaannya sendri.


Valen langsung menutup pintu utama, karna taxi yang dipesan telah sampai didepan gerbang rumah miliknya.


Supir taxi tersebut langsung melajukan mobilnya untuk segera kerumah sakit mengantar Valen. Setelah sepuluh menit Valen telah sampai dirumah sakit.


Dia turun dari taxi, dia tersenyum masam saat melihat mobil milik suaminya sedang terparkir rapih diparkiran untuk orang yang tinggi seperti dirinya.


Valen semakin yakin, jika Rifal memang ada dirumah sakit diruangan Adelia. Setidaknya Rifal pamit terlebih dahulu kepada dirinya sebelum pergi.


Valen tidak tau, sejak kapan Rifal dirumah sakit. Padahal semalam dia masih ingat, dia sedang tidur bersama dengan Rifal.

__ADS_1


"Nathan!"


Seketika langkah kaki Nathan terhenti, dia baru saja keluar dari ruangan pasien yang telah dia periksa. Dia melihat kearah belakang, dia melihat sosok Valen sedang mengahampirnya. Dia tidak salah dengarkan, jika Valen telah memanggilnya.


"Gue minta maaf, soal semalam," kata Valen kepada Nathan.


"Nggak masalah, karna ini juga salah gue," kata Nathan dan dibalas gelengan kepala oleh Valen, tanda dia tidak setuju.


Nathan sampai tersentak kaget, saat Valen memegang pergelangan tangannya untuk segera pergi. Dia masih terdiam melihat tangan Valen masih memegang pergelangan tangannya.


"Gue obatin, luka dibibir lo, Nath," kata Valen sebagai bentuk permintaan maafnya kepada Nathan atas kejadian semalam. Dia sampai lupa pamit kepada Nathan.


Padahal Nathan sudah memenuhi keinginannya, untuk makan dipinggir jalan.


Saat ini, Valen tengah berada di taman rumah sakit, banya pasien yang mengenakan kursi roda berada ditaman.


Valen mengeluarkan kotok p3k dari dalam tasnya. Guna membersihkan luka Nathan.


Valen menggelengkan kepalanya, kentara jika Nathan belum diobati dari semalam. Bisa saja infeksi karna tidak dibersihkan. Dia seorang dokter, tapi dia juga lupa mengobati dirinya sendiri.


"Seharusnya lo bersihin luka lo, Nath. Kalau lo sakit lo bakalan nggak bakalan kerumah sakit nyembunyiin orang banyak karna lo sakit," kata Valen sembari membersihkan luka Nathan saat ini.


Tante Valen bisa gantiin Mamih Reta, dia cantik dan baik kayak, Mamih.


Perkataan Farel semalam tiba-tiba terlintas dalam pikiran Nathan saat melihat Valen.


Farel mau, kalau Tante Valen jadi Mamih sambungnya Farel.


Perkataan Farel sungguh mengusik pikiranya saat ini.


"Udah," kata Valen setelah selesai mengobati luka yang diciptakan oleh Rifal semalam. Valen kembali memasukkan kotak p3k mininya kedalam tas miliknya.


"Makasih," kata Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


"Kita bakalan keuangan Adel, sepuluh menit lagi," kata Nathan mengecek jam dipergelangan tangannya.


Valen mengangguk kecil, dia melihat kearah depan bersama dengan Nathan. Mereka berdua duduk dikursi kayu yang panjang.

__ADS_1


Deg


Tanpa sengaja ekor mata Valen melihat seseorang mendorong kursi rodah mengelilingi pancuran air. Valen tidak salah lihat lagi, jika yang dia lihat adalah suaminya sendiri. Dengan Adel berada dikursi roda.


Mungkin Valen saja yang melihat semuanya, dia melihat senyuman dari bibir Adelia saat Rifal memberikannya bunga-bunga yang berada ditaman.


Valen sempat melihat Rifal adu mulut dengan penjaga taman, karna dia telah mencabut bunga yang telah dirawat. Padahal distu telah tertulis dilarang mengambil bunga apapun.


Valen mengalihkan pandangannya, saat Rifal berdiri didepan kursi roda milik Adelia lalu duduk memberikan bunga kepada Adelia. Guna mensejajarkan tingginya dengan Adelia yang mengenakan kursi roda.


Valen berbohong jika mengatakan dia tidak cemburu. Lantas apa yang semalam Rifal katakan kepadanya? Dia mengatakan cinta seperti orang seriussssssss saja.


"Gue langsung keruangan Adelia," kata Valen beranjak dari kursi yang dia duduki. Nathan sempat melirik Valen karna suara gadis itu berubah menjadi bergetar.


Nathan memperhatikan kedepannya, siapa tau saja Valen telah melihat sesuatu yang membuatnya berubah. Tapi Nathan tidak melihat yang aneh-aneh.


Jujur saja, pandangan Nathan memang tadi fokus kedepan, tapi pikirannya berkelana kepada perkataan Farel, adiknya itu.


Sementara Rifal telah mendorong kursi roda milik Adelia pergi dari taman rumah sakit, sehingga Nathan tidak melihat semuanya.


Rifal juga beranjak dari kursinya, untuk menyusul Valen keruangan Adelia.


Valen menyandarkan tubuhnya didinding kamar mandi, dia baru saja mual secara mendadak. Dia mengambil tisu dari dalam tasnya lalu keluar dari kamar mandi untuk segera keruangan Adelia.


Ceklek


Valen langsung membuka handel pintu ruangan Adelia, dia menghembuskan nafasnya berat. Karna belum melihat Adelia, itu berarti mereka berdua belum juga kembali dari taman tadi.


Valen langsung melihat pintu kamar mandi yang telah dibuka oleh seorang perempuan yang sudah satu kali bertemu dengannya.


Dia tersenyum sinis kearah Valen, lalu duduk disofa. Nathan masuk kedalam ruangan Adelia lalu menutup pintu ruangan Adelia, dia sudah melihat Valen didalam.


"Adelia mana?" tanya Nathan kepada Valen.


Ceklek


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Adelia dibuka oleh Rifal. Tentu saja Rifal terkejut melihat wajah Valen yang berada diruangan Adelia.

__ADS_1


Dia masih setia bersama dengan Adelia. Dia lupa akan satu hal, jika mulai saat ini yang memantau kondisi Adelia adalah Valen dan Rifal.


"Valen," beo Rifal.


__ADS_2