
Saat ini Lea mengikuti dokter Nathan memasuki ruangan pasien. Kamar pasien yang di masuki oleh Lea bukan kamar VIP ataupun kamar VVIP.
Karna di dalam ruangan ini, terdapat tiga pasien di dalamnya yang hanya di batasi dengan gorden.
Tapi tetap nyaman dan bersih.
Nathan menyodori Lea masker, sebelum mendekati pasien. Dan satu orang perawat di rumah sakit ini ikut bersama Nathan dan juga lea.
“Ambil,” desah Dokter Nathan karna Lea tak kunjung mengambil masker yang dia berikan.
Perawat yang melihat Lea hanya menggelengkan kepalanya karna gadis itu sangat lalot.
Lea cenggengesan. “Makasih dok.”
Nathan mengangguk kecil seraya memakai maskernya. “Lain kali, kalau masuk ruangan pasien baik kamar VVIP, VIP dan kamar umum. Kamu mesti pakai masker.” Nathan mengingatkan Lea.
“Kita tidak tau, kapan penyakit itu menular kalau kita tidak menggunakan masker,” lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
“Kayak cinta Lea ke dokter Nathan, udah menular ke hati dokter Nathan,” celetuk gadis seraya memakai maskernya.
Dokter Nathan hanya mengabaikan perkataan Lea lalu berjalan lebih dulu ke bansal pasien.
“Ayok!” ajak perawat itu dengan ramah kepada Lea untuk segera mengikut dokter Nathan.
“Iya,” balas Lea dengan senyumannya yang memikat.
Nathan mulai menanyakan kondisi pasien di kamar umum secara bergantian.
“Kamu perhatikan dokter Nathan, ya, nanti dokter Nathan akan tanya-tanya sama kamu kalau sudah pulang dari sini,” bisik perawat itu kepada Lea.
Lea mengangguk mengerti.
Sebagai Perawat, tentunya dia pernah melewati ini. Namun mahasiswa perawat yang dia temukan ini berbeda. Karna dokter yang langsung mengajarinya.
Ting….
Ponsel Lea bergetar menbuat gadis itu langsung mengambil ponselnya. Sementara Nathan melihat Lea sibuk dengan ponselnya.
“Lea, besok saya sudah kembali ke ke Jakarta bersama kedua orang tua Rifal.”
Ting
Pesan kembali masuk…
“Rifal akan di bawa ke rumah sakit Jakarta untuk di rawat. Karna sudah hampir dua minggu ini, Valen belum juga di temukan.”
Lea membaca pesan Nando merasa sesak. Bagaiamana tidak, jika sampai saat ini Valen belum juga di temukan.
__ADS_1
Perawat di sebelah Lea, menyenggol lengan Lea agar gadis itu menyimpan ponselnya. Dapat Nathan lihat dari ekor matanya, jika Lea asik memainkan ponselnya.
Lea tersadar dari senggolan pelan dari perawat di sebelahnya langsung menyimpan ponselnya.
***
Nando, Aska dan Rina sudah kembali ke jakarta. Mobil yang menjemput mereka langsung melaju kerumah sakit Medika, tempat Nathan bekerja sebagai dokter.
Sudah hampir dua minggu, Rifal belum juga sadarkan diri membuat Rina menjadi gampang letih dan kecapean.
Saat di rumah sakit Bali, Rina sempat di rawat karna kepalanya sangat pusing.
Apa lagi keberadaan Valen belum juga di temukan.
“Semogah Rifal cepat sadar.” Aska menggenggam tangan Rina dengan lembut. “Anak kita kuat, pasti bisa melewati ini semua.”
Rina tidak membalas perkataan Aska lagi, dia sibuk dengan pikiranya saat ini. Koyo selalu menempel di kepala Rina, karna wanita itu setiap saat pusing.
Tidak butuh waktu lama, mobil mereka memasuki rumah sakit medika. Para perawat dan tim dokter yang sudah menunggu kedatangan Rifal langsung menghampiri di mobil ambulance.
Perawat langsung mendorong bansal milik Rifal masuk kedalam rumah sakit. Di ikuti oleh Rina dan juga Aska.
Nathan juga hadir menjemput Rifal bersama dengan Lea. Mobil kedua masuk dan turunlah sosok Nando mengenakan baju kaos serta celana sampai lutut dan hanya menggunakan sandal jepit.
Lea bertatapan dengan Lea. Lea langsung menghampiri Nando lalu memeluk pria itu. Isakan kecil keluar dari mulut Lea yang masih memeluk Nando.
“Gimana nasib dokter Valen, dan Baby R…”
Lea menangis dalam pelukan Nando. Nando membalas pelukan Lea lalu mengusap punggungnya.
Wajah tampan milik Nando sangat lelah hari ini, seperti pria yang tidak bersemangat untuk menjalani hari-harinya.
“Tim yang mencari Valen sudah mencari Valen sebaik mungkin di pantai Bali. Tapi…mereka semua tidak menemukan Valen hingga detik ini juga,” hembus Nando membuat Lea melepaskan pelukanya lalu mendongakkan kepalanya menatap Nando.
Nando mengusap air mata Lea, membuat Nathan yang sedari tadi melihat mereka langsung mengalihkan pandanganya saat melihat Nando menguap air mata Lea.
“Dokter Valen nggak ketemu, bakalan membuat om Rifal semakin sakit…” lirih Lea kepada Nando.
Huft
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Nando.
“Hilangnya Valen. Akan membuat orang terdekat mereka akan kehilangan, termasuk suaminya, Rifal.”
Lea kembali memeluk Nando dengan isakan yang sudah tidak sekecil tadi.
“Ayok, ada pasien baru yang harus kita tangani,” ajak Zul kepada Nathan.
__ADS_1
Mungkin saja dia paham sehingga dia langsung memanggil Nathan.
Nathan mengangguk lalu berjalan beriringan dengan dokter Zul.
“Lea…”
Lea kembali melepaskan pelukanya lalu menatap wajah lelah Nando saat ini. Wajah yang selama ini tengil berubah menjadi senduh.
Lea masih menunggu kelanjutan perkataan Nando.
“Kamu praktek?” Nando bertanya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya.
“Iya,” jawabnya.
“Jam istirahat nanti, temui saya di roftop rumah sakit,” ujar Nando.
“Untuk apa?” tanyanya.
“Ada yang ingin ku katakan dan ingin ku berikan.”
“Kamu istirahat jam berapa?” lanjut Nando kepada gadis di hadapanya.
“Jam 12:30,” jawab Lea.
“Saya tunggu di roftop jam 12:00. Jangan lupa datang.”
***
Kayla sedari tadi merenung dalam kamarnya. Kedua anaknya bermain di taman bermain. Dia mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Bisa di katakan usia kandungannya beda tipis dengan usia kandungan Valen.
Untung saja Kayla wanita kuat, sehingga cobaan yang datang bertubi-tubi tidak membuatnya jatuh sakit hingga di inpus seperti Rara.
Kabar meninggalnya Daniel sangat mengejutkan mereka semua. Meninggalnya Daniel membuat mereka harus ikhlas jika Elgara akan mendekam di penjara selama 13 tahun lamanya.
Dan kabar mengejutkan datang padanya lagi, yaitu sahabatnya hilang di pantai Bali saat liburan.
Kayla masih mengingat senyuman Valen di restoran Bali yang sangat bahagia bersama suaminya.
Apa mungkin senyuman terakhir yang mereka lihat. Kayla selalu mencari tau mengenai Valen melalui Aska dan Rina.
Mereka mengatakan jika Valen saat ini belum juga di temukan sehingga mereka memutuskan untuk pulang ke Jakarta membawa Rifal untuk di rawat dirumah sakit Jakarta. Karna pria itu belum juga sadar saat sejak saat pertama kali dia di temukan di pantai.
“Kembali, Len, cukup Tasya yang pergi ninggalin gue sama Rara, lo jangan sampai pergi, ya. Siapa yang nguatin gue kalau lo nggak ada di sini.” Air mata turun di pipihnya.
Ujian ini sangatlah berat. Sampai Kayla tidak tau, Kebahagian apa yang di siapkan Tuhan untuknya.
__ADS_1