
Frezan menghentikan langkah kakinya. Perkataan Nathan mampu membuatnya berpikir panjang.
''Cara penyampaian ku memang terkesan bertele-tele!'' kata Nathan beranjak dari kursi sofa yang dia duduki.
''Apa maksud mu?'' Tanya Frezan menghampiri adiknya itu.
Wajah Frezan tersirat kebingungan. Adiknya sangat bertele-tele.
''Sudah ku katakan barusan, jika Daniel tangan kanan mu di kantor mempunyai satu anak. Kalau tidak salah, anaknya itu seumuran dengan adik kita, Farel.'' Nathan menjelaskan panjang kali lebar.
Perkataan Nathan sukses membuatnya terdiam. Otaknya berpikir saat ini.
‘’Bagaiamana kau bisa tau?'' Tanya Frezan dengan tidak sabaran kepada adiknya itu.
''Kalau kau tidak percaya, kerumah sakitlah. Dan lihat anak Daniel di sana. Wajah mereka sangat mirip,'' yakin Nathan.
''Bisa saja itu anak pembantunya.'' Sanggah Frezan membuat Nathan menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. ‘’Daniel pernah bilang, kalau dia tidak mempunyai anak bersama almarhum istrinya!''
Nathan tertawa kecil. ''Adikmu ini, sudah berbicara kepada anak Daniel. Dia bukan anak pembantu yang bekerja di rumah Daniel. Pagi, siang, malam dia menangis karna Daniel belum Sadar.''
''Kita kesana sekarang.'' Ajak Frezan dengan rasa penasaran yang tinggi.
Otaknya kini di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan. Mengapa Daniel menyembunyikan ini padanya? Bahkan dia baru tau sekarang jika Daniel mempunyai anak setelah beberapa bulan pria itu tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Daniel pernah berkata padanya, jika dia tidak mempunyai anak bersama dengan almarhum istrinya. Namun sekarang, dia mendapatkan kabar jika selama ini Daniel mempunyai anak, dan kata Nathan tadi. Usianya hampir sama dengan anak adiknya, Farel.
‘’Oh tidak bisa!'' Tolak Nathan membuat Frezan menatap adiknya itu tajam.
Nathan yang mendapatkan tatapan tajam dari Frezan tertawa kecil. ''Adikmu ini sangat letih, malam ini mau istirahat dulu,'' ujar Nathan memegang jari-jari tanganya dengan ekspresi wajah letih.
Dia memang letih, tapi dia sangat menonjolkan sekali keletihannya ini kepada Frezan.
‘’Besok saja kita kesana,'' lanjut Nathan.
''Apa kau serius dengan ucapan mu?'' Tanya Frezan memastikan kembali. Dia tidak mau, jika adiknya itu menipu dirinya.
‘’Perktaan yang mana lagi yang tidak kau percayai?'' Tanya balik Nathan menaik nurunkan alisnya membuat Frezan kembali menatapnya tajam.
__ADS_1
''Awas saja kau main-main!'' ancam Frezan lalu pergi meninggalkan Nathan di ruangan tamu.
‘’Panggil Farel, adikmu singgah ini hanya untuk menjemput adik kita, Farel!'' teriak Nathan kepada Frezan yang sudah menaiki anak tangga.
Langkah kaki Frezan terhenti, lalu membalikkan tubuhnya menatap Nathan yang terseyum kearahhnya.
‘’Farel sudah tidur, kau pulang duluan saja.'' Balas Frezan kembali melanjutkan langkah kakinya.
''Yasudah,'' gumam Nathan seraya melihat punggung kokoh Frezan yang sudah memasuki kamar miliknya.
Nathan melihat jam di dinding ruangan tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah hampir larut, membuat Nathan beranjak dari ruangan tamu untuk segera menuju apartemen miliknya.
Padahal, dia singgah di rumah Frezan untuk menjemput Farel dan menyampaikan berita ini. Namun, dia tidak bisa membawa Farel pulang apartemen karna sudah larut.
Nathan memasuki mobilnya untuk segera pulang ke apartemen seorang diri.
Dari balkon kamar, Farel melihat mobil Nathan meninggalkan rumah mewah Frezan. Sudah jam 11 malam, namun Farel belum juga tidur.
Orang di rumah mengira jika Farel sudah tidur, padahal anak kecil itu sedang berpikir keras. Dia masih ingin di sini untuk berbicara kepada Frezan.
Farel masuk kedalam kamarnya, angin malam tidak baik untuk tubunya. Apa lagi dia masih kecil.
***
Sudah pukul 12 malam, Novi dan Lea masih berada di rumah Rifal dengan kedua orang tuannya yang masih memikirkan menantu, anak dan calon cucu mereka.
Rina masih terus-menerus menangis. Dan beberapa kali Pingsan. Dia berharap jika berita ini hanyalah mimpi.
Namun berulang kali dia menyakiti dirinya, rasanya sakit. Menandakan berita ini memang benar-benar.
Malam semakin larut, mengharuskan Novi dan Lea pamit pulang karna kedua anaknya menunggu dirinya di rumah.
Dia hanya bisa membantu lewat doa, Semogah saja Rifal dan Valen segera ketemu dengan kondisi baik-baik saja, serta kandungan Valen baik-baik saja.
Apa lagi mereka pergi liburan bukan hanya berdua, dia membawa anak mereka yang masih berada dalam perut Valen.
Novi kasihan kepada Rina, dia tau bagaimana sakitnya saat berita ini tersampaikan padanya. Dia yang sudah bahagia akan menimang cucu, setelah sekian lamanya Rifal dan Valen menikah.
__ADS_1
Saat ini, Aska sedang menenangkan Rina di dalam Kamar.
''Kita ke Bali!'' tekad Rina dengan isakan tangisnya yang ingin ke Bali malam ini juga.
Aska tentu saja tidak menuruti permintaan Rina, dia menunggu sampai pagi hari tiba baru dia terbang ke Bali.
Dari Jakarta ke Bali, bukanlah waktu tempuh yang singkat yang mengharuskan mereka harus membenderai mobil pribadi.
‘’Tidak lama lagi pagi, Rina. Besok kita akan ke Bali. Tenangkan dirimu,'' balas Aska karna Rina sangat nekad ingin ke Bali.
''Hiks...hiks.. anak kita, Aska. Anak kita sedang tidak baik-baik saja!'' tangis Rina membuat Aska memeluk istrinya dengan erat.
Saat ini mereka berdua berpelukan diatas tempat tidur, dengan Rina masih setia dengan isak tangisnya.
‘’Menantu kita Valen, cucu kita. Mereka semua tidak baik-baik saja hiks!'' Rina menangis dalam dekapan Aska membuat Aska bernafas berat.
Dia hanya bisa berdoa, agar anak dan menantunya segera ketemu. Dan Semogah saja anak dalam kandungan Valen baik-baik saja.
Aska sangat berharap mereka semua baik-baik. Dia tidak bisa berpikir, jika dia akan kembali kehilangan anaknya.
Cukup dia kehilangan Tegar saja. Kehilangan Tegar saja sakitnya belum sembuh sampai sekarang.
Sepertinya Rina sudah tertidur karna wanita itu sudah tidak bersuara lagi menyebut nama Rifal, Valen dan calon cucunya.
Meski isakan Rina masih terdengar piluh, namun wanita itu sudah tidur dalam keadaan menangis.
Aska mengambil ponselnya, untuk menghubungi rekannya yang terjun mencari anaknya di panta Bali.
''Bagaiamana? Apakah anak dan menantu saya sudah ketemu?'' Tanya Aska di seberang Telfon dengan penuh harap jika orang yang dia ajak bicara menjawab iya.
''Kami masih mencari anak dan menantu mu. Sampai sekarang kami belum menemukannya. Kami hanya mendapatkan baju wanita di tengah laut, sepertinya itu baju istri Rifal.''
Huft
Hembusan nafas gusar membuat Aska ingin berteriak kencang.
‘’Kabari saya Aryo, jika sudah menemukan anak dan menantu ku. Saya berharap mereka cepat ketemu dengan keadaan selamat, apa lagi menantuku sedang mengandung cucu pertama ku bersama Rina. Hal yang kami tunggu-tunggu sejak dulu,'' harap Aska membuat Aryo rekan Aska merasa sedih.
__ADS_1