
Valen langsung turun dibawah buthub, atas perintah Rifal.
Tok….Tok…Tok
Ketukan pintu membuat Valen langsung panik, dia langsung menatap Rifal yang berada di sebelahnya memejamkan matanya, tanpa terganggu dengan ketukan pintu tersebut.
“Ini bajunya saya simpan di atas sofa!” teriak Nando dari pintu.
Membuat Rifal berdecih, dia tau jika Nando sengaja mengganggu dirinya.
“Kalau lo kembali ketuk pintu, gue pastiin gaji lo bulan ini nggak lo ambil, Nan!” kesal Rifal membuat Nando didepan pintu tertawa keras.
“Ngancam mulu!” balas Nando langsung meninggalkan pintu kamar mandi, dia menyimpan baju Rifal diatas sofa lalu dia membaringkan tubuhnya diatas sofa.
Pagi ini dia tidak ke kantor, karna ingin istirahat sejenak, sebentar malam dia akan lembur lagi.
Nando memejamkan matanya lalu tertidur. Dia juga letih.
Bulu kuduk Valen meremang, saat tangan Rifal memegang pahanya, sementara dia hanya mengenakan celana segitiga saja dan juga menggunakan bra berwarna merah.
“Fal…”
“Kenapa?”
“Tangan kamu.”
“Tangan aku nakal yah, Va,” ejek Rifal sembari meraba paha mulus milik Valen, meski dia tidak melihat dia tau jika yang dia sentuh paha mulus milik Valen.
Valen memejamkan matanya saat tangan Rifal sudah naik ke atas dadanya, sentuhan yang diberikan oleh Rifal membuat Valen mabuk kepayang.
“Sayang sekali, aku tidak bisa melihat, andai saja aku bisa melihat aku tidak akan melewati momen ini, dengan melihat tubuh indahmu,” goda Rifal membuat Valen membuka matanya, perkataan Rifal sukses membuat Valen kembali tersipu malu.
Perkataan Rifal selalu saja sukses membuatnya salah tingkah sehingga membuat pipihnya merah merona.
“Kamu….Suka banget ngegombal!” kata Valen menghempaskan tangan Rifal dengan santai dari tubuhnya.
“Kalaupun aku nggak bisa lihat wajah kamu, tapi aku bisa pastikan kalau pipih kamu pasti merah seperti kepiting rebus,” ejek Rifal membuat Valen juga tertawa.
“Iyakan?”
__ADS_1
“Iya, kamu benar,” kata Valen berusaha meneterlkan detak jantungnya karna Rifal kembali merabah tubuhnya.
Seperti di beritahukan, Rifal tau jika Valen sangat dekat dengannya sehingga dia mencium bibir Valen dengan keadaannya tidak melihat apa-apa.
Valen terdiam sejenak, mendapatkan ciuman dari Rifal, lalu dia membalas ciuman Rifal sembari memejamkan matanya.
Valen sangat menikmati sentuhan yang diberikan oleh Rifal, setiap sentuhan yang diberikan oleh Rifal mampu membuatnya seperti melayang diatas awan.
Suara erotis keluar dari mulut Valen, membuat Rifal semakin bergairah. Dia memegang perut Valen dengan lembut karna di dalamnya ada anaknya.
Sudah tiga puluh menit, Valen dan Rifal menghabiskan waktunya di kamar mandi. Sementara Nando yang sudah bangun langsung memasang raut wajah kesal.
Bagaimana tidak, dia ingin mencuci muka namun pintu kamar mandi masih tertutup.
Pria itu berdiri didepan pintu kamar mandi, dia ingin mengetuk pintu kamar mandi.
Tok….Tok….Tok
Rifal langsung melepaskan ciumannya dari Valen karna kesal dengan suara ketukan pintu tersebut. Dia yakin, jika dia yang mengetuk pintu kamar mandi adalah Nando. Siapa lagi jika bukan Nando.
“Kalian mandi atau bersemedi!” kesal Nando dibalik pintu.
Nando langsung meninggalkan pintu kamar mandi, cukup sudah dia membuat Rifal naik darah, jangan sampai pria itu benar-benar tidak memberikan gajinya bulan ini.
“Bercinta kok di kamar mandi, kayak nggak punya kamar aja,” ejek Nando sembari menuju sofa, perkataanya, hanya dia saja yang mendengarkannya.
Valen langsung keluar dari bathub, dia mengambil baju mandi.
“Fal, udah cukup mandinya. Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, entar kamu sakit,” kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Valen menuntun kembali Rifal, dia memakaikan Rifal baju mandi lalu membantu pria itu duduk di kursi roda.
Sebelum mendorong Rifal untuk keluar. Terlebih dahulu Valen memperbaiki baju mandinya karna di luar ada Nando.
“Kamu dorong kursi aku sampai depan pintu kamar mandi, entar aku suruh Nando dorong,” kata Rifal. “Lepas itu kamu kembali masuk kedalam kamar mandi, aku tidak mau milik ku di lihat orang,” ucap Rifal dengan tegas.
“Tapi kan, baju mandi yang aku kenakan nggak seksi,” kata Valen sembari melibat dirinya.
“Tapi dadah kamu terekspos!” Decih Rifal. Dia sangat tau baju mandi Valen memang panjang tapi bagian dada sangat jelas.
__ADS_1
Valen tersenyum,”iya-iya, aku nurut,” kata Valen lalu mendorong kursi Rifal.
Seperti apa yang dikatakan Rifal tadi, dia langsung memanggil Nando untuk mendorongnya.
Sementara Valen sudah masuk kembali kedalam kamar mandi, seorang perawat masuk ke kamar Rifal membawa makanan untuk Rifal lalu kemudian Rifal suruh perawat tersebut untuk membawakan baju Valen.
“Lo mau naga lain!” sewot Rifal saat tanganya di sentuh oleh Nando.
“Saya ingin memakaikan bos Rifal baju,” kata Nando dengan santai lalu mengambil baju Rifal diatas sofa.
“Nggak usah!” Rifal menolak mentah-Mentah niat baik Nando.
“Lah, kenapa?” Tanya Nando.
“Gue mau nunggu Valen, biar Valen yang memakaikan saya baju,” kata Rifal.
“Dasar manja!”
“Makanya lo cari istri, biar lo tau kebahagiaan yang sesungguhnya, udah nggak jaman gonta ganti pasangan tapi nggak nikah,” sindir Rifal membuat Nando menjadi kesal.
“Kalau saya sampai nikah, awas aja kado bos Rifal nggak mewah,” kata Nando lalu duduk diatas sofa, “ kalau bisa, kado bos Rifal saat saya nikah setidaknya rumah mewah sepeti rumah bos Rifal, heheh,” tawanya membuat Rifal hanya berdecih saja.
Andaikan dia bisa melihat, sudah sedari tadi dia menampoli wajah tengil Nando.
“Loh, kok kamu belum pakai baju?” Tanya Valen setelah keluar kamar mandi. Valen melihat Nando membuatnya canggung, karna Nando tadi mengetuk pintu kamar mandi membuatnya malu.
“Bayi besar nungguin kamu buat pakaikan baju,” tawa Nando pecah membuat wajah Rifal memerah, jika hanya adu mulut dengan Nando sudah pasti dia kalah, karna mulut Nando sangat lemes.
Dia suka adu bicara, namun mengapa saat ini dia merasa kalah saat Nando mengatakan bayi besar.
Valen juga ikutan tertawa, dia mengambil baju Rifal lalu memakaikan pria itu baju.
“Hmm,”dehem Rifal. Meski tenggorokannya tidak gatal sama sekali.
“Manja banget sih,biar celana minta di pasangan!” cibir Nando lalu beranjak dari sofa yang dia duduki setelah mendapatkan kode dari Rifal.
Valen berusaha menahan tawanya, agar Rifal tidak tersinggung, namun tentu saja Rifal jika Valen saat ini sedang menahan tawa.
Lagi dan lagi perkataan Nando membuat Rifal skakmat, Rifal telah berjanji pada dirinya, jika dia sudah bisa melihat dia akan memberikan pelajaran pada Nando karna membuatnya malu, apa lagi Disini ada Valen.
__ADS_1
“Tunggu apa lagi,” Seperinya Rifal kembali kemode pabrik, ketus berbicara namun terkesan lucu bagi Valen.