
Kayla melajukan mobilnya meninggalkan rumah milik Rara. Dia mengemudikan mobilnya dua jam setelah Elgara pergi untuk bekerja.
Mobil Kayla langsung terparkir didepan rumah milik Rifal. Dia turun dari mobil yang dia kendarai.
Tok....
Kayla mengetuk pintu rumah Rifal dengan tidak sabaran, karna bell disamping pintunya sedang tidak berfungsi sehingga Kayla harus mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Elgara yang sedang didapur langsung melihat kearah pintu. Siapa yang bertamu pagi begini? Rifal tidak mengadakan janji dirumahnya, lantas siapa yang mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
"Sebentar!" teriak Rifal lalu berjalan kearah pintu untuk membuka pintu.
Ceklek
Rifal membuka pintu utama dan sudah melihat Kayla yang memasang wajah yang tak enak untuk dipandang.
Plak
Satu tamparan mendarat dipipih milik Rifal, membuat pria itu memegang pipi sebelah kirinya.
"Itu tamparan buat lo yang seringkali buat sahabat gue, nangis!" tegas Kayla kepada Rifal.
Plak
Kali ini, Kayla menampar pipih kanan milik Rifal membuat pria itu langsung memegang pipinya.
"Itu tamparan buat lo, karna kesabaran sahabat gue lo anggap sebuah lelucon!" kata Kayla lagi penuh dengan emosi yang menggebu-gebu dalam dirinya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan oleh Rifal kepada sahabatnya, dia tidak tau, bagaimana jika dirinya berada di posisi Valen. Mungkin dia sudah kurus kering.
"Lo nggak tau apa-apa, jadi lo nggak usah ikut campur!" balas Rifal. Andai saja didepannya ini bukan seorang perempuan, mungkin saja dia sudah meninjunya.
Kayla tersenyum sinis kearah Rifal. "Lo lebih milih cewek lumpuh lo itu, ketimbang istri sah lo sendiri yang sedang hamil. Otak lo dimana hah!" raung Kayla membuat Rifal terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Kayla barusan.
"Seharusnya lo itu mikir, seharusnya lo jaga perasaan Kayla, dia sedang ngandung anak lo, sementara lo ngurusin cewek lumpuh lo itu!" Kayla menekan setiap perkataannya.
Dia sudah tidak tahan lagi, sahabatnya dilakukan seperti itu oleh Rifal.
"Kalau lo udah nggak bisa sama sahabat gue, ceraiin dia. Jangan lo sakiti sahabat gue!"
__ADS_1
"Kenapa lo nyakitin sahabat gue, Fal? Kenapa?" Kayla berkata-kata dengan senduh, dia turut merasakan kesedihan sahabatnya itu. Bertahun-tahun dia tidak mendapatkan kebahagiaan sama sekali!
"Karna gue nggak cinta sama sahabat, lo!"
"Kay!"
Seketika Kayla terdiam, saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Itu suara Valen.
Kayla membalikan badannya, dia sudah melihat Valen bersama dengan Nathan. Entahlah, sejak kapan mereka berdua disini.
Valen dan Kayla saling bertatapan, setiap perkataan yang keluar dari mulut Valen tadi tentu saja didengarkan dengan seksama oleh Kayla. Terutama perkataan Rifal yang begitu lantang mengatakan jika dia tidak mencintainya.
"Valen," menolog Kayla.
Valen melangkahkan kakinya berjalan kearah Rifal, sementara Rifal memalingkan wajahnya kearah samping.
Valen telah sampai didepan Rifal, dia melirik Kayla lalu mengangguk tanda dia baik-baik saja.
"Biarkan gue bicara sama Rifal," kata Valen dengan lirih, berusaha menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.
Kayla langsung memundurkan langkahnya, saat ini Kayla dan Nathan sedang berdiri berdampingan dengan jaraknya yang tidak terlalu dekat dengan Rifal dan Valen.
Rifal melihat kearah Valen, sehingga mereka berdua saling bertatapan, dengan mata Valen berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Valen dengan bibir bergetar, serta pelupuk matanya berlinang air.
"Kenapa kamu harus bilang cinta jika akhirnya kamu akan mengatakan kata tidak mencintai aku, Fal. Perkataan kamu semalam apa? Kamu pikir itu semua lelucon?"
Rifal masih terdiam, air mata Valen sudah membanjiri wajahnya. Rasanya sangat sakit saat mengingat perkataan manis Rifal semalam. Seakan-akan Valen ingin lupa ingatan saja agar tidak mengingat perkataan Rifal yang akan membuatnya hancur sendiri seperti sekarang ini.
"Jawab aku, Fal!"
Mata mereka berudua bertemu, mata yang membuat Valen semalam yakin jika pria dihadapannya ini benar-benar mencintainya dan ingin memulai semuanya dari awal.
Tapi apa? Ternyata dia salah, dia telah dibodohi oleh perkataan manis semalam Rifal.
Valen menghapus air matanya kasar. "Kata cinta bukan lelucon yang harus kamu permainkan, Fal," kata Valen lagi.
__ADS_1
Sementara Rifal belum juga mengeluarkan kata-katanya.
Rasanya dia sangat Dejavu, tiba-tiba saja mulutnya berkata seperti itu. Ini semua karna Kayla yang memancing emosinya.
Rifal langsung meninggalkan Valen tanpa berniat menjawab pertanyaan Valen tadi.
Sementara Valen semakin terisak melihat punggung Rifal. Valen mendonggakkan kepalanya. "Kalau anak ini lahir, aku mau kita cerai!"
Seperti disambar petir saja, jantung Rifal seperti sedang berhenti berdetak sesaat Valen mengucapakan kata barusan.
Valen terisak, sepertinya dia tidak bisa mendapatkan cinta suaminya itu. Sementara Rifal masih terdiam ditempatnya.
Dia juga capek, jika harus seperti ini secara terus-menerus. Dia ingin bahagia, dia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan tangisan saja.
Sementara Nathan tidak menyangka, jika Valen mengatakan kata barusan dengan begitu lantangnya.
Valen? Jangan tanyakan air matanya sedari tadi mengalir, dia tau dia sakit, namun sahabatnya lebih sakit lagi ketimbang dirinya.
"Buat apa kita bertahan jika hanya saling menyakiti?" kata Valen sembari terisak. Semua itu diucapkan dengan lantang didengarkan oleh seksama.
"Lebih baik kita akhiri saja, setelah anak ini lahir!"
Kayla tak kuasa menahan air matanya, anak sahabatnya akan lahir tanpa orang tua yang lengkap.
Rifal membalikan badannya sehingga dia bisa melihat Valen dengan berderai air mata. Rifal juga tidak menyangka, jika Valen akan mengatakan akan hal ini dengan lantang.
Ada rasa tidak terima, namun dia berusaha menerima semua ini. Dia ingin mengatakan tidak ingin pisah, namun perkataan Valen tadi yang begitu lantang membuatnya juga bertekad mengikuti kemauan Valen.
"Ok. Kalau itu mau kamu. Setelah anak itu lahir, kita akan pisah!" Rifal berkat dengan lantang laku melanjutkan langkahnya dengan dada yang bergemuruh.
Valen langsung terduduk, Nathan dengan Kayla dengan segera menghampiri Valen yang tengah terduduk dengan isakan.
"Masih ada yang lebih baik, dari Rifal, Va. Gue yakin, tuhan telah menyusun takdir yang lebih baik lagi untuk lo ketimbang ini," kata Kayla memeluk sahabatnya dengan erat.
Valen tidak menjawab perkataan Kayla, dia hanya memeluk sahabatnya itu disertai dengan isakan piluh. Sudah tidak ada lagi yang akan dipertahankan.
Jika anaknya lahir, mereka berdua akan berpisah.
__ADS_1
"Gue sakit, Kay. Gue nggak bisa bahagia. Selama ini gue sabar, tapi kesabaran gue selalu diuji," Isak Valen begitu pilu membuat Kayla juga terisak melihat kondisi Valen.
Gue pastikan, lo bakalan nyesel udah nyia-nyiain perempuan seperti, Valen. Batin Nathan.