
Gundukan tanah di hadapan mereka telah di taburi bunga berwarna merah, putih dan juga bunga berwarna pink.
Batu nisan sudah tertuliskan nama DANIEL
Frezan mengambil botol berisi air, lalu menyiram gundukan tanah di hadapanya.
Rara dan Kayla sempat hadir, namun mereka pulang duluan karna Kayla tiba-tiba sakit dan jatuh pingsan.
Mungkin saja, dia belum menerima situasi ini.
Anak kecil dalam pelukan Lea sedari tadi meraung untuk membuka bongkahan tanah di hadapanya.
“Kenapa papah Agrif di tutupin pake tanah!” berontak anak itu dengan tangisnya.
“Kalian semua jahat. Om dokter jahat!”
“Om dokter bohong sama Agrif!” tangis Agrif seraya menatap Nathan yang memakai kacamata hitam.
“Om dokter bilang, papah akan bangun!” Anak itu menangis dalam pelukan Lea, menatap Nathan dengan tatapan marah.
Lea mencium puncuk kepala Agrif. Anak kecil dalam dekapanya saat ini meronta menangis.
“Kakak cantik, bangunin papah. Nggak Lama lagi Agrif terima rapor!” tangis anak itu menatap wajah Lea.
“Papah kamu udah tenang di alam sana. Urusan rapor kamu di sekolah, bukan urusan papah kamu lagi, sayang.” ucap Lea dengan lembut.
“Yang tanggung jawab ambilin rapor Agrif siapa, kakak cantik?”
“Papah udah nggak ada. Siapa yang ke sekolah Agrif ambilin rapor Agrif!”
Lea terdiam.
Siapa yang akan tanggung jawab mengganti posisi Daniel?
“Kakak cantik. Bangunin papah. Papah Agrif masih hidup. Jangan di tutup pakai tanah!” tunjuk anak itu dengan gundukan tanah di hadapan mereka.
“Bangunin papah. Hiks….!”
Agrif semakin tidak terkendali. Tentu saja Lea kewalahan apa lagi tubuhnya belum vit, karna dari semalam dia tidak bisa tidur saat Nathan sudah meninggalkanya di dalam kamar Daniel.
Nathan yang melihat Lea kewalahan menangani Agrif, langsung berjalan menuju Lea.
“Berikan Agrif,” ucap Nathan.
__ADS_1
Lea langsung memberikan Agrif kepada Nathan, yang tenaganya jauh ketimbang dirinya.
“Lea. Wajahmu sangat pucat, apa kamu sakit?” tanya Nathan berusaha menangkan Agrif dalam gendonganya.
Lea menggelengkan kepalnya. “Lea banyak pikiran, dok,” gadis itu menjawab dengan jujur.
Karna apa yang dia katakan memang benar, jika saat ini dia sangat pusing dan mempunyai banyak pikiran.
Pikiranya terbagi-bagi
Dia memikirkan Valen yang tak kunjung di temukan, dan Rifal yang belum sadar hingga saat ini.
Pikirnya juga di kuasai oleh nama Agrif. Siapa yang akan bersama anak itu? Jika suatu saat Lea pamit apakah anak itu tidak menagis? Apakah anak itu tidak menangis dan tidak menyuruh orang untuk mencari keberadaannya.
Dan pikiran Lea juga mengarah pada kuliahnya, sisa satu minggu lebih dia akan praktek di rumah sakit tempat Nathan dan Valen bekerja.
Padahal. Dia meminta praktek di sana karna adanya Agrif dan juga Daniel yang harus dia jaga. Tapi takdir berkata lain, Daniel sudah lebih dulu pergi sebelum gadis itu turun praktek di rumah sakit.
Apa ada alasan lagi untuk tetap nekad praktek di rumah sakit di sana? Jawabanya tentu saja tidak.
Karna Lea mulai ingin melepaskan Nathan secara perlahan-lahan. Andai saja dia masih ingin mengejar cinta Nathan, mungkin saja gadis itu mempunyai alasan untuk praktek di sana. Meskipun Daniel sudah tidak ada.
Jam sembilan pagi, Daniel di makamkan di TPU di Jakarta.
Gadis itu keseringan berkhayal semenjak adanya berita Valen, dan di tambah lagi berita duka ini.
Lea melirik Nathan, lalu melirik Agrif yang sudah tertidur dalam gendongan Nathan.
Entah sejak kapan anak itu sudah tidur dalam gendongan Nathan.
Lea melihat sekelilingnya, ternyata tinggal dirinya, Nathan dan juga Agrif di sini.
Berapa lama gadis itu berkhayal? Sehingga kepergian orang-orang meninggalkan makam tidak di dengar olehnya.
Lea melihat gundukan tanah di hadapanya. Dia menjongkokkan tubunya dan memegang batu nisan Daniel.
“Om…Lea nggak bisa janji bakalan ada setiap saat untuk Agrif, anak om. Karna kehidupan Lea bukan hanya menetap pada satu titik. Ada kuliah yang harus Lea selesaikan om. Tapi Lea janji…Bakalan ada untuk Agrif. Kapanpun dia butuh Lea.” Lea berkata dengan lirih, hanya dia saja yang mendengarkan apa yang dia katakan.
Jika logika mereka sampai, mereka akan mengerti dengan apa yang Lea katakan. Jika dia tidak bisa berjanji akan setiap saat untuk Agrif. Namun dia berjanji akan ada, jika Agrif membutuhkannya.
Angin berhembus kencang setelah Lea mengucapkan kata-kata tadi. Mungkin alam menolak perkataan Lea. Siapa yang akan mengurus anak sekecil Agrif?
Yah. Mereka tau jika Daniel meninggalkan banyak harta untuk persiapan masa depan anaknya, dan meninggalkan beberapa pembantu untuk menjaga Agrif.
__ADS_1
Tapi….ahk. Sangat sulit di jelaskan.
Nathan dan Lea mulai berjalan meninggalkan makam Daniel. Dia langsung masuk kedalam mobil Nathan lalu memangku Agrif.
Sepanjang perjalanan, Lea hanya Melamun. Apakah perlu mengatakan ini semua kepada Novi. Mamahnya?
Lea rasa itu tidak perlu. Karna mamahnya juga mempunyai banyak pekerjaan dan beban.
Tapi bagaimana dengan Agrif? Apakah Lea akan rela sepenuhnya jika Agrif di jaga oleh pembantu?
Agrif akan semakin kesepian!
Huft
Le menghembuskan nafas berat, Nathan melirik Lea.
“Jangan terlalu di pikir. Nanti kamu sakit.” Mata Nathan fokus menyetir.
“Apakah ini sebuah perhatian kecil dari dokter Nathan, untuk Lea?” ucapnya dengan senyuman tipis.
Nathan melirik Lea, namun tidak membalas perktataan gadis itu.
“Fokus dengan kuliah mu, tidak lama lagi kamu akan praktek di rumah sakit tempat saya bekerja.”
Lea memperhatikan Nathan. “Dari mana dokter Nathan tau? Padahal yang tau ini hanya Lea dan dokter Valen.”
“Valen sudah membicarakan hal ini dengan ku. Karna dia minta tolong, jika dia tidak bisa datang setiap hari kerumah sakit untuk mengajar mu, maka saya yang akan menggantikan posisinya jika dia tidak datang,” jelas Nathan dan di balas anggukan kecil oleh Lea.
“Mau singgah makan dulu?” tawar Nathan dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.
“Lea mau langsung kerumah, Lea belum balik kerumah dari pulang kuliah kemarin. Mamah pasti nyariin aku. Apa lagi hp Lea sedang lobet.” Lea menjelskan apa yang seharusnya dia katakan kepada Nathan.
“Biar Agrif kita antar ke rumahnya dulu, ada bibi pengasuh Agrif yang akan menjaga Agrif untuk saat ini. Lea mau istirahat dulu.”
Nathan hanya mengangguk. Lalu membelokkan mobilnya menuju rumah Daniel.
Mobil Nathan hanya singgah di depan gerbang rumah Daniel. Lea membuka pintu mobil menggendong Agrif.
Satpam datang lalu mengambil alih Agrif dari Lea.
Satpam sudah membawa Agrif.
Mata Agrif sedikit terbuka, sehingga matanya bertatapan dengan mata Lea yang masih menatapnya saat satpam sudah menggendong dirinya.
__ADS_1