
Pagi ini seharusnya Rara dan juga Frezan sudah berangkat ke Bali untuk liburan, namun sepertinya Tuhan belum mengizinkannya untuk menginjak tempat yang sangat dia dambakan.
Karna pagi ini dia mendapatkan berita jika Rifal kecelakaan dan sedang di rawat di rumah sakit. Tentu saja Rara memilih Rifal karna bagaiamana pun hubungan sang bunda Alvi dan papahnya Rifal, yaitu Aska sudah seperti saudara kandung. Jadi, Rara dan juga Rifal sudah seperti itu.
Tidak masalah bagi Rara untuk tidak liburan pada hari ini, mungkin saja waktu ini belum tepat karna sedang mendapatkan musibah.
“Kamu nggak apa-apa kan sayang?” Tanya Frezan sembari memeluk Rara dari belakang, karna wanita dua anak itu sedang memolesi bibirnya lipstik.
Rara tersenyum di depan pantulan cermin sembari menggelengkan kepalanya. “Nggak kok, mana mungkin juga aku liburan sementara Rifal yang sudah seperti saudara aku lagi masuk rumah sakit.”
Frezan membalikkan badan mungil istrinya. “Kalau Rifal udah baikan, kita langsung terbang ke Bali,” kata Frezan.
“Iya.”
Rara dan Frezan juga Elga dan Kayla sudah siap untuk kerumah sakit.
Elga sudah bersedekap dada dekat mobil menunggu kedatangan Frezan dan juga Rara. Tidak butuh waktu lama Rara dan Frezan berjalan kearah mereka.
“Bawa mobilnya!” Perintah Frezan melemparkan kunci mobil Elga, dan langsung di tangkap pria itu.
“Emangnya gue ini supir lo!” Kesal Elga, namun dia tetap duduk di bangku kemudi.
Sementara Rara dan Kayla duduk di belakang dengan Elga mengendarai mobil dan di sampingnya ada Frezan.
Andai saja mobilnya tidak rusak, dia tidak ingin nebeng bersama Frezan.
Elga menyalakan mesin mobilnya lalu mengemudikan mobilnya dengan sedang.
Beberapa menit berkendara akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit tempat Rifal di rawat.
Frezan dan Elga langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan di ekori istri mereka.
Sementara Kondisi Valen sudah baik-baik saja, meski batin dan pikirannya masih memikirkan kondisi Rifal yang belum jug sadar dari kemarin meski operasinya berjalan lancar.
Valen mengusap rambut milik Rifal.”Cepat sadar, Fal,” kata Valen dengan senduh disertai dengan senyumanya yang manis.
Nando keluar dari kamar mandi menggunakan baju kaos dan celana diatas lutut. Nando dan Lea yang semalaman menjaga Rifal karna kondisi Valen belum sepenuhnya pulih semalam.
Dari semalam juga, Nando dan Lea tidak mengobrol. Beberapa kali Nando mengajak ngobrol Lea namun gadis itu hanya menjawab sekenanya. Nando tau, jika pasti Lea marah karna telah menguping pembicaranya dengan Nathan.
__ADS_1
“Nggak istirahat dulu, Nan?” Tanya Valen kepada Nando yang duduk diatas sofa dengan diatas mejanya penuh dengan berkas. DNA tentunya itu semua berkas kantor yang dikerjakan Nando di sini.
“Entar aja, banyak pekerjaan yang ingin saya selesaikan,” kata Nando sembari cengengesan membuat Valen hanya tersenyum kecil.
Lea sudah lebih dulu pulang, karna pagi ini dia ada mata kuliah pagi.
“Apa Lea masih ngambek sama kamu?” Tanya Valen.
“Sepertinya,” jawab Nando sembari mengingat dari semalam dia dan Lea tidak aduh bicara yang menciptakan perdebatan panjang kali lebar. “Tapi saya mah bodoh amat,” lanjutnya sembari terkekeh, padahal hatinya perih karna Lea mendadak cuek kepadanya.
Valen tidak menanggapi perkataan Nando lagi.
Ceklek
Pintu ruangan tempat Rifal dibuka oleh Elga, Valen dan Nando langsung melihat kearah pintu.
“Gimana keadaan Rifal?” Tanya Elga dengan khawatir.
“Operasi berjalan dengan baik, tapi Rifal belum juga bangun,” kata Valen membuat mereka sedih.
Frezan melihat kondisi Rifal sejenak lepas itu dia ikut bergabung duduk bersama dengan Nando. Nando tersenyum kearah Frezan membuat Frezan membalas senyuman Nando seikhlasnya.
Valen menceritakan kronologinya bagaimana Rifal bisa kecelakaan, karna ada mobil yang sengaja ingin menabrak Rifal dan kebetulan juga Rifal tidak bisa mengendalikan laju mobilnya saking kencangnya.
“Polisi udah telusuri siapa dalang di balik semua ini?” Tanya Elga dingin.
“Sampai sekarang polisi belum kasi kabar,” balas Valen.
“Kalau gue tau orang itu sengaja ingin nyelakanin Rifal, gue bakalan habisin dia!” kata Elga dengan dingin membuat Kayla meneguk salivanya susah payah dan Rara mengusap punggung kembarannya itu. Dia tau jika saudaranya itu sedang emosi.
Drt….
Di tengah pekerjanya, Handpone milik Nando bergetar menandakan adanya Telfon masuk.
“Bagaiamna? Apakah pelakunya sudah di tangkap?” Tanya Nando di seberang Telfon dengan serius serta suara intimidasi.
Seseorang yang menelfonya adalah seorang polisi yang mencari siapa yang berniat mencelakai Rifal hingga seperti ini.
Nando sangat yakin, jika kecelkaaan ini di rencana kan seseorang untuk mencelakai Rifal.
__ADS_1
“Saya akan mencari tahunya sendiri!” ucap Nando dengan tegas lalu mematikan Handponenya.
Untung saja dia sudah mengambil cctv yang di simpan di lokasi tempat Rifal kecelakaan. Dia akan menyelidiki kasus ini setelah Rifal sadar.
“Gue bakalan bakalan bantu lo nyari siapa dalang semua ini!” Kata Elga sembari mengepalkan tangannya.
Nando menganggukkan kepalanya, karna dia sudah tau jika Elga itu sahabat Rifal. Sementara Frezan hanya diam saja ditempatnya sembari memikirkan tentang kecelakaan Rifal.
Siapa yang ingin mencelaki Rifal? Ada motif apa dia ingin mencelaki Rifal? Apakah dia mempunyai dendam pribadi kepada Rifal?
Sibuk dengan pikirannya hingga Frezan tersadar dengan kedatang Rara.
“Kamu lagi mikirin apa?”tanya Rara kepada Frezan.
“Nggak ada,” jawab Frezan disertai dengan senyuman hangat yang selalu dia berikan kepada istrinya.
Nando yang melihat senyuman tulus Frezan menyungkirkan senyuman tipis.
Jika kita bersama dengan orang yang kita cintai, sifat kita akan berubah seratus persen.
Frezan pamit sebentar kepada Rara karna ingin mengangkat Telfon.
“Ra,” panggil Valen kepada Rara. Saat ini mereka sedang di balkon tempat Rifal di rawat.
Sementara Kayla sedang berada di toilet Elga sibuk dengan pikirannya ingin segera mendapatkan pelaku yang ingin mencelaki sahabatnya yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Sementara Nando sibuk dengan pekerjaan kantor. Nando mengirimkan pesan kepada Amora namun wanita itu tak kunjung membalas pesanya.
“Seharusnya kamu kan udah berangkat ke Bali Ra pagi ini,” kata Valen.
Rara tersenyum kearah Valen. “Rifal lebih penting,” kata Rara membuat Valen tersenyum kearah sahabatnya itu.
Liburannya ke Bali tertunda karna adanya musibah ini, padahal Rara semalam sudah menyusun barangnya dan segala persiapanya untuk ke Bali.
Dia akan ke Bali liburan setelah Rifal sadar.
Dokter belum memberitahukan keadaan Rifal saat ini buta, hanya Nando saja yang mengetahuinya dan jug dokter.
Sampai saat ini dokter belum mendapatkan pendonor mata yang cocok untuk Rifal.
__ADS_1
Nando melarang megatakan tentang kondisi Rifal pada Valen hingga pendonor mata merek dapatkan, jika Valen tau dia akan semakin terluka apa lagi kondisinya sedang hamil